Bisnis & Ekonomi

APPBI: 95% Konsumen Pusat Belanja dari Kelas Menengah Bawah, Promo Dinilai Jadi Kunci saat Daya Beli Tertekan

×

APPBI: 95% Konsumen Pusat Belanja dari Kelas Menengah Bawah, Promo Dinilai Jadi Kunci saat Daya Beli Tertekan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: In This Economy Kelas Menengah Bawah Masih Mendominasi Pusat Perbelanjaan, Program Promo Dinilai Penting

jurnalistik.co.id – Pusat perbelanjaan di Indonesia tidak hanya bekerja sebagai ruang aktivitas belanja, tetapi juga ikut mencerminkan siapa yang paling sering berkunjung dan seberapa kuat daya beli masyarakat. Dalam konteks itu, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menilai komposisi pengunjung didominasi kelompok kelas menengah bawah.

Ketua Umum APPBI Alphonzus Wijaja menyampaikan bahwa struktur pasar pusat perbelanjaan di dalam negeri lebih banyak diisi oleh konsumen dari segmen kelas menengah bawah dibandingkan kelompok kelas atas. Pernyataan tersebut ia sampaikan pada Pembukaan Indonesia Shopping Festival 2026 di K Mall, Jakarta Utara, Jumat (8/7/2026).

Alphonzus menguraikan proporsi yang dimaksud dengan angka yang tegas. Ia mengatakan, “Pusat perbelanjaan di Indonesia itu didominasi oleh kelas menengah bawah. Jadi yang kelas atas itu sebetulnya hanya 5 persen saja, kemudian yang kelas menengah itu ada sekitar 35 persen, yang kelas bawah itu ada 60 persen,”.

Dengan komposisi tersebut, APPBI menilai sekitar 95 persen pasar pusat perbelanjaan berasal dari masyarakat kelas menengah dan bawah. Mayoritas pengunjung yang berasal dari dua segmen itu membuat program promosi dan potongan harga menjadi faktor yang semakin menentukan.

Alphonzus juga menegaskan manfaat program belanja berbasis promo bagi segmen yang lebih besar tersebut. Ia menyebut, “Data tersebut menunjukkan bahwa sebetulnya pusat perbelanjaan di Indonesia itu didominasi 95% oleh kelas menengah bawah. Artinya program ISF ini sebetulnya sangat bermanfaat untuk masyarakat kelas menengah bawah,”.

Ia menambahkan bahwa besarnya porsi kelas menengah bawah memang berkaitan dengan karakter pasar Indonesia yang cenderung memiliki pangsa terbesar pada segmen tersebut. “Memang pangsa market segmen pasar Indonesia didominasi oleh kelas menengah bawah. Makanya pusat perbelanjaannya pun lebih banyak di kelas menengah bawah,” ujarnya.

Tekanan terhadap daya beli menjadi salah satu alasan mengapa program belanja seperti Indonesia Shopping Festival (ISF) dipandang penting. Saat konsumen merasakan tantangan dalam belanja harian, opsi harga yang lebih terjangkau lewat promosi dinilai dapat membantu mereka tetap memenuhi kebutuhan.

Dalam penjelasannya, Alphonzus menempatkan promo sebagai cara agar kesempatan berbelanja tetap terbuka bagi masyarakat yang sedang menghadapi kondisi ekonomi yang menekan. “Saya kira program ini akan sangat mendukung di tengah situasi dan kondisi masyarakat kelas menengah bawah yang masih mengalami tekanan dari sisi daya beli,” tuturnya.

Promo dan kebutuhan yang tetap harus dipenuhi

Di tengah perubahan situasi ekonomi, pusat perbelanjaan berpotensi menjadi salah satu kanal yang mempengaruhi ritme belanja masyarakat. APPBI menilai, rangkaian diskon dan promosi memberi ruang bagi konsumen untuk membeli barang kebutuhan tanpa harus menanggung seluruh beban harga pada kondisi normal.

Dengan kata lain, program semacam ISF tidak hanya dipahami sebagai ajang transaksi, tetapi juga sebagai strategi agar kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi secara lebih realistis. Dari sisi konsumen, promo diharapkan menyeimbangkan keinginan berbelanja dengan batas kemampuan yang sedang tertekan.

Penilaian ini juga selaras dengan bagaimana pusat perbelanjaan menyusun strategi pasar. Apabila mayoritas pengunjung berasal dari kelas menengah bawah, maka pilihan program promosi dan skema harga akan lebih banyak menyesuaikan karakter konsumen tersebut.

Peran pusat perbelanjaan untuk UMKM

Selain menyoroti komposisi konsumen, Alphonzus juga mengaitkan dominasi segmen kelas menengah bawah dengan keberadaan pelaku usaha yang berjualan di pusat perbelanjaan. Menurutnya, ISF tidak hanya menjadi wadah peritel, tetapi juga membuka kesempatan bagi UMKM untuk tampil dan memperkenalkan produk.

Ia menjelaskan bahwa keterkaitan tersebut terlihat dari siapa yang mengisi etalase toko-toko di pusat perbelanjaan. “Acara ini (Indonesia Shopping Festival) kalau tadi pusat perbelanjaannya didominasi oleh kelas menengah bawah, artinya juga toko-tokonya, retailer-nya adalah kelas menengah bawah dan mendukung UMKM,” kata dia.

Dengan adanya acara berbasis festival belanja, UMKM memiliki peluang untuk meningkatkan transaksi dan memperluas daya jangkau konsumen. Pada saat yang sama, konsumen dari segmen menengah bawah juga memperoleh pilihan produk yang lebih beragam di lingkungan pusat perbelanjaan.

APPBI memandang dinamika tersebut sebagai bagian dari ekosistem yang saling menguatkan: pusat perbelanjaan menyasar mayoritas pengunjung, pelaku usaha menyesuaikan kebutuhan pasar, dan promosi menjadi penggerak agar belanja tetap berjalan.

Di titik ini, ISF diposisikan sebagai program yang relevan dengan kondisi yang tengah berlangsung. Dominasi konsumen kelas menengah bawah membuat strategi harga dan promosi menjadi semakin penting, sementara ruang bagi UMKM memberi nilai tambah bagi perputaran ekonomi di lingkungan pusat perbelanjaan.

Kesimpulannya, APPBI menilai komposisi pengunjung yang mencapai 95 persen dari kelas menengah dan bawah menjadi dasar penting bagi desain program festival belanja. Saat daya beli berada dalam tekanan, promosi dan potongan harga dinilai membantu konsumen tetap memenuhi kebutuhan, sekaligus memberi peluang bagi pelaku usaha, termasuk UMKM, untuk bertahan dan berkembang.