jurnalistik.co.id – Penjualan Low Cost Green Car (LCGC) di pasar otomotif menunjukkan tren melemah pada paruh pertama 2026. Berdasarkan data Gaikindo, penjualan secara wholesales sepanjang semester I 2026 hanya mencapai 55.506 unit.
Angka tersebut turun 18,4% dibanding periode yang sama tahun lalu yang masih berada di angka 68.038 unit. Penurunan ini menjadi sinyal bahwa segmen yang sebelumnya menjadi tulang punggung pasar otomotif nasional kini menghadapi tekanan yang lebih nyata.
Menurut Marketing Director & Corporate Function Director PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Rokky Irvayandi, kondisi yang terjadi tidak bisa dibaca sebagai pelemahan yang merata di seluruh varian LCGC. Ia menjelaskan bahwa pasar LCGC perlu dipahami secara lebih rinci berdasarkan tipologi produknya.
Rokky menyebut, “Sebenarnya LCGC bukannya kurang bagus, ya.” Ia menilai masih ada koreksi, tetapi tidak semuanya bergerak dengan pola yang sama seperti sebelumnya.
Ia menambahkan, “Jadi kalau kita lihat, ya kita bagi dua.” Dengan pembagian tersebut, Rokky menilai LCGC pada kategori Multi Purpose Vehicle (MPV) relatif tidak terlalu berbeda dibanding tahun lalu.
Dalam pandangannya, pengaruhnya lebih terasa pada LCGC city car, khususnya mobil dengan karakter hatchback. Ia mengatakan perusahaan tetap menjalankan penjualan yang berada pada kisaran tertentu per bulan.
“Kami juga jualan kira-kira 2.700 sampai 3.000 unit per bulan. Ya, kira-kira di situ. Koreksi memang ada,” ujar Rokky. Meski demikian, target dan pencapaian tersebut menunjukkan pasar belum sepenuhnya menyusut tanpa ruang penyesuaian.
Lebih spesifik, Rokky menyatakan bahwa penurunan paling terlihat pada LCGC hatchback yang ukurannya lebih kecil. Ia memberi contoh perbandingan volume yang biasanya terjadi pada segmen tersebut.
“Di LCGC hatchback yang lebih kecil, itu memang agak ada penurunan. Meskipun kalau dilihat lagi, Daihatsu gimana, terkoreksi, tapi enggak terlalu besar juga.” Ia lalu menambahkan gambaran perubahan dari “yang biasanya 1.000 (unit) jadi 800 (unit).”
Sementara itu, Rokky menilai LCGC MPV seperti Sigra masih relatif mampu mempertahankan permintaan. Ia menyebut, “Sedangkan LCGC berjenis MPV yaitu Sigra, relatif masih mampu mempertahankan permintaan.”
Daya beli melemah
Berita Terkait
Rokky menjelaskan bahwa penurunan penjualan LCGC saat ini dipengaruhi oleh dua faktor utama. Faktor pertama datang dari pelemahan daya beli masyarakat.
“Dan memang kan kalau kita ngomong LCGC, LCGC itu kan banyak dipengaruhi sama, yang pertama, daya beli,” kata Rokky. Ia menilai kondisi ekonomi yang sedang berlangsung membuat daya beli menjadi lebih menantang bagi konsumen.
Dalam penjelasannya, daya beli tidak berdiri sendiri. Ia memengaruhi keputusan pembelian, terutama pada segmen yang sensitif terhadap kemampuan finansial pembeli.
“Ya, kita tahu kondisi sekarang seperti apa,” ujar Rokky, sebelum menegaskan dampaknya pada konsumen. “Daya beli juga terpengaruh,” tambahnya.
Persetujuan kredit makin ketat
Faktor kedua adalah makin ketatnya persetujuan kredit dari lembaga pembiayaan. Rokky menyampaikan bahwa saat kondisi seperti sekarang terjadi, lembaga-lembaga pembiayaan cenderung lebih selektif dalam memberikan approval kredit.
Ia menghubungkan proses tersebut dengan karakter pembelian LCGC yang umumnya mengandalkan skema pembiayaan. Karena itu, perubahan pada keputusan kredit berpengaruh langsung pada kelancaran transaksi konsumen.
“Kedua, financing itu lebih selektif,” atau intinya, lembaga pembiayaan menjadi lebih berhati-hati dalam menyetujui kredit. Dengan selektivitas tersebut, konsumen yang membutuhkan pembiayaan akan menghadapi lebih banyak tantangan ketika mengajukan kredit.
Rokky menyebut bahwa dampak paling terasa pada kendaraan dengan harga terjangkau. Ia menjelaskan bahwa segmen ini mayoritas konsumennya bertumpu pada pembiayaan, sehingga perubahan pada approval ikut menentukan pergerakan penjualan.
Dengan demikian, penurunan penjualan yang terlihat pada semester I 2026 dapat dipahami sebagai hasil pertemuan antara daya beli yang melemah dan mekanisme kredit yang makin ketat. Di tengah situasi tersebut, variasi performa LCGC tetap menunjukkan adanya perbedaan antar segmen, sebagaimana disampaikan oleh ADM melalui pengamatan terhadap MPV dan hatchback.
Secara keseluruhan, data Gaikindo menegaskan adanya koreksi kuantitas penjualan, sementara penjelasan Rokky memberikan konteks bahwa koreksi tidak identik untuk semua produk dalam kelompok LCGC. Perbedaan karakter pasar itulah yang membuat sebagian segmen masih bisa mempertahankan permintaan lebih baik dibanding yang lain.












