Bisnis & Ekonomi

Purbaya Bantah Daya Beli Tertekan, DPK Perbankan Tumbuh Double Digit

×

Purbaya Bantah Daya Beli Tertekan, DPK Perbankan Tumbuh Double Digit

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Purbaya Bantah Daya Beli Tertekan: DPK Tumbuh Double Digit - Market

jurnalistik.co.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa daya beli masyarakat tengah menurun. Ia mengatakan penilaian tersebut tidak tercermin pada indikator kepercayaan masyarakat, yaitu Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan.

Purbaya menyampaikan bantahan itu di Jakarta pada Selasa (8/9/2026). Menurutnya, gambaran pergerakan DPK justru menunjukkan arah yang mendukung keyakinan publik terhadap kondisi ekonomi.

“Kalau kita lihat DPK tumbuhnya double digit, ya? Nah, itu kan kelihatan secara agregat pertumbuhan tabungannya naik,” kata Purbaya. Pernyataan tersebut ia gunakan untuk menolak kesimpulan bahwa daya beli sedang tertekan secara umum.

DPK perbankan tetap tumbuh double digit

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat DPK perbankan pada Juli 2026 tumbuh 11,21% secara tahunan (year-on-year/yoy). Nilainya mencapai Rp10.336 triliun, meningkat dibanding pertumbuhan 10,21% yoy pada Juni 2026.

Dengan demikian, Purbaya menilai pertumbuhan DPK yang berada pada kisaran double digit dapat dibaca sebagai sinyal bahwa tabungan masyarakat bergerak positif. Ia menempatkan perkembangan tersebut sebagai bagian dari indikator tingkat kepercayaan yang ikut memantul pada perilaku menabung.

Ia juga menekankan bahwa angka agregat pertumbuhan tabungan menjadi cerminan yang terlihat ketika data DPK diperhatikan secara keseluruhan. Dari sudut pandangnya, keberlanjutan kenaikan ini tidak sejalan dengan narasi penurunan daya beli.

Komponen DPK: deposito, giro, dan tabungan

OJK mencatat, pertumbuhan DPK terbesar datang dari deposito. Deposito tumbuh 13,13% yoy pada periode Juli 2026.

Setelah deposito, giro tercatat meningkat sebesar 11,81% yoy. Sementara itu, tabungan tumbuh 8,37% secara tahunan.

Rincian ini menunjukkan bahwa komponen utama penghimpunan dana masih mencatat laju pertumbuhan yang positif. Purbaya menggunakan gambaran seperti ini untuk memperkuat pendiriannya bahwa tidak ada penurunan daya beli yang tampak dari indikator DPK.

Bagi Purbaya, penilaian atas daya beli tidak cukup hanya bersandar pada narasi umum yang beredar. Ia memilih menautkan pembahasan pada indikator yang menurutnya lebih langsung merefleksikan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi.

Dalam konteks itulah, ia menyebut pertumbuhan DPK double digit sebagai elemen penting. Ia menyatakan secara agregat pertumbuhan tabungan meningkat, sehingga bantahan terhadap isu daya beli tertekan disandarkan pada data yang tersedia.

Dengan angka OJK yang menunjukkan kenaikan pertumbuhan DPK dari 10,21% yoy pada Juni 2026 menjadi 11,21% yoy pada Juli 2026, posisi Purbaya tetap pada kesimpulan bahwa indikator kepercayaan publik tidak memperlihatkan tanda penurunan. Ia menegaskan bahwa temuan tersebut menjadi dasar untuk membantah anggapan daya beli sedang tertekan.

Dalam penjelasannya, Purbaya juga mengaitkan respons pasar perbankan dengan cara masyarakat menempatkan dana. Saat penghimpunan dana tetap mencatat pertumbuhan yang kuat, menurutnya pola tersebut sulit dipadankan dengan gambaran daya beli yang melemah secara umum, karena minat menabung dan penempatan dana justru terlihat berjalan seiring keyakinan publik.

Ia menyoroti bahwa kenaikan DPK tidak hanya bertumpu pada satu jenis produk. Deposito yang menjadi pendorong utama tumbuh 13,13% yoy, kemudian diikuti giro yang meningkat 11,81% yoy, serta tabungan yang juga bertambah 8,37% yoy. Kombinasi tiga komponen itu, dalam cara pandang Purbaya, membentuk potret yang relatif menyeluruh terhadap kondisi dana masyarakat di perbankan.

Selain melihat komposisi, Purbaya juga menekankan perubahan dari bulan sebelumnya. Pertumbuhan DPK pada Juni 2026 tercatat 10,21% yoy, lalu bergerak naik menjadi 11,21% yoy pada Juli 2026. Kenaikan dari periode ke periode inilah yang ia gunakan untuk menegaskan bahwa indikator kepercayaan tidak menunjukkan sinyal penurunan, sekaligus menjadi pijakan saat membantah narasi daya beli tertekan.