Bisnis & Ekonomi

BBM diesel Inggris menembus rekor puncak tertinggi

×

BBM diesel Inggris menembus rekor puncak tertinggi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: UK diesel price hits all-time high

jurnalistik.co.id – Harga BBM diesel di Inggris mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, menurut RAC, seiring perang di Timur Tengah terus mendorong biaya bahan bakar naik tajam.

RAC mencatat diesel kini berada di level 199.18p per liter, angka yang menempatkannya dalam “uncharted territory”. Menurut organisasi tersebut, kenaikan ini juga menjadi pengingat betapa “just how exposed the UK is to events occurring far away”.

Lonjakan ini terjadi di tengah tekanan yang lebih luas pada biaya transportasi dan rantai pasok, karena diesel menjadi bahan bakar penting untuk berbagai aktivitas ekonomi yang bergantung pada kendaraan logistik.

Kenaikan serupa juga terlihat pada harga bensin. RAC menyebut bensin saat ini berada di 174.13p per liter, dan harga masih terus bergerak naik meski kondisi pasar belum menunjukkan tanda mereda.

RAC mengaitkan lonjakan diesel dengan gangguan yang sudah berlangsung selama tujuh bulan terhadap produksi dan pengangkutan minyak mentah skala grosir di kawasan. Gangguan itu, menurut penjelasan RAC, dipicu oleh “Iran war” yang merusak alur pasokan minyak sehingga mendorong harga bahan bakar yang diproduksi dari minyak ikut melonjak.

Sebagai pembanding, rekor sebelumnya tercatat pada 199.09p per liter di bulan Juni 2022. Artinya, saat ini harga diesel sudah melewati puncak 2022 dengan kenaikan yang cukup berarti dalam periode yang masih terkait dengan konflik yang sedang berlangsung.

Dampak langsungnya terasa pada biaya operasional keluarga. RAC menyebut, biaya mengisi daya sebuah mobil keluarga rata-rata dengan diesel kini mencapai £110, atau £31 lebih tinggi dibanding saat konflik baru dimulai.

Simon Williams, kepala kebijakan RAC, mengatakan rekor diesel ini akan berimbas luas, bukan hanya pada pengendara. Ia menyatakan bahwa rekor tersebut “spells pain not only at the pumps for drivers, but for everyone who buys goods or services that rely on diesel lorries and vans”.

Menurut Williams, ketika biaya di sektor transportasi meningkat, efeknya cenderung merembet ke konsumen melalui harga barang dan layanan. Ia menegaskan, “Undoubtedly these increased costs will be passed on to consumers,” seraya menekankan adanya jalur penularan dari kenaikan biaya logistik ke harga yang akhirnya dibayar masyarakat.

Williams juga memberi gambaran mengenai kapan harga di pom bensin berpotensi menurun. Ia mengatakan harga tidak akan turun sampai ada “a sustained lower oil price – over several weeks, not days”. Dengan kata lain, penurunan yang diharapkan bukan cukup terjadi dalam hitungan hari, melainkan perlu berlangsung konsisten dalam beberapa pekan agar pasar dapat menyesuaikan.

Di tengah kondisi tersebut, RAC menempatkan rekor diesel sebagai sinyal penting tentang kerentanan ekonomi Inggris terhadap perubahan geopolitik. Pergerakan harga yang cepat menunjukkan bahwa biaya energi dapat berubah mengikuti dinamika konflik jarak jauh, lalu berdampak pada harga kebutuhan sehari-hari melalui sistem transportasi dan distribusi.

Kenaikan yang dikumpulkan RAC memperlihatkan bahwa kenaikan harga tidak berdiri sendiri, melainkan bergerak mengikuti ketegangan global yang memengaruhi pasokan minyak. Saat arus pasokan ikut terganggu, harga yang pada akhirnya muncul di pom menjadi lebih sulit diprediksi.

Dalam konteks ini, bensin yang juga ikut menanjak menjadi penegasan bahwa tekanan pasar tidak hanya menyasar satu jenis bahan bakar. RAC menunjukkan bensin kini berada di level 174.13p per liter dan tetap bergerak naik, sementara pengemudi dan pelaku usaha sama-sama harus menanggung biaya yang lebih tinggi.

Untuk pengeluaran rumah tangga, lonjakan diesel juga berarti perubahan nyata pada anggaran. RAC menggambarkan pengisian mobil keluarga dengan diesel kini rata-rata mencapai £110, atau £31 lebih mahal daripada saat konflik baru dimulai, sehingga dampaknya terasa dari hari ke hari.

Bagi mereka yang menantikan perubahan di pom bensin, RAC menegaskan bahwa penurunan membutuhkan sinyal harga minyak yang konsisten dalam beberapa pekan. Artinya, pasar perlu waktu untuk “menerjemahkan” kondisi pasokan yang membaik, bukan hanya menunggu gejolak sementara.