jurnalistik.co.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali meninjau bagaimana penetapan status Full Call Auction (FCA) diterapkan pada saham. Dalam peninjauan itu, BEI berencana mengubah komposisi kriteria yang menjadi dasar pengkategorian.
Menurut BEI, perhatian akan dipusatkan pada kondisi yang bersifat fundamental. Dengan pendekatan tersebut, unsur yang dinilai tidak memberikan dampak perbaikan bagi kualitas perdagangan akan dipangkas dari mekanisme penetapan FCA.
Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi menyampaikan bahwa penerapan FCA akan difokuskan pada fundamental saham. Ia menekankan bahwa kriteria yang digunakan harus berkaitan dengan hal-hal yang dapat mendukung perbaikan kondisi fundamental yang relevan.
Iding menjelaskan bahwa tidak semua kriteria yang selama ini dipakai akan dipertahankan. Sejumlah kriteria yang dinilai tidak membawa perubahan terhadap likuiditas ketika suatu saham masuk FCA akan dikeluarkan dari pertimbangan.
“Untuk FCA kita akan fokus ke fundamental saja. Jadi yang meningkatkan fundamental untuk yang terkait itu nanti kita akan setidaknya sesuai dengan kriterianya,” kata Iding kepada wartawan di BEI, Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Dalam pernyataan tersebut, inti arah penyesuaian adalah penyelarasan antara tujuan FCA dan kualitas indikator yang digunakan. BEI menilai bahwa mekanisme FCA seharusnya merespons aspek fundamental, bukan faktor yang tidak memperbaiki kondisi perdagangan.
BEI juga menegaskan bahwa perubahan ini tidak dimaksudkan untuk menghapus aturan FCA, melainkan memperbarui cara penentuan kriteria saham yang masuk mekanisme tersebut. Dengan kata lain, kerangka FCA tetap berjalan, sementara penyaringannya akan diperketat pada bagian yang dianggap relevan terhadap fundamental.
Iding menempatkan pembaruan kriteria sebagai bagian dari evaluasi berkelanjutan terhadap efektivitas mekanisme. Fokus pada fundamental diposisikan sebagai cara untuk memastikan bahwa pengaturan FCA benar-benar memberi kontribusi pada kondisi yang diharapkan.
Berita Terkait
Dalam pandangan BEI, kriteria nonfundamental yang tidak menunjukkan peningkatan likuiditas ketika saham berstatus FCA tidak akan dipertahankan. Pernyataan ini memberi sinyal bahwa BEI akan lebih selektif dalam mempertimbangkan indikator yang digunakan untuk mengkategorikan saham.
Langkah revisi kriteria tersebut juga dapat dibaca sebagai upaya menjaga agar tujuan mekanisme FCA tetap sejalan dengan kriteria yang menggerakkan statusnya. Dengan mengurangi unsur yang dinilai tidak meningkatkan likuiditas, BEI berupaya membuat penetapan FCA lebih berorientasi pada perbaikan yang terkait fundamental saham.
BEI, melalui Direktur Pengembangan Iding Pardi, menegaskan bahwa keputusan pembaruan ini datang dari evaluasi atas kriteria yang sebelumnya dinilai kurang memberikan perbaikan pada likuiditas. Pembaruan ini pada akhirnya diarahkan agar saham yang masuk FCA ditentukan oleh faktor yang dianggap dapat mendukung fundamental.
Dengan demikian, BEI menempatkan FCA sebagai mekanisme yang akan dijalankan dengan standar yang lebih terukur. Fokus fundamental dan penghapusan kriteria yang tidak memperbaiki likuiditas menjadi benang merah dalam rencana penyesuaian tersebut.
Selain penajaman fokus, BEI juga menegaskan bahwa pembenahan ini menyasar kualitas indikator yang dipakai saat menentukan apakah suatu saham masuk dalam FCA. Artinya, BEI menghendaki setiap penetapan status memiliki dasar penilaian yang benar-benar terhubung dengan kondisi fundamental.
Menurut arah yang disampaikan, kriteria yang selama ini dinilai tidak memberi efek nyata pada perbaikan likuiditas tidak lagi menjadi bagian dari pertimbangan. Dengan pemangkasan tersebut, proses FCA diharapkan lebih cepat mengarahkan saham pada kerangka pengaturan yang substansinya sejalan dengan tujuan mekanisme.
BEI memposisikan revisi kriteria sebagai mekanisme penyempurnaan yang bersifat berkelanjutan. Evaluasi dilakukan agar penerapan FCA tidak hanya berjalan sebagai aturan prosedural, tetapi juga tetap efektif dalam menjawab kebutuhan pasar melalui indikator yang dianggap relevan untuk fundamental saham.
Dengan pendekatan yang lebih selektif, BEI berupaya mengurangi kemungkinan penerapan FCA pada saham yang indikatornya tidak menunjukkan peningkatan likuiditas. Konsistensi antara sasaran FCA dan ukuran yang dipakai menjadi bagian penting dari pengetatan kriteria yang direncanakan.












