jurnalistik.co.id – Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) bergerak agresif dan menembus zona Auto Reject Atas (ARA) setelah Andi Syamsuddin Arsyad, yang akrab disapa Haji Isam, resmi mengikat perjanjian jual beli saham dengan pengendali perseroan, termasuk rencana mengambil porsi 30%.
Penguatan itu langsung tercermin pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Mengacu data bursa, BYAN mencatat kenaikan 2.300 poin atau setara menguat 19,96% hingga batas ARA di level Rp13.825 per saham.
Pergerakan BYAN berlangsung hingga batas ARA pada sesi perdagangan berikutnya. Pada Jumat, 18 September 2026, kenaikan tersebut terjadi sampai perdagangan Sesi II pada siang hari.
Lonjakan hingga batas ARA
Di awal perdagangan, saham BYAN sudah menunjukkan tanda penguatan. Saham dibuka menguat, lalu langsung melompat ke harga tertinggi Rp13.825 per saham yang sekaligus menjadi batas pergerakan di zona ARA.
Setelah lonjakan tersebut, pergerakan masih tetap mengukuh sampai menyentuh batas ARA. Pola pergerakan harga ini menunjukkan respons pasar yang cepat terhadap kabar terkait perjanjian jual beli saham yang diikat oleh Haji Isam.
Aktivitas transaksi ikut meningkat
Lonjakan harga BYAN juga diiringi aktivitas transaksi yang cukup menonjol. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp135 miliar setelah BYAN diperdagangkan sebanyak 9,79 juta saham.
Dari sisi frekuensi perdagangan, transaksi terjadi sebanyak-banyaknya 5.377 kali. Angka frekuensi ini menggambarkan terjadinya aktivitas jual-beli yang intens selama pergerakan menuju dan saat berada di batas ARA.
Bid order book padat
Berita Terkait
Selain pergerakan harga dan volume, bid order book di level harga saat ini terpantau amat masif. Antrean beli menyentuh 14.878 lot, atau setara Rp20,56 miliar jika dihitung berdasarkan nilai kertas pada level tersebut.
Kepadatan order beli itu selaras dengan kondisi saham yang menembus batas ARA. Ketika permintaan di antrean beli menguat pada level harga yang sama, harga cenderung lebih sulit kembali turun dan tetap bertahan pada area batas pergerakan.
Konteks bisnis Bayan Group
Di luar dinamika perdagangan harian, Bayan Group juga terkait dengan aset operasional batu bara. Balikpapan Coal Terminal (BCT) dimiliki dan dioperasikan oleh Bayan Group, sebagaimana disebutkan dalam materi informasi perseroan.
Dengan latar tersebut, perhatian pasar pada BYAN pada hari ini bukan hanya pada pergerakan jangka pendek. Namun respons harga yang cepat tetap menempatkan perjanjian jual beli saham sebagai pemicu utama yang mendorong eskalasi aktivitas perdagangan.
Secara keseluruhan, BYAN menguat hingga menembus batas ARA di Rp13.825 per saham dengan kenaikan 2.300 poin atau 19,96%. Nilai transaksi mencapai Rp135 miliar dengan volume 9,79 juta saham dan frekuensi 5.377 kali, sementara bid order book tercatat 14.878 lot atau setara Rp20,56 miliar.
Pergerakan tersebut terjadi setelah Haji Isam mengikat perjanjian jual beli saham dengan pengendali perseroan. Dalam perjanjian tersebut, Haji Isam disebut siap mengambil porsi 30%, yang kemudian tercermin dalam respons pasar selama perdagangan Jumat, 18 September 2026.
Uji batas ARA yang ditembus BYAN juga menggambarkan bagaimana batas kenaikan menjadi penentu psikologi pelaku pasar. Saat harga sudah berada di kisaran Rp13.825, pergerakan berikutnya cenderung lebih berhati-hati, namun tetap menunjukkan kecenderungan bertahan karena pelaku bursa merespons kabar perjanjian jual beli saham yang diikat Haji Isam.
Selain angka-angka utama, kombinasi nilai transaksi Rp135 miliar, volume 9,79 juta saham, dan frekuensi 5.377 kali menegaskan adanya aktivitas yang tidak berhenti pada satu-dua momen. Data tersebut menunjukkan pergantian tangan saham yang relatif sering selama periode pergerakan menuju dan saat menyentuh batas ARA, sementara antrean beli 14.878 lot menjadi penopang permintaan pada level harga yang sama.
Dalam kerangka yang lebih luas, konteks bisnis Bayan Group yang terkait aset batu bara melalui Balikpapan Coal Terminal (BCT) turut memberi sinyal bahwa pasar memandang BYAN bukan semata-mata sebagai cerita sesaat. Namun, pada hari Jumat, 18 September 2026, fokus utama tetap tertuju pada respons cepat terhadap komitmen pengambilalihan porsi 30% dalam perjanjian yang disebutkan, yang kemudian tercermin pada kenaikan hingga zona ARA dan intensitas transaksi di bursa.












