jurnalistik.co.id – Biaya pinjaman global kembali menembus rekor baru seiring meningkatnya imbal hasil obligasi, terutama didorong oleh kekhawatiran inflasi, kondisi utang pemerintah, serta belanja yang terus mengalir ke ekosistem kecerdasan buatan (AI).
Pada Selasa, suku bunga untuk instrumen pinjaman jangka panjang AS tenor 30 tahun mencapai 5,33%. Angka itu menjadi level tertinggi sejak Juni 2007. Di saat yang sama, utang jangka panjang Inggris tercatat mencapai 5,85%, dan pergerakan serupa juga terlihat di Jerman serta Jepang.
Dalam pasar obligasi, imbal hasil tersebut dikenal sebagai yield. Yield memiliki pengaruh langsung terhadap biaya pinjaman yang kemudian dirasakan konsumen, termasuk pada kredit hipotek, pinjaman kendaraan, dan kartu kredit.
Pendorong utama lonjakan yield belakangan ini adalah kenaikan harga minyak. Lonjakan minyak memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi dapat kembali meningkat, sehingga bank sentral mungkin memilih untuk menaikkan suku bunga guna meredam tekanan inflasi.
Selasa, patokan harga minyak dunia Brent untuk acuan global bergerak melewati level $90 per barel. Pemicu kenaikan tersebut terkait meningkatnya tensi konflik di Timur Tengah.
Lonjakan harga minyak datang setelah Presiden Donald Trump mengancam akan membombardir Oman—sekutu AS—jika negara itu “gets in the way” dari pembicaraan untuk membuka kembali Jalur Selat Hormuz. Jalur ini merupakan akses vital bagi pasokan minyak global dan perdagangan lainnya.
AS dan Oman, menurut laporan yang sama, sama-sama menjalankan perundingan secara terpisah dengan pemerintah Iran untuk membuka kembali jalur tersebut. Selat Hormuz telah mengalami penutupan yang berlangsung hampir enam bulan akibat perang AS–Israel dengan Iran.
Gangguan pasokan yang terjadi dari penutupan jalur itu berkontribusi pada naiknya harga minyak. Dampaknya tidak berhenti pada bahan bakar, tetapi juga dapat merambat ke harga berbagai barang ketika biaya transportasi dan distribusi ikut terdorong naik.
Ketika harga minyak berada pada level tinggi, perusahaan cenderung meneruskan biaya tambahan kepada konsumen. Kondisi ini berpotensi mendorong inflasi secara lebih luas.
John Canavan, analis utama Oxford Economics, menyampaikan kepada BBC bahwa risiko inflasi yang muncul dari harga minyak yang lebih tinggi, di samping tingginya utang pemerintah, serta ketidakpastian seputar besarnya dana yang tengah diinvestasikan untuk AI—dan kapan investasi tersebut akan menghasilkan imbal balik—turut berperan dalam kenaikan biaya pinjaman.
Canavan menilai situasi ini dapat bermuara pada meningkatnya tarif hipotek dan biaya pinjaman untuk kredit kendaraan bagi konsumen. Ia juga memperingatkan bahwa yield yang lebih tinggi berarti perusahaan mungkin harus membayar lebih mahal saat meminjam uang, dan sebagian biaya itu berpotensi diteruskan kepada pelanggan.
Berita Terkait
“It adds to the overall inflationary impact,” ujarnya.
Dalam jangka lebih panjang, Canavan menambahkan bahwa risiko inflasi yang lebih tinggi dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, yield juga mencerminkan preferensi investor obligasi. Investor pada umumnya menuntut imbal hasil lebih tinggi jika inflasi dianggap tinggi, atau jika mereka memperkirakan inflasi akan tetap berada pada level yang lebih tinggi di masa depan.
Skema obligasi sendiri, menurut penjelasan dalam laporan, bekerja seperti berikut: pemerintah maupun korporasi menjual obligasi—pada dasarnya merupakan janji bayar (IOU)—untuk menghimpun dana. Sebagai imbalannya, mereka membayar bunga selama periode tertentu.
Selain kekhawatiran inflasi, Canavan menyebut adanya “push back” yang muncul dari investor obligasi di berbagai belahan dunia. Penolakan itu berkaitan dengan kebijakan keuangan dan rencana belanja sejumlah pemerintah yang dinilai terlalu luas atau agresif.
Di Inggris, kondisi finansial dan tingkat utang yang tinggi mendorong Perdana Menteri Andy Burnham untuk meyakinkan pasar obligasi bahwa pemerintah tetap berkomitmen pada batas pinjaman yang berlaku, yang dikenal sebagai “fiscal rules”.
Biaya pinjaman sebelumnya sempat bergerak naik tipis ketika Burnham mengambil alih kepemimpinan Partai Buruh musim panas ini dari Sir Keir Starmer. Sebelum komitmen terhadap aturan fiskal, investor sempat menilai Burnham lebih mungkin menaikkan tingkat pinjaman publik Inggris yang sudah tinggi, terutama setelah komentar tahun lalu bahwa Inggris harus “get beyond this thing of being in hock to the bond markets”.
Canavan juga menilai biaya pinjaman jangka panjang di AS turut didorong oleh “record pace” aktivitas pinjaman korporasi dalam beberapa minggu terakhir. Pinjaman tersebut, sebagian besar, diarahkan untuk pengembangan dan pembangunan infrastruktur AI serta pusat data.
Namun, ketidakpastian atas ratusan miliar dolar yang ditanamkan untuk AI, bersamaan dengan potensi risiko yang menyertainya, membuat investor menuntut imbal hasil yang lebih tinggi saat memberikan pinjaman.
Kim Forrest, chief investment officer di Bokeh Capital Partners, menyatakan bahwa kenaikan yield membuat pasar merasa cemas. “The yields are troubling people because it portends a tighter environment and it’s going to be more expensive to borrow money,” katanya.
“Especially in this whole AI thing where time to pay it back is uncertain. It makes for a nervous investor environment.”












