jurnalistik.co.id – John McGinn berada di titik yang menuntut lebih dari sekadar pengalaman: ia perlu kembali menemukan wujud terbaiknya untuk membawa Skotlandia maju.
Di Skopje, beberapa hari terakhir terasa seperti dua keyakinan hidup berdampingan—sebagian warga memusatkan doa pada Mother Teresa, sementara rombongan Skotlandia datang membawa harapan pada nama yang mereka yakini bisa mengubah pertandingan, Saint John McGinn.
McGinn sendiri menatap akhir pekan ini dengan statistik yang membuatnya sulit diabaikan. Ia telah mencetak 21 gol dalam 91 penampilan untuk Skotlandia, dan setelah pertandingan Sabtu nanti ia diperkirakan mencapai 92 caps.
Posisi itu menempatkannya di urutan ketiga daftar penampilan terbanyak sepanjang masa Skotlandia. Pada saat yang sama, ia masih duduk di peringkat kelima pencetak gol terbanyak, hanya berjarak satu langkah dari Lawrie Reilly.
Namun, ada ritme yang terasa berubah. Saat Andy Robertson bersiap meraih caps ke-100 akhir pekan ini, McGinn berada dalam jarak yang sangat dekat, tetapi performa internasionalnya kebetulan tidak sedang berada di puncak.
“The nature of the beast is, at club and country, you have a lot of responsibility, a lot of weight on your shoulders,” ujar McGinn saat berbicara tentang tekanan yang selalu menyertai perannya. Ia menambahkan, “When you do something well, you’re the best thing since sliced bread. When you don’t have a great couple of games, or you’re not producing assists, or you make a poor pass in a pivotal moment of the game, you’re automatically not good enough.”
Ia juga mengaitkan situasi itu dengan fase usianya—McGinn akan menginjak 32 pada bulan ini—serta dengan kenyataan bahwa ia bersaing baik di level Skotlandia maupun bersama Aston Villa. “It’s the nature of being my age (he’ll be 32 later in the month). It’s the nature of competing with Scotland and with Aston Villa,” katanya.
Bagi banyak pendukung, masa tenangnya di level tim nasional mungkin terasa terlalu panjang. Meski demikian, McGinn menegaskan bahwa ia bukan sosok yang harus selalu jadi jawaban instan setiap kali seragam Skotlandia dipakai.
Ia mengingatkan bahwa tidak ada pemain yang kebal dari persaingan. “No, no. I’m certainly not undroppable, ” jawabnya saat ditanya apakah ia tidak mungkin tersisih. Ia bercerita, “I remember Steve Clarke put me on the bench and I had absolutely no issue with that. I don’t think anyone in the squad is undroppable.”
Menurutnya, tantangan itu justru bagian dari proses. “The challenge to anyone coming into the squad and I encourage that challenge. The competition is always there, whether that’s someone who’s 20, 21 or in their 30s. The best players will play for Scotland.”
McGinn juga menegaskan bahwa peran apa pun yang diberikan tetap merupakan tugas mewakili negara. “If the manager said to me, ‘You’re on the bench, I need you for five minutes, ten minutes, zero minutes or 90-plus’, we’re here to represent Scotland.”
Ia menambahkan bahwa tradisi keberhasilan Skotlandia selama bertahun-tahun dibangun dari cara mereka memandang seragam tersebut. “The thing that’s made us so successful over the years is that it doesn’t matter if you play for Aston Villa, Motherwell, Hibs, St Mirren, anyone. You represent Scotland and at the end of the day the best team will take to the pitch. If that’s a team without me in it, I’ll be the biggest Scotland supporter on the bench.”
Lalu, apa yang menjaga semangatnya tetap menyala? “What keeps me going is how I felt on that first night (his 2016 debut) against Denmark – the pride, the emotion. When you’re picked to play for your country, you never know when it’s going to be your last, so you don’t take it for granted.”
Ia memberi penegasan lain yang terdengar seperti pengingat bahwa peluang tidak selalu datang berkali-kali. “Quite possibly tomorrow night, you never know. It could be the last time you’re chosen.”
Berita Terkait
Di saat yang sama, McGinn tidak datang dari reputasi yang baru tumbuh. Riwayatnya dengan St Mirren dan Hibs membangun fondasi statusnya, tetapi momen terbesarnya dalam dekade terakhir terasa semakin mengakar saat di Aston Villa.
Kariernya bersama klub itu—menurut cerita yang muncul dari percakapan para pendukung—membawa dampak yang berlapis. Ia dikreditkan sebagai sosok yang mengantar Villa keluar dari Championship pada 2019, lalu membantu menjaga mereka tetap di Premier League pada 2020.
Ia juga disebut berperan menarik tim dari posisi 17 ke 11, kemudian 14, 7, hingga 4 di kompetisi papan atas Inggris. Dari sana, langkah berikutnya adalah membawa Villa kembali ke sepak bola Liga Champions.
Dalam masa yang lebih baru, McGinn diposisikan sebagai kapten yang tinggal dan memimpin saat momen besar datang. Ia juga disebut mencetak gol saat Villa meraih trofi Eropa musim lalu dan memecahkan rekor pencetak gol Eropa klub tersebut.
Beberapa nama lain disebut tidak melakukan hal serupa—Jack Grealish, Douglas Luiz, Ollie Watkins, Emi Martinez, serta Youri Tielemans—sementara McGinn dianggap bagian dari fondasi yang tetap bertahan.
Di ruang-ruang diskusi para penggemar, ia bahkan dipanggil sebagai kapten terbaik Villa sejak Dennis Mortimer. Mortimer, sebagaimana diulas, memimpin tim yang memenangi liga pada 1981 dan skuad yang merebut European Cup pada 1982—sebuah perbandingan yang sekaligus menjadi pujian.
Jika ditanya apa yang membentuk seorang legenda, McGinn merespons lewat pendekatan sikap. Dalam salah satu kutipan yang beredar, kualitas itu dirangkum sebagai: “Humility”, “determination”, “tenacity”, “leadership”, “longevity”, “success.”
Seorang pengamat menyebutnya layak ditempatkan di depan siapa pun dari generasi abad ini, hingga melampaui beberapa legenda era sebelumnya. Ada pula komentar lain yang berbunyi bahwa kelak putra pertamanya akan menanyakan pengalaman menonton McGinn, dengan kalimat, “What was it like watching John McGinn?”
McGinn juga mengaku bahwa ia tidak lagi mudah terpengaruh pujian maupun kritik yang datang. “If I was younger, I would have been straight on Instagram or straight on Twitter,” tambahnya. “Everyone’s entitled to their opinion, but at the end of the day, you keep your head down, you keep working hard.”
Ia menguraikan cara bertahan ketika performa tidak berjalan mulus. “If you go through a barren spell or you go through a spell where you’re not doing too well, you need to find that inner self-belief, which I feel like I have. The older you get, you learn how to manage tough moments better. They get worse, though.”
Ia menegaskan perubahan cara menghadapi momen sulit seiring bertambahnya usia. “The lows get lower and the highs become less high. But you certainly deal with it a lot better when you’re older.”
Ia bahkan menyinggung kebiasaan setelah pertandingan. “You know after a game like Switzerland, do you turn the telly on? No. Do you listen to radio reports? Nope. But if it’s 3-0 to Scotland, I would be lying if I said I wouldn’t listen to some of it.”
Dorongan untuk mengikuti jejak Robertson juga digambarkan sebagai insentif besar. “Eight to go after North Macedonia,” sementara harapan berikutnya adalah lahirnya kilatan-kilatan tambahan dari McGinn.
Meski internasional saat ini bisa disebut sedang berada dalam jeda, McGinn tetap dipandang sebagai sosok yang masih menyimpan kemampuan untuk menjawab momen-momen besar yang menuntut ketenangan dan ketajaman.












