Bisnis & Ekonomi

Masa Depan Rupiah Bulan Ini: Sanggup Menembus Rp18.000 per US$?

×

Masa Depan Rupiah Bulan Ini: Sanggup Menembus Rp18.000 per US$?

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – Rupiah pada Oktober berisiko menghadapi tekanan baru yang membuat mata uang Garuda sulit kembali stabil. Setelah sempat menyentuh level kunci, pergerakan terkini menunjukkan pelemahan yang belum sepenuhnya mereda.

Pada sesi Selasa (29/9/2026), rupiah sempat menembus Rp18.000 per US$ dalam pergerakan intraday. Namun saat memasuki bulan baru, mata uang itu bergerak dengan kecenderungan melemah, seiring tekanan yang masih terasa di pasar.

Kemarin, rupiah mengawali Oktober dengan pelemahan 0,45% menjadi Rp17.957 per US$. Sepanjang September, mata uang Nusantara juga mengalami pelemahan 0,81%, menandakan rangkaian tekanan masih berlanjut dari bulan sebelumnya.

Jika menoleh data historis Bloomberg, rupiah di lima tahun terakhir menunjukkan pola yang cenderung sama tiap memasuki Oktober. Dalam periode tersebut, rupiah selalu melemah di bulan Oktober, sehingga investor cenderung melihat bulan ini sebagai periode yang rawan bagi mata uang domestik.

Tahun lalu, rupiah memulai Oktober dari Rp16.540 per US$ lalu menutup bulan tersebut di Rp16.630 per US$. Meski tetap terjadi pelemahan, pergerakannya tergolong terbatas, tercermin dari pelemahan 0,18% selama Oktober.

Pada 2024, gambaran lebih berat terlihat saat rupiah ambruk 3,17% sepanjang Oktober. Pada periode yang sama, rupiah juga terdepresiasi 2,23%, memperlihatkan bahwa tekanan pada tahun tersebut lebih dalam daripada tahun sebelumnya.

Lebih jauh ke belakang, pada Oktober 2022 rupiah jatuh 1,89%. Sementara itu, hanya pada 2021 arah pergerakan berbalik karena rupiah justru menguat, meski besarnya relatif kecil yaitu 0,19% selama Oktober.

Dari sisi pemicu, pelemahan rupiah yang tercatat dalam sejarah Oktober dikaitkan dengan tekanan global terhadap nilai tukar. Salah satu faktor yang disebut adalah fase pengetatan agresif bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, untuk meredam inflasi.

Dalam konteks itu, ketika The Fed berada pada mode pengetatan, kondisi finansial global cenderung menjadi lebih menantang bagi aset berisiko maupun mata uang emerging market. Akibatnya, arah arus modal dan ekspektasi pasar dapat menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, sehingga peluang untuk menembus Rp18.000 per US$ kembali menjadi tidak otomatis.

Bagi pelaku pasar, sinyal historis tersebut memperkuat kewaspadaan pada bulan Oktober. Meski rupiah pernah menembus Rp18.000 per US$ pada 29/9/2026, langkah berikutnya menunjukkan bahwa ruang untuk mempertahankan kenaikan masih terbatas selama tekanan global belum mereda.

Dengan pelemahan awal Oktober sebesar 0,45% dan jejak pelemahan 0,81% di September, pasar tampak masih berada dalam fase penyesuaian. Apabila The Fed tetap mempertahankan kebijakan pengetatan agresifnya, tekanan terhadap rupiah berpotensi terus membayangi pergerakan harian, setidaknya hingga arah pasar mulai menunjukkan perubahan yang lebih jelas.

Dengan latar tersebut, perhatian pelaku pasar pada Oktober tidak hanya bersifat reaksi harian, melainkan juga cenderung dibentuk oleh kebiasaan pergerakan sebelumnya. Ketika pola pelemahan berulang terlihat dalam rentang lima tahun terakhir, banyak pelaku menempatkan bulan ini sebagai fase yang butuh kehati-hatian ekstra, sehingga setiap peluang penguatan diperlakukan sebagai sesuatu yang belum tentu bertahan lama.

Di saat yang sama, catatan pergerakan rupiah yang pernah menyentuh level kunci menunjukkan bahwa tekanan yang muncul tidak hilang dalam sekali putaran. Momentum bisa saja mendorong rupiah bergerak lebih tinggi secara intraday, namun arah berikutnya tetap dipengaruhi kondisi yang lebih luas. Selama pasar global masih dibayangi pengetatan, ekspektasi arus modal dan persepsi risiko dapat membuat kenaikan rupiah lebih sulit dikonsolidasikan.

Karena itu, sebagian risiko yang membayangi Oktober berhubungan dengan “dampak berantai” dari kebijakan pengetatan Federal Reserve terhadap kondisi finansial global. Saat biaya dan kondisi likuiditas cenderung lebih menantang, aset berisiko maupun mata uang emerging market umumnya tidak mendapat dukungan yang stabil. Akibatnya, ruang bagi rupiah untuk mempertahankan pergerakan lebih baik bisa tetap sempit, sampai tanda perubahan yang lebih jelas mulai terlihat di arah kebijakan dan sentimen pasar.