jurnalistik.co.id – Lindsay Clancy disebut âmemohon pertolonganâ sebelum membunuh tiga anaknya, berdasarkan kesaksian dari pihak keluarga dalam persidangan pembunuhan di Massachusetts.
Pembelaan tidak membantah bahwa Clancy melakukan pembunuhan tersebut, namun menegaskan ia tidak bersalah atas dakwaan pembunuhan. Jaksa, sebaliknya, menyodorkan pandangan bahwa tindakan itu merupakan keputusan yang disengaja.
Dalam kesaksian yang disampaikan Selasa, mantan ibu mertua Clancy, Susan Clancy, menceritakan perubahan kondisi mental yang ia lihat menjelang peristiwa. Susan mengatakan Clancy mengalami gangguan tidur dan kemerosotan nafsu makan, disertai suasana hati yang labil.
Susan menuturkan Clancy âShe had insomnia. She was losing her appetite,â serta menambahkan bahwa âShe was very anxious and sad.â Ia menggambarkan Clancy sebagai sosok yang saat itu berada dalam tekanan emosional yang berat.
Ketika ditanya pengacara pembela apakah Clancy âhad been âinterested at all times in trying to get better and see doctorsââ, Susan menjawab, âVery much so.â Menurut kesaksian tersebut, Clancy berusaha mencari perbaikan melalui bantuan medis.
Susan juga menyebut Clancy âbegging for help,â seraya menggambarkan dirinya sebagai orang yang âvery nurturing, very loving.â Kesaksian ini muncul untuk menekankan bahwa, sebelum peristiwa, Clancy diyakini berada dalam kondisi yang membutuhkan pertolongan.
Pihak pembela berargumen bahwa Clancy mengalami postpartum psychosis pada saat kejadian. Dengan kata lain, mereka menyatakan bahwa gangguan psikosis setelah melahirkan menjadi penjelasan utama atas kondisi Clancy saat itu.
Di sisi lain, jaksa menuduh Clancy membuat keputusan yang diperhitungkan untuk membunuh anak-anaknya: Cora (5), Dawson (3), dan Callan yang berusia delapan bulan.
Jaksa menyebut pada Januari 2023, Clancy mencekik ketiga anaknya menggunakan fitness bands di rumah mereka di Massachusetts. Setelah itu, Clancy melompat dari jendela lantai dua.
Saat ini Clancy berusia 36 tahun dan mengikuti persidangan dengan kursi roda, karena ia lumpuh akibat lompatan tersebut.
Setelah tiga pekan kesaksian dari puluhan saksi, jaksa menyatakan perkara mereka selesai pada Senin. Tahap berikutnya dibuka oleh pihak pembela dengan menghadirkan cerita-cerita personal dari anggota keluarga.
Berita Terkait
Dari kesaksian pihak keluarga, ibu kandung Clancy, Paula Musgrove, menggambarkan bahwa Clancy âalways wanted to be a mother, have many children.â Paula menilai keinginan itu adalah hal terbaik yang pernah terjadi bagi Clancy.
Namun Paula menceritakan bahwa setelah melahirkan, Clancy mulai mengalami persoalan tidur dan kemudian mengirim pesan singkat. Dalam kesaksian, Paula mengatakan Clancy mengirim teks bahwa ia âreally sick.â
Paula juga menuturkan bahwa sekitar sebulan sebelum kejadian pembunuhan, Clancy datang kepadanya bersama suami saat itu, Patrick Clancy. Menurut Paula, Clancy menyampaikan bahwa ia memiliki pikiran untuk menyakiti anak-anak.
Paula menyatakan Clancy, yang bekerja sebagai perawat, pernah berkata kepadanya, âThis isn’t me, I’ve never been like this before.â Paula mengatakan ia sepakat dengan penilaian itu, dengan alasan bahwa kondisi Clancy saat itu terasa berbeda dari biasanya.
Kesaksian lain yang muncul dari pihak pembela menegaskan adanya gangguan psikologis setelah kelahiran Callan. Mereka menyatakan Clancy mengalami halusinasi dan delusi pasca melahirkan, sekaligus menjalani perawatan medis untuk masalah kejiwaan.
Clancy juga disebut sempat memeriksa diri ke rumah sakit jiwa selama beberapa hari tepat sebelum kematian ketiga anaknya. Narasi ini diajukan untuk mendukung argumentasi bahwa Clancy berada dalam krisis mental yang serius pada masa-masa genting sebelum peristiwa.
Sementara itu, kesaksian dari saudari Clancy, Allison Ozga, menyatakan bahwa Clancy mengalami pikiran untuk bunuh diri setiap hari selama bulan menjelang pembunuhan. Keterangan itu disampaikan sebagai bagian dari gambaran kondisi yang terus memburuk.
Dalam dakwaan, Clancy menghadapi tiga hitungan pembunuhan tingkat pertama. Sidang ini mempertentangkan dua versi besar: satu pihak menekankan adanya gangguan postpartum psychosis, sedangkan pihak lain menilai ada keputusan yang disengaja untuk melukai anak-anak.
Rujukan definisi gangguan psikosis setelah melahirkan juga disinggung dalam persidangan. NHS menyebut postpartum psychosis sebagai ârare serious mental health illnessâ yang dapat menyerang seseorang segera setelah melahirkan.
NHS menambahkan bahwa kondisi tersebut berbeda dari âthe ‘baby blues’â dan menyatakan, âIt’s a serious mental illness and should be treated as a medical emergency.â
Di tengah perdebatan itu, inti kesaksian pihak keluarga berpusat pada kemerosotan kesehatan mental Clancy dan upaya mencari pertolongan. Para saksi menggambarkan Clancy berada dalam kondisi cemas, sulit tidur, kehilangan nafsu makan, serta menyampaikan tanda-tanda bahwa ia sedang tidak dalam keadaan dirinya sendiri.
Dalam gambaran yang disampaikan, permohonan bantuan tersebut muncul sebelum tindakan fatal dilakukan. Persidangan kemudian berlanjut untuk menilai apakah kondisi psikologis Clancy pada saat kejadian dapat dipertanggungjawabkan sebagai postpartum psychosis, atau justru memenuhi kriteria dakwaan yang diajukan jaksa.












