Bisnis & Ekonomi

BRI (BBRI) Jaga Likuiditas untuk Mendukung DPK Tumbuh 6,7%

×

BRI (BBRI) Jaga Likuiditas untuk Mendukung DPK Tumbuh 6,7%

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Strategi BRI (BBRI) Jaga Likuiditas - Market

jurnalistik.co.id – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menempatkan kebijakan penyaluran kredit dengan tetap menjaga daya dukung likuiditas. Di saat yang sama, perseroan juga memastikan pertumbuhan penghimpunan dana berjalan seiring kebutuhan intermediasi.

Komposisi likuiditas tersebut tercermin pada kinerja loan to deposit ratio (LDR). Hingga Juni 2026, LDR BRI berada di level 90,8%, sementara LDR industri perbankan diposisikan pada 88,3% pada kuartal II 2026.

Wakil Direktur Utama BRI, Viviana Dyah Ayu Retno, menilai selisih tersebut menunjukkan bahwa kondisi likuiditas nasional masih dapat dikategorikan memadai. Meski begitu, perseroan tidak mengendurkan kewaspadaan terhadap dinamika yang berpotensi memengaruhi likuiditas pada periode berikutnya.

“Kalau kita lihat angka tadi 88,3% kemudian BRI-nya 90,8%, sebenarnya likuiditas perbankan nasional ini pasti bisa kita katakan pada level yang memadai. Namun demikian kita tentunya masih harus terus mewaspadai terkait dengan dinamika likuiditas sampai dengan akhir tahun,” ujar Viviana dalam konferensi pers Paparan Kinerja Triwulan II 2026 secara daring pada Senin (31/8/2026).

Dari sisi dana yang dihimpun, DPK BRI tercatat mencapai Rp1.580,7 triliun. DPK tersebut tumbuh 6,7% secara tahunan, sehingga memperkuat kapasitas perseroan untuk menyalurkan kredit secara terukur.

Penguatan dana itu juga sejalan dengan strategi BRI dalam mempertahankan ekspansi intermediasi. Perseroan memilih menjaga agar pertumbuhan kredit tetap selaras dengan kemampuan menghimpun dana, agar roda bisnis berjalan tanpa mengorbankan kesehatan likuiditas.

Hingga Juni 2026, kredit BRI tumbuh 16,2% secara tahunan menjadi Rp1.646 triliun. Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa ekspansi tetap berlangsung, namun dengan kerangka pengelolaan yang mempertimbangkan ketahanan likuiditas.

Struktur pertumbuhan kredit BRI ditopang terutama oleh segmen UMKM. Portofolio UMKM tercatat mencapai Rp1.235,4 triliun dengan pertumbuhan 8,6% secara tahunan.

Perhatian pada segmen UMKM menjadi penting karena karakter kebutuhan pembiayaan UMKM cenderung beragam dan dipengaruhi dinamika ekonomi. Dengan portofolio yang tumbuh, BRI berupaya menjaga konsistensi penyaluran sekaligus memastikan bahwa pertumbuhan tersebut masih berada dalam koridor kapasitas penghimpunan dana.

Meski likuiditas dinilai masih memadai berdasarkan perbandingan LDR, manajemen menekankan perlunya pemantauan hingga akhir tahun. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks kehati-hatian terhadap perubahan lingkungan likuiditas, yang dapat muncul dari pergerakan dana, permintaan kredit, maupun faktor industri.

Dengan DPK Rp1.580,7 triliun yang tumbuh 6,7% dan LDR 90,8% per Juni 2026, BRI menempatkan likuiditas sebagai penopang utama untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan. Sampai dengan akhir tahun, perseroan akan terus mewaspadai dinamika likuiditas agar pertumbuhan kredit tetap sejalan dengan kemampuan penghimpunan dana.

Perbedaan LDR yang terlihat antara BRI dan industri dapat dibaca sebagai gambaran arah intermediasi yang tetap terjaga. Dengan LDR BRI 90,8% berbanding 88,3% pada kuartal II 2026, perseroan menunjukkan kemampuan menyalurkan kredit tetap sejalan dengan ketersediaan dana, tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian terhadap kondisi likuiditas ke depan.

Di sisi lain, pertumbuhan DPK menjadi penopang agar ekspansi berjalan terukur. Saat DPK BRI mencapai Rp1.580,7 triliun dengan pertumbuhan 6,7% secara tahunan, kapasitas penghimpunan dana tetap mendukung kebutuhan penyaluran. Pola ini selaras dengan pilihan perseroan untuk menjaga agar laju kredit tidak lepas dari kemampuan dana yang dihimpun, sehingga keseimbangan bisnis tetap terjaga.

Penopang utama pertumbuhan kredit juga terlihat dari segmen UMKM yang memegang porsi besar dalam portofolio. Portofolio UMKM tercatat Rp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6% secara tahunan, yang menunjukkan konsistensi penyaluran di tengah kebutuhan pembiayaan UMKM yang cenderung bervariasi. Dengan demikian, manajemen dapat mempertahankan ritme ekspansi sambil tetap memastikan pertumbuhan berada dalam koridor kemampuan pendanaan.

Hingga akhir tahun, penguatan pemantauan likuiditas tetap menjadi bagian penting dari strategi. Penekanan pada kehati-hatian berangkat dari pertimbangan bahwa dinamika likuiditas dapat berubah seiring pergerakan dana maupun permintaan kredit, serta dipengaruhi kondisi industri. Karena itu, perseroan akan terus menjaga kesinambungan antara target pertumbuhan dan daya dukung likuiditas yang menjadi landasan.