Bisnis & Ekonomi

BRI (BBRI) Proyeksikan UMKM Tetap di Fase Ekspansi hingga 2026

×

BRI (BBRI) Proyeksikan UMKM Tetap di Fase Ekspansi hingga 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bos BRI (BBRI): UMKM Masih Berada di Fase Ekspansi - Market

jurnalistik.co.id – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menilai pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjaga optimisme terhadap prospek bisnis dalam beberapa tahun ke depan, tepatnya hingga 2026. Keyakinan itu terlihat dari penguatan aktivitas bisnis yang terus bergerak ke arah ekspansi.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas UMKM tercermin pada indeks yang menunjukkan pelaku usaha masih berada dalam fase ekspansi. Menurutnya, perbaikan tersebut berjalan seiring dengan membaiknya sentimen pelaku usaha terhadap kelangsungan kegiatan mereka.

Indeks aktivitas bisnis UMKM menguat

Hery menyebut indeks aktivitas bisnis UMKM naik dari 102,5 pada 2025 menjadi 104,7 pada kuartal I 2026. Angka itu, menurutnya, menjadi indikator bahwa secara umum UMKM belum keluar dari fase ekspansi dan justru makin optimis menjalankan usahanya.

“Indeks aktivitas bisnis UMKM menunjukkan penguatan dari 102,5 pada 2025 menjadi 104,7 pada kuartal I 2026. Ini menunjukkan bahwa pelaku UMKM secara umum masih berada pada fase ekspansi dan semakin optimis terhadap aktivitas usahanya,” kata Hery dalam konferensi pers Kinerja Keuangan Triwulan II 2026 secara daring pada Senin (31/8/2026).

Pendapat tersebut juga disampaikan Hery dengan menempatkan respons UMKM terhadap kebijakan suku bunga sebagai salah satu konteks penting. Ia menegaskan, kenaikan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin dari 4,75% menjadi 5,75% pada 2026 tidak serta-merta menghapus optimisme pelaku UMKM.

Dengan kata lain, meski lingkungan kebijakan moneter mengalami pengetatan, indeks aktivitas UMKM tetap menunjukkan arah penguatan. Hal ini membuat BRI melihat prospek usaha UMKM masih berlanjut dalam periode yang dituju.

Fundamental perbankan tetap menjadi penopang

Hery menyatakan optimisme UMKM tersebut sejalan dengan kondisi industri perbankan nasional yang dinilai memiliki fundamental solid. Dalam kerangka kinerja perbankan, ia mengemukakan pertumbuhan kredit dan kenaikan dana pihak ketiga (DPK) sebagai sinyal kelanjutan dukungan terhadap sektor riil.

Adapun hingga kuartal II 2026, kredit industri perbankan tumbuh 12,7% secara tahunan, sementara DPK meningkat 10,2%. Kombinasi pertumbuhan kredit dan dana yang bertambah dinilai membantu memastikan ketersediaan fungsi intermediasi berjalan dengan baik.

Dari sisi kualitas aset, Hery juga mengungkap adanya perbaikan yang terlihat dari indikator Loan at Risk (LAR). LAR industri turun dari 8,9% pada kuartal I menjadi 8,5% pada kuartal II 2026, yang menunjukkan risiko terkait kualitas pinjaman bergerak ke arah yang lebih terkendali.

Selain itu, likuiditas disebut masih ample, tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) industri sebesar 88,3%. Dengan likuiditas yang terjaga dan kualitas aset yang membaik, BRI melihat kondisi sektor keuangan memberikan ruang bagi UMKM untuk terus mempertahankan momentum ekspansinya.

Kesimpulannya, BRI memandang fase ekspansi UMKM belum berakhir dan peluang usaha masih relevan hingga 2026. Keyakinan tersebut ditopang oleh pergerakan indeks aktivitas bisnis, respons UMKM terhadap kenaikan suku bunga, serta indikator kinerja perbankan yang dinyatakan tetap kuat.

BRI juga menilai penguatan yang terlihat pada indeks aktivitas bisnis UMKM tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan cara pelaku usaha merespons kondisi ekonomi yang berubah. Ketika sentimen terhadap keberlangsungan usaha membaik, kegiatan operasional cenderung ikut bergerak, sehingga ruang ekspansi tetap terjaga.

Dalam konteks kebijakan moneter, kenaikan suku bunga acuan yang disebut sebesar 100 basis poin dari 4,75% menjadi 5,75% pada 2026 memang menjadi tantangan bagi biaya pendanaan. Namun, BRI menekankan bahwa dinamika tersebut tidak langsung memudarkan optimisme UMKM, karena indikator aktivitas masih menunjukkan kecenderungan penguatan.

Di saat yang sama, BRI memandang daya dukung industri perbankan ikut memperkuat prospek tersebut. Pertumbuhan kredit dan kenaikan DPK hingga kuartal II 2026 memberi sinyal bahwa fungsi intermediasi terus berjalan. Perbaikan kualitas aset yang tercermin dari penurunan Loan at Risk, serta likuiditas yang masih ample lewat LDR, turut menjadi alasan keyakinan bahwa momentum ekspansi UMKM dapat berlanjut hingga 2026.