Bisnis & Ekonomi

Bursa Asia Merah: IHSG Melemah 0,7%, KOSDAQ Terjun Terberat

×

Bursa Asia Merah: IHSG Melemah 0,7%, KOSDAQ Terjun Terberat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Lautan Merah Bursa Asia: IHSG Turun 0,7%, KOSDAQ Paling Parah - Market

jurnalistik.co.id – Bursa saham Asia ditutup dalam kondisi merah pada Jumat (11/9/2026). Mayoritas indeks utama bergerak melemah, dengan tekanan terdalam datang dari KOSDAQ.

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan pada sesi terakhir perdagangan. IHSG ditutup di level 6.541.

Pergerakan tersebut mencerminkan pelemahan 0,73% dibanding perdagangan hari sebelumnya. Angka ini menegaskan bahwa tren negatif berlanjut hingga penutupan sesi.

Tekanan juga terlihat di pasar regional lain. KOSDAQ menjadi yang paling tertekan dengan kejatuhan sebesar 1,95% point–to–point.

Penurunan KOSDAQ terjadi lebih dalam dibanding bursa-bursa besar Asia lainnya. Setelah Korea Selatan, sejumlah indeks dari berbagai negara turut ditutup melemah dengan persentase yang bervariasi.

Di Jepang, NIKKEI 225 melemah 1,93% pada penutupan. Di Vietnam, Ho Chi Minh Stock turun 1,86%.

Masih dari Korea Selatan, KOSPI juga ikut turun 1,76%. Sementara itu, TAIEX di Taiwan tergelincir 1,61%.

China turut memperpanjang tekanan pasar. Shenzhen Comp. melemah 1,45%, sedangkan Shanghai Composite turun 1,18%.

Dari Asia Tenggara dan kawasan lain, pelemahan serupa juga terjadi. KLCI (Malaysia) melemah 1,11%, CSI 300 turun 0,84%, dan SETI (Thailand) melemah 0,65%.

Di Jepang bagian lain, TOPIX turun 0,65%. Filipina mencatat penurunan melalui PSEI sebesar 0,61%.

Hong Kong juga bergerak turun dengan Hang Seng melemah 0,6%. India ikut terkoreksi melalui SENSEX yang turun 0,16%.

Dengan komposisi penurunan yang luas itu, perdagangan hari Jumat memperlihatkan konsistensi sentimen jual di berbagai pasar. IHSG ikut berada dalam kelompok indeks yang mengalami penurunan hingga akhir sesi.

Aktivitas perdagangan pada penutupan

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), volume perdagangan mencapai 30,46 miliar saham. Angka ini menggambarkan tingkat perputaran yang tinggi selama sesi berjalan.

Nilai perdagangan tercatat sebesar Rp14,73 triliun. Besarnya nilai transaksi sejalan dengan tingginya aktivitas perdagangan yang terjadi sepanjang periode bursa.

Frekuensi transaksi yang terekam mencapai 1,93 juta kali setelah satu jam perdagangan berlangsung. Ini menunjukkan bahwa arus transaksi sudah aktif sejak awal sesi.

Meski IHSG bergerak melemah dan mayoritas indeks regional ditutup lebih rendah, data aktivitas mencatatkan bahwa pasar tetap ramai pada hari tersebut. Pergerakan harga yang turun tidak mengurangi intensitas transaksi.

Jika dirunut berdasarkan perbandingan antarindeks, KOSDAQ menjadi titik dengan penurunan paling dalam sebesar 1,95% dibanding barometer lain yang juga berada di zona merah. Di saat yang sama, SENSEX tercatat sebagai yang paling sedikit turun dengan koreksi 0,16%.

Rentang penurunan yang terlihat antarindeks memperlihatkan perbedaan tingkat tekanan di tiap bursa. Namun, benang merahnya tetap sama: mayoritas pasar utama Asia berakhir dalam tren negatif pada penutupan Jumat (11/9/2026).

Dengan IHSG yang ditutup pada level 6.541 atau melemah 0,73%, pergerakan pasar Indonesia berada di jalur yang searah dengan kondisi regional. Pada hari yang sama, KOSDAQ mempertegas bahwa tekanan terbesar datang dari Korea Selatan.

Pergerakan yang terjadi tampak tidak hanya bersifat sesaat, melainkan menyebar lintas kawasan dengan pola yang relatif seragam. Di luar Korea Selatan, bursa lain juga ikut menunjukkan penurunan seperti Hong Kong, India, hingga Asia Tenggara, sehingga gambaran pelemahan terlihat lebih merata di akhir sesi.

Jika dilihat dari besaran koreksi, variasi penurunan antarindeks tetap memperlihatkan perbedaan intensitas. KOSDAQ menjadi yang paling besar jatuh, sementara SENSEX tercatat paling terbatas terkoreksinya. Meski begitu, seluruhnya bergerak dalam zona merah, dan IHSG ikut mengonfirmasi arah yang sama melalui penurunan 0,73% pada sesi itu.

Bahkan ketika harga ditutup lebih rendah, aktivitas transaksi tetap menunjukkan dinamika yang tinggi. Volume mencapai 30,46 miliar saham, nilai transaksi berada di Rp14,73 triliun, serta frekuensi transaksi tercatat sekitar 1,93 juta kali. Ini mengindikasikan bahwa minat pelaku pasar tetap terjaga, walaupun sentimen cenderung menekan harga sepanjang perdagangan.