Internasional

Israel Mengklaim Telah Menghancurkan Pangkalan Hezbollah Bawah Tanah Skala Besar

×

Israel Mengklaim Telah Menghancurkan Pangkalan Hezbollah Bawah Tanah Skala Besar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Israel says it has destroyed major underground Hezbollah base

jurnalistik.co.id – Militer Israel menyatakan telah meratakan sebuah kompleks bawah tanah milik Hizbullah di selatan Lebanon. Klaim tersebut disertai rincian bahwa ledakan memicu aktivitas seismik setara gempa bermagnitudo 4,1 menurut US Geological Survey.

Menurut pernyataan militer, mereka menghancurkan fasilitas bawah tanah berukuran besar yang dioperasikan Hizbullah. Israel menyebut penggunaan lebih dari 1.000 ton bahan peledak untuk melumpuhkan dua terowongan yang membentang lebih dari 2 km, tepat di bawah punggung bukit Ali Taher Ridge.

Ledakan itu, kata Israel, memicu getaran yang nilai dampaknya disetarakan dengan magnitudo 4,1 gempa oleh USGS. Hingga saat berita ini disusun, belum ada tanggapan publik langsung dari Hizbullah maupun pemerintah Lebanon.

Fokus operasi Israel di wilayah tersebut terkait penguasaan punggung bukit yang mereka ambil pekan lalu. Pengambilalihan itu dilakukan setelah berbulan-bulan pertempuran dengan kelompok yang didukung Iran, di tengah konflik yang kembali memanas di kawasan selatan sejak Maret.

Israel juga menempati hamparan besar di selatan Lebanon yang direbut setelah konflik dengan Hizbullah kembali bergulir. Militer Israel merilis sejumlah gambar yang menunjukkan kilatan besar di langit akibat ledakan.

Ledakan terasa hingga ke kota pesisir

Seorang warga bernama Ahamed, yang tinggal di Nabatieh sekitar 6 km di barat kawasan punggung bukit, mengatakan kepada BBC bahwa langit menyala sesaat sebelum suara ledakan terdengar. Ia menyampaikan pengalamannya dengan kutipan langsung: “The sky lit up and about 15 seconds later we heard the terrifying sound,”

Menurut Ahamed, getaran itu membuat bangunan di sekitarnya seolah mengalami gempa sungguhan. Ia menambahkan, “The house shook all together as if it was literally an earthquake.”

Ia juga menyebut orang-orang berteriak, anak-anak menangis, sementara kendaraan memenuhi jalan saat warga meninggalkan area tersebut menuju Beirut. Getaran dilaporkan bahkan masih terasa di kota pesisir Saida, yang berjarak sekitar 40 km di utara.

Komando, persenjataan, dan perangkat tanpa awak

Militer Israel menjelaskan bahwa infrastruktur bawah tanah yang dimaksud mencakup pusat komando yang digunakan oleh unit Badr Hizbullah. Selain itu, kompleks tersebut dikatakan menyimpan puluhan roket, misil, dan kendaraan udara tanpa awak.

Israel menambahkan bahwa fasilitas tersebut juga memuat persenjataan anti-tank, ranjau, serta bahan peledak. Dalam pernyataan yang disampaikan melalui Telegram, militer menyebut bahwa “This was strategic infrastructure that was constructed over two decades, funded and planned by the Iranian terror regime.”

Militer Israel juga menyatakan bahwa semua pihak yang berada di dalam infrastruktur tersebut, menurut klaim mereka, “were eliminated or fled.” Dengan demikian, kehancuran kompleks itu diposisikan sebagai bagian dari misi untuk menghilangkan terowongan-terowongan dan membentuk zona keamanan di area tersebut.

Israel menyebut bahwa penghancuran kompleks tersebut menyelesaikan tugas terkait penghancuran delapan terowongan sekaligus menetapkan apa yang disebut “security zone” di wilayah itu. Peristiwa terbaru ini terjadi di tengah pertarungan yang kembali meningkat di selatan Lebanon, ketika pasukan Israel memperluas operasi terhadap posisi Hizbullah.

Di laporan lapangan, pasukan Israel terus mempertahankan apa yang disebut Israel sebagai zona keamanan dekat perbatasan. Sementara itu, media Lebanon melaporkan serangan Israel lanjutan di tempat lain di bagian selatan pada hari Kamis, termasuk Nabatieh al-Fawqa dan Mansouri di distrik Tyre.

Penambahan pengerahan dan upaya menjaga stabilitas

Menurut laporan MTV, tentara Lebanon juga meningkatkan penempatan pasukan di wilayah di luar kendali Israel. Langkah itu, sebut laporan stasiun televisi lokal tersebut, dilakukan untuk memperkuat stabilitas dan meyakinkan warga di beberapa lokasi termasuk kota Nabatieh yang berada di bagian selatan.

Lebanon terseret ke dalam perang antara Israel, AS, dan Iran pada 2 Maret. Peristiwa itu bermula ketika Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai balasan atas serangan yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran.

Israel kemudian merespons dengan kampanye pengeboman lintas Lebanon dan menyerbu sebagian besar wilayah selatan negara tersebut. Israel menyatakan pasukannya masih menguasai sekitar 5% wilayah Lebanon.

Intensitas pertempuran sempat menurun setelah kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan AS pada Juni, serta perjanjian terpisah antara Lebanon dan Israel. Dalam kerangka Lebanon–Israel, Hizbullah diperkirakan harus melucuti senjata, pasukan Israel mundur bertahap dari Lebanon selatan, dan tentara Lebanon dikerahkan menyeluruh di kawasan itu.

Hizbullah tidak dilibatkan langsung dalam kesepakatan tersebut dan menolak perundingan tatap muka. Meski begitu, serangan Israel dan penghancuran bangunan di selatan Lebanon tetap berlanjut meski terjadi penurunan pertempuran secara umum.

Dalam hal korban, kementerian kesehatan Lebanon menyebut setidaknya 4.362 orang telah tewas selama konflik, termasuk 395 perempuan dan 259 anak-anak. Rincian tersebut tidak membedakan antara kombatan dan warga sipil.

Di sisi lain, otoritas Israel menyatakan 40 tentara Israel dan empat warga sipil telah tewas. Laporan tambahan datang dari Raffi Berg di London, serta Samantha Granville dan Ghaith Solh di Beirut.