Bisnis & Ekonomi

Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.600/US$

×

Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.600/US$

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Menutup Pekan di Rp17.600/US$ - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah ditutup melemah pada penutupan perdagangan spot sepekan, berada di level Rp17.600/US$. Pergerakan ini tercatat seiring meningkatnya tekanan di pasar surat utang pemerintah.

Pada periode yang sama, rupiah masih membukukan hasil yang lebih baik dibanding kinerja harian tersebut. Secara mingguan, rupiah tercatat menguat 0,21%, sedangkan jika dihitung sepanjang bulan ini rupiah masih bertahan dengan apresiasi 0,68%.

Di pasar surat utang, sentimen mulai terasa lewat kenaikan yield di sejumlah tenor. Kenaikan terdalam terjadi pada tenor 4 tahun, yang naik 8,4 basis poin menjadi 6,99%.

Tekanan serupa juga terlihat pada tenor lain. Tenor 6 tahun naik 6,6 basis poin ke level 7,05%, sementara tenor 5 tahun mencatat kenaikan 6,3 basis poin menjadi 7%.

Kondisi tersebut menggambarkan adanya aksi jual di pasar surat utang pemerintah yang berujung pada pelemahan rupiah di akhir pekan. Dengan arus transaksi yang cenderung menekan, nilai tukar rupiah bergerak ke arah bawah menjadi Rp17.600/US$.

Selain faktor pasar keuangan domestik, harga minyak juga disebut turut memberi tekanan terhadap mata uang di kawasan Asia. Tekanan muncul ketika harga minyak melambung ke kisaran US$108/barel.

Dari sisi pergerakan mata uang Asia, baht Thailand tercatat mengalami depresiasi terdalam. Setelah itu, mata uang yang melemah berurutan meliputi rupiah, dolar Taiwan, rupee India, peso Filipina, dan ringgit Malaysia.

Meski demikian, tidak semua mata uang bergerak searah. Sejumlah mata uang justru menguat, termasuk yen Jepang, won Korea Selatan, yuan offshore serta yuan China, dan dolar Singapura.

Perbedaan arah pergerakan tersebut menunjukkan bahwa respons tiap mata uang terhadap kombinasi faktor seperti harga komoditas dan dinamika yield tidak selalu sama. Dalam catatan pergerakan yang dirangkum pada laporan ini, sebagian mata uang tertekan sementara yang lain tetap mampu menguat.

Dengan rupiah yang melemah pada penutupan sepekan, perhatian pasar kemudian mengarah pada kelanjutan dinamika surat utang dan arah harga minyak. Pada saat yang sama, capaian mingguan yang masih positif serta apresiasi sepanjang bulan menjadi penopang yang membatasi besarnya tekanan jangka pendek.

Jika pelaku pasar terus menilai risiko dari sisi yield dan sensitivitas terhadap minyak, pergerakan berikutnya berpotensi tetap dibentuk oleh dua faktor utama itu. Namun, pola diversifikasi mata uang Asia sebagaimana terlihat dari daftar yang menguat maupun yang melemah akan terus menjadi cermin bagi perbedaan respons tiap negara.

Meski ditutup melemah di level Rp17.600/US$, gambaran pergerakan tidak berdiri pada satu titik waktu. Pada dasarnya, hasil yang lebih baik di level mingguan dan bulanan menunjukkan bahwa pelaku pasar masih menimbang kondisi berjalan secara bertahap, bukan hanya reaksi penutupan akhir pekan.

Di sisi yang sama, kenaikan yield pada beberapa tenor memperlihatkan bahwa harga surat utang bergerak dengan kecenderungan yang konsisten. Kenaikan pada tenor 4 tahun, 5 tahun, hingga 6 tahun mencerminkan adanya perubahan ekspektasi di pasar yang pada akhirnya turut memengaruhi persepsi terhadap mata uang.

Pergeseran menuju pelemahan rupiah juga dapat dibaca sebagai efek gabungan antara tekanan di pasar surat utang dan respons terhadap komoditas. Ketika harga minyak disebut melambung ke kisaran US$108/barel, mata uang di kawasan Asia menunjukkan pola yang berbeda-beda, dan di titik tertentu rupiah berada dalam kelompok yang ikut tertekan.

Keragaman respons tersebut terlihat dari daftar mata uang yang melemah dan menguat. Baht Thailand mengalami pelemahan terdalam, diikuti rupiah serta rupee India, peso Filipina, dan ringgit Malaysia, sementara yen Jepang, won Korea Selatan, yuan offshore serta yuan China, dan dolar Singapura tetap mampu menguat. Dengan demikian, fokus berikutnya tetap diarahkan pada dua pemicu utama: kelanjutan dinamika yield dan pergerakan harga minyak.