Bisnis & Ekonomi

Saham dan Obligasi AS Melemah saat Harga Minyak Melejit

×

Saham dan Obligasi AS Melemah saat Harga Minyak Melejit

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Saham dan Obligasi AS Turun Seiring Lonjakan Harga Minyak - Market

jurnalistik.co.id – Pergerakan pasar keuangan Amerika Serikat melemah pada perdagangan terbaru, dipicu lonjakan harga minyak dan meningkatnya perkiraan pelaku pasar terhadap kebijakan suku bunga. Tekanan terlihat pada saham maupun obligasi yang sama-sama mengalami penurunan.

Kenaikan harga minyak mentah menjadi pemicu utama sentimen. Harga Brent dilaporkan menanjak hingga level lebih dari US$107, yang kemudian mendorong imbal hasil obligasi AS naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam kondisi seperti itu, pasar menilai beban biaya energi berpotensi masih mengalir ke berbagai sektor ekonomi. Dampaknya, ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve atau The Fed ikut bergeser lebih cepat.

Para pedagang memperhitungkan kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada pekan depan menjadi 70%. Bahkan, langkah tersebut juga diperkirakan akan terjadi pada Oktober.

Tekanan tambahan datang dari aktivitas pasar utang pemerintah. Departemen Keuangan AS melakukan pembelian kembali utang sebesar US$5,19 miliar, namun nilainya disebut lebih rendah daripada rencana yang sebelumnya telah disiapkan.

Bersamaan dengan itu, indeks S&P 500 tercatat turun untuk hari keempat secara beruntun. Penurunan yang berlanjut ini juga disebut sebagai koreksi terpanjang sejak Juni, menandakan sentimen pasar masih cenderung berhati-hati.

Di luar faktor minyak, data ekonomi juga memperkuat kekhawatiran mengenai jalur inflasi. Indikator inflasi produsen menunjukkan adanya tekanan baru yang muncul akibat kenaikan harga energi pada bulan lalu.

Rilis data inflasi produsen tersebut datang sehari menjelang rilis indeks harga konsumen (IHK). Urutan waktu rilis ini membuat pelaku pasar semakin responsif terhadap sinyal yang dapat memengaruhi proyeksi kebijakan suku bunga.

Pasar memperkirakan IHK akan menunjukkan inflasi inti yang relatif moderat. Namun, harga bensin disebut mendorong kenaikan IHK secara keseluruhan, sehingga gambaran inflasi berpotensi tetap “berat” meski komponen inti tidak sepenuhnya memburuk.

Minyak, imbal hasil, dan antisipasi kebijakan The Fed

Dengan Brent yang menembus level di atas US$107, pasar seolah memperoleh pengingat bahwa biaya energi masih bisa mengubah ekspektasi inflasi. Kenaikan imbal hasil obligasi ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir mencerminkan bagaimana premi risiko dan ekspektasi pasar ikut bergerak.

Situasi tersebut juga membuat spekulasi mengenai langkah The Fed semakin intens. Ketika probabilitas kenaikan suku bunga pada pekan depan dipatok hingga 70% dan langkah pada Oktober telah “diperhitungkan penuh,” ruang untuk menunggu kepastian kebijakan menjadi lebih sempit.

Di saat yang sama, pembelian kembali utang sebesar US$5,19 miliar yang lebih kecil dari rencana menambah variasi dinamika pasar. Meski belum tentu menjadi faktor dominan tersendiri, kebijakan pengelolaan utang tetap memberi sinyal mengenai kondisi likuiditas dan permintaan pasar terhadap instrumen pemerintah.

Pasar saham tetap tertekan

Rentetan penurunan pada S&P 500 menunjukkan bahwa arus penjualan belum sepenuhnya mereda. Dengan koreksi terpanjang sejak Juni untuk hari keempat berturut-turut, pasar seakan menilai kombinasi minyak mahal dan ekspektasi suku bunga yang lebih ketat bisa menekan valuasi aset berisiko.

Jika data inflasi produsen sudah mengisyaratkan tekanan baru dari kenaikan harga energi, maka IHK menjadi penentu berikutnya yang akan diuji oleh pasar. Perkiraan bahwa inflasi inti relatif moderat masih menyisakan ruang optimisme, tetapi efek harga bensin pada IHK secara total bisa menjaga kehati-hatian investor.

Secara keseluruhan, melemahnya saham dan obligasi tercermin sebagai respons terhadap dua jalur sekaligus: dorongan langsung dari lonjakan harga minyak dan pengaruh tidak langsungnya terhadap ekspektasi inflasi serta arah kebijakan suku bunga The Fed. Dalam kerangka ini, pelaku pasar tampaknya terus menunggu apakah data inflasi berikutnya benar-benar mengonfirmasi moderasi pada komponen inti, atau justru memperpanjang tekanan biaya energi.