Bisnis & Ekonomi

IHSG Berakhir Melemah 1,33% ke 6.589, BBRI dan Big Caps Menekan

×

IHSG Berakhir Melemah 1,33% ke 6.589, BBRI dan Big Caps Menekan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Penyebab IHSG Ditutup Melemah di 6.589 - Market

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah 1,33% ke level 6.589 pada penutupan perdagangan Kamis (10/9/2026). Pergerakan indeks bergerak di zona merah sepanjang sesi dan ditutup dengan tekanan jual yang lebih dominan di paruh akhir.

Di sesi II, IHSG mencatat rentang perdagangan dari 6.712 hingga titik terendah 6.585. Penurunan tersebut membuat indeks bergerak semakin jauh dari area pembukaan setelah sempat berada pada level yang lebih tinggi di awal perdagangan.

Kontribusi pelemahan paling terasa datang dari performa negatif saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Selain BBRI, beberapa saham big caps lainnya juga ikut menekan pergerakan indeks komposit pada akhir sesi.

Secara keseluruhan, investor merespons sentimen eksternal yang membebani pasar. Ketika sentimen memburuk, aliran dana cenderung lebih selektif sehingga saham-saham berkapitalisasi besar ikut mempengaruhi arah indeks.

Di luar faktor domestik, tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat. Diikuti laporan soal berbagai ledakan serta peringatan darurat yang disebut menggema luas, sentimen menjadi semakin tidak menentu bagi pelaku pasar.

Dalam perkembangan yang sama, Iran menyatakan kesiapannya menghadapi perang yang lebih intens. Iran juga berjanji akan meningkatkan serangan terhadap Amerika Serikat (AS), sebagaimana diberitakan oleh Bloomberg News.

Tekanan geopolitik tersebut turut memengaruhi cara pasar menilai risiko, khususnya pada aset-aset yang sensitif terhadap perubahan sentimen global. Kondisi ini kemudian tercermin pada kenaikan probabilitas kebijakan suku bunga acuan The Fed di bulan September 2026.

Berdasarkan data CME FedWatch Tools, probabilitas kenaikan suku bunga acuan The Fed pada September 2026 meningkat menjadi 62,2% dari sebelumnya yang berada di kisaran ~49,4%. Perubahan ekspektasi tersebut menjadi salah satu katalis yang memperlemah minat beli di pasar saham.

Ekspektasi tersebut muncul seiring pergerakan harga komoditas, terutama minyak. Harga minyak Brent disebut menembus level US$102,07 per barel untuk pertama kalinya sejak bulan Juli.

Dengan Brent menembus angka tersebut, pasar memandang prospek biaya energi dan dampak lanjutan terhadap inflasi menjadi lebih sulit diprediksi. Imbasnya, sejumlah pelaku pasar cenderung melakukan penyesuaian posisi pada portofolio yang mereka kelola.

Sentimen juga turut diperkuat oleh pergerakan nilai tukar rupiah. Rupiah dilaporkan ditutup melemah 0,15% di level Rp17.539/US$ berdasarkan data Bloomberg di pasar spot.

Kombinasi antara pelemahan rupiah dan membesarnya peluang kenaikan suku bunga acuan membuat tekanan pada indeks semakin berlapis. Dalam kondisi seperti ini, pergerakan saham-saham besar biasanya lebih cepat memengaruhi kompas karena bobotnya terhadap indeks.

Di sepanjang perdagangan, IHSG tidak hanya mengalami penurunan, tetapi juga terlihat semakin rapat menuju level bawah. Data rentang perdagangan yang menyentuh 6.585 menunjukkan indeks mengalami tekanan jual yang bertahan hingga menjelang bel penutupan.

BBRI menjadi salah satu saham yang paling menonjol dalam memberi kontribusi terhadap pelemahan indeks pada akhir sesi. Ketika BBRI bergerak melemah, dampaknya biasanya langsung terasa pada arah IHSG karena peran saham tersebut sebagai konstituen utama dalam pergerakan indeks.

Selain itu, keberadaan beberapa saham big caps yang ikut melemah turut menambah beban. Dengan beberapa pilar indeks bergerak searah, indeks komposit cenderung sulit untuk melakukan pemulihan cepat pada sesi yang sama.

Secara ringkas, penutupan Kamis (10/9/2026) menunjukkan IHSG jatuh 1,33% ke 6.589, dengan rentang 6.712 sampai 6.585. Faktor yang menekan tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait antara sentimen geopolitik Timur Tengah, pembaruan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, kenaikan harga Brent, dan pelemahan rupiah.

Meski demikian, arah IHSG pada hari tersebut tetap konsisten dengan kondisi pasar yang sedang berada pada fase hati-hati. Dengan probabilitas kebijakan The Fed yang meningkat ke 62,2% dan rupiah melemah ke Rp17.539/US$, pelaku pasar kemungkinan akan lebih selektif dalam menentukan langkah pada perdagangan berikutnya.