Bisnis & Ekonomi

Emas Dunia Turun Lagi, Pelaku Pasar Menimbang Jual atau Beli

×

Emas Dunia Turun Lagi, Pelaku Pasar Menimbang Jual atau Beli

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Emas Turun Lagi, Posisi Jual atau Beli? - Market

jurnalistik.co.id – Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan kemarin, menambah tekanan setelah koreksi yang terjadi dalam dua sesi beruntun.

Pada Kamis (24/9/2026), harga emas di pasar spot ditutup di US$ 4.264,9 per troy ons. Angka tersebut turun 0,52% dibandingkan hari sebelumnya.

Penurunan itu sekaligus membuat harga emas berada pada level terendah sejak 16 September, atau setidaknya dalam rentang lebih dari sepekan terakhir.

Dalam dua hari terakhir, pergerakan emas menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Sepanjang periode tersebut, harga emas terkoreksi lebih dari 2% secara kumulatif.

Di balik pelemahan tersebut, faktor utama datang dari melonjaknya harga minyak dunia. Saat energi menguat, investor cenderung menata ulang posisi di berbagai instrumen komoditas, termasuk emas.

Kemarin, minyak Brent mencatat kenaikan hingga 3% menjadi US$ 106,15 per barel. Lonjakan ini disebut menjadi pemicu yang ikut menekan sentimen terhadap emas.

Gelombang kenaikan minyak juga mendapat dorongan dari dinamika geopolitik di Timur Tengah. Perkembangan kawasan tersebut kembali mengerek harga minyak, sementara suasana “asa damai” antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai memudar.

Dengan kondisi itu, pasar mempertimbangkan pergeseran arah transaksi di komoditas, apakah lebih banyak ditempatkan pada posisi jual atau justru mulai ada minat untuk menambah pembelian ketika pelemahan mulai merata.

Meski demikian, arah harga emas dalam waktu dekat tetap sangat bergantung pada respons pasar terhadap pergerakan minyak dan perkembangan terkait hubungan AS–Iran. Koreksi dua hari beruntun menunjukkan bahwa penjual masih punya kendali, setidaknya sampai ada katalis baru yang mengubah ekspektasi pelaku pasar.

Di sisi lain, posisi emas yang sudah menyentuh level terendah sejak 16 September dapat menjadi perhatian tersendiri bagi pelaku pasar. Mereka akan terus menilai apakah penurunan ini hanya bagian dari koreksi jangka pendek, atau berlanjut mengikuti penguatan komoditas lain seperti minyak.

Pergerakan tersebut juga memperlihatkan sensitivitas emas terhadap perubahan selera risiko di pasar komoditas. Ketika energi menguat, fokus pelaku pasar cenderung beralih mengikuti arus komoditas yang bergerak lebih cepat, sehingga emas yang sebelumnya menjadi penyeimbang ikut kehilangan daya tariknya dalam waktu singkat.

Penurunan beruntun dalam dua hari terakhir membuat pasar membaca bahwa tekanan jual masih berlangsung, bukan sekadar koreksi yang selesai dalam satu sesi. Meski demikian, level yang sudah berada di area terendah sejak 16 September berpotensi memunculkan pertimbangan ulang, karena sebagian pelaku pasar mulai menilai ruang untuk pemulihan teknikal jika laju kenaikan minyak melambat.

Selain faktor harga minyak, perhatian juga mengarah pada perkembangan di Timur Tengah yang memengaruhi ekspektasi arah kebijakan dan dinamika hubungan AS–Iran. Saat suasana yang sebelumnya memberi sinyal mereda dipandang mulai memudar, pasar biasanya akan lebih berhati-hati dalam menentukan posisi, sehingga pergerakan komoditas menjadi lebih reaktif terhadap setiap perubahan sentimen.

Ke depan, pasar diperkirakan akan memantau apakah koreksi emas ini berhenti pada fase konsolidasi, atau justru berlanjut seiring minyak mempertahankan dorongan kenaikannya. Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar dapat bergerak antara dua skenario: tetap menahan/menjual karena tren melemah belum berubah, atau melakukan akumulasi secara selektif jika pelemahan mulai merata dan muncul sinyal bahwa tekanan jual mulai mereda.

Di tengah pelemahan yang beruntun, pelaku pasar juga cenderung melihat respons emas terhadap perubahan cepat pada komoditas energi. Ketika pergerakan minyak makin dominan, minat terhadap emas sering ikut tertarik untuk menyesuaikan posisi, sehingga ruang gerak harga emas menjadi lebih sempit.

Rentang level terendah sejak 16 September biasanya menjadi titik acuan untuk menilai apakah koreksi yang terjadi masih bersifat sementara atau mulai berubah menjadi fase yang lebih panjang. Kondisi ini membuat pelaku pasar lebih selektif: sebagian memilih tetap menunggu sinyal, sementara yang lain mulai mempertimbangkan peluang pemulihan teknikal bila tekanan jual melemah.

Selain dipengaruhi minyak, arah transaksi juga dipengaruhi ekspektasi terhadap perkembangan di kawasan Timur Tengah dan kualitas sinyal terkait hubungan AS–Iran. Ketidakpastian yang meningkat umumnya membuat pasar menahan diri, sehingga respons terhadap setiap perubahan sentimen pada komoditas menjadi lebih cepat dan tajam.