jurnalistik.co.id – Ekonom menilai dugaan penyadapan ilegal terhadap sejumlah nomor telepon pejabat negara, termasuk Presiden Republik Indonesia, berpotensi memicu ketidakpastian politik dan membuat investor meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi saat menanamkan modal di Indonesia.
Pandangan itu disampaikan dalam konteks kekhawatiran bahwa proses hukum yang belum jelas dapat memengaruhi persepsi pelaku pasar terhadap stabilitas kebijakan dan arah tata kelola pemerintahan.
Lead Economist Bank Danamon, Irman Faiz, menilai ketidakpastian politik pada dasarnya memiliki konsekuensi ekonomi. Menurutnya, investor akan menuntut risk premium lebih besar ketika situasi sulit diprediksi, karena menilai potensi gangguan terhadap iklim usaha dan arus dana menjadi lebih tinggi.
“Jadi yang namanya ketidakpastian di politik itu pasti ada biayanya, yaitu risk premium. Nah kalau misalnya uncertainty itu tinggi, risk premium yang diminta juga tinggi,” kata Irman dalam FGD BI di Sabang, Aceh, dikutip Jumat (6/11/2026).
Irman tidak menutup kemungkinan bahwa efeknya dapat meluas, tetapi ia juga menekankan bahwa pergerakan pasar keuangan domestik tidak semata ditentukan oleh satu variabel. Dalam penilaiannya, respons pasar yang terlihat bisa saja dipengaruhi kombinasi faktor lain, termasuk dinamika global yang sedang berjalan.
Dalam dua hari terakhir, ketika isu dugaan penyadapan mencuat, pasar keuangan justru menunjukkan pergerakan yang relatif membaik. Kondisi ini, menurut Irman, mengindikasikan bahwa faktor eksternal pada saat itu tampak lebih dominan dalam membentuk sentimen pelaku pasar.
Ia menyebut beberapa pendorong dari luar negeri yang dapat ikut mengubah ekspektasi pasar. Di antaranya adalah prospek geopolitik yang berkembang, arah kebijakan setelah pemilihan paruh waktu (midterm election) Amerika Serikat (AS), serta pergerakan imbal hasil US Treasury.
Berita Terkait
Selain itu, Irman juga menyoroti potensi penurunan harga minyak sebagai faktor yang dapat ikut meredakan tekanan biaya dan ekspektasi inflasi, sehingga membantu menjaga stabilitas sentimen di instrumen keuangan domestik.
Dengan demikian, meskipun isu politik berisiko menambah premi risiko, dampaknya terhadap pasar tidak otomatis bersifat tunggal atau langsung. Perubahan kondisi global—mulai dari ekspektasi kebijakan AS hingga pergerakan yield dan harga komoditas—dapat menjadi penentu besar kecilnya pergeseran risk premium yang dirasakan investor.
Di tengah dinamika itu, investor biasanya menimbang dua lapis informasi sekaligus: bagaimana perkembangan di ranah politik dapat memengaruhi kepastian arah kebijakan, serta bagaimana sinyal global mempengaruhi biaya modal dan preferensi risiko. Dalam skenario ketidakpastian politik meningkat, tuntutan risk premium cenderung bergerak naik, namun arah pasar yang terlihat tetap bisa dipengaruhi faktor eksternal yang sedang kuat.
Irman juga memberi sinyal bahwa penguatan sentimen tidak hanya dilihat dari satu isu spesifik, melainkan dari membaca komposisi penggerak pasar. Oleh karena itu, ketika perhatian publik terpusat pada perkembangan dugaan penyadapan, pelaku pasar tetap memperhitungkan faktor lain yang pada periode yang sama ikut bekerja terhadap probabilitas skenario ekonomi.
Secara keseluruhan, penilaian Irman menekankan hubungan logis antara ketidakpastian politik dan premi risiko investasi, sembari mengingatkan bahwa pasar keuangan bergerak dalam ekosistem yang lebih luas. Kombinasi prospek geopolitik, kebijakan pasca midterm election AS, tren imbal hasil US Treasury, dan arah harga minyak menjadi variabel yang ikut menentukan apakah risk premium benar-benar akan melebar atau justru tertahan oleh sentimen eksternal.
Dalam praktiknya, penilaian risiko oleh investor biasanya tercermin pada harga aset melalui penyesuaian risk premium. Saat pelaku pasar melihat informasi politik yang belum tuntas, mereka cenderung menaikkan estimasi ketidakpastian terhadap jalannya kebijakan, namun besaran penyesuaian itu tetap bergantung pada seberapa kuat faktor lain yang sedang mengimbangi atau memperbesar tekanan.
Irman juga menggambarkan bahwa perhatian pasar tidak berhenti pada satu isu, melainkan bergerak mengikuti beragam isyarat yang bekerja bersamaan. Ketika sentimen domestik dibaca lewat lensa risiko politik, prospek geopolitik, arah kebijakan pasca midterm election AS, pergerakan imbal hasil US Treasury, serta ekspektasi terkait harga minyak ikut menjadi bahan pertimbangan yang menentukan apakah risk premium akan melebar atau justru lebih terjaga.












