jurnalistik.co.id – Lebih dari dua abad lalu, China tidak sekadar ikut meramaikan ekonomi dunia, tetapi menjadi pusat bobot utama aktivitas ekonomi global. Pada 1820, kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) global—berdasarkan purchasing power parity (PPP)—mencapai sekitar 28,6%.
Namun posisi itu tidak bertahan. Sepanjang lebih dari satu abad, pangsa China terus melemah hingga mencapai titik terendah pada 1961, ketika kontribusinya tinggal 4,1% terhadap ekonomi dunia.
Jejak Turun: dari Skala Besar Menuju Titik Terendah
Penurunan pangsa China terlihat jelas dari deret data yang berurutan. Pada 1870, pangsa China turun menjadi 17,2%, lalu berlanjut ke 10% pada 1913 dan tinggal 5,2% pada 1950.
Guncangan berlapis membuat kemerosotan tidak hanya terjadi pada satu momen. Data menunjukkan bahwa sebelum fase-fase konflik besar memuncak, penurunan sudah berlangsung dan pangsa China bergerak lebih kecil dibanding periode awal.
1978 Mengubah Arah: Reformasi yang Mengangkat Kembali Pangsa
Perubahan arah mulai nyata setelah reformasi ekonomi dimulai pada 1978. Pada 2001, pangsa China naik menjadi 10,2% dan terus menanjak hingga melewati Amerika Serikat pada 2014.
Kenaikan itu berujung pada angka yang menonjol: pada 2025, pangsa China diproyeksikan mencapai 21,8%. Dalam periode yang sama, Amerika Serikat berada di level 14,7%, sehingga jarak keduanya makin melebar.
Kenaikan pangsa ini tidak lepas dari perubahan cara ekonomi bekerja, sekaligus stabilitas yang memungkinkan industrialisasi dan ekspor berjalan lebih konsisten.
Mengapa China Pernah “Nomor Satu” di 1820?
Besarnya ekonomi China pada 1820 terutama terkait skala penduduk, bukan karena rata-rata setiap warga memiliki tingkat kekayaan yang jauh di atas yang lain. Populasinya diperkirakan sekitar 381 juta jiwa, lebih dari sepertiga penduduk dunia kala itu.
China pada masa tersebut juga ditopang pertanian intensif serta pasar domestik yang luas. Produksi barang seperti tekstil, sutra, teh, dan porselen ikut memperbesar output ekonomi.
Dengan jutaan rumah tangga yang produktif, volume produksi menjadi sangat besar. Meski begitu, PDB per kapita China tetap berada di bawah Amerika Serikat dan Eropa.
Karena itu, posisi China sebagai ekonomi terbesar pada 1820 lebih tepat dibaca sebagai cerminan skala ekonomi dan demografi, bukan terutama soal produktivitas per orang yang paling tinggi.
Poin pentingnya, pangsa global tidak selalu berarti standar hidup masyarakat otomatis berada di puncak. Dalam ekonomi praindustri, total produksi sangat ditentukan oleh banyaknya tenaga kerja dan ukuran populasi.
Negara dengan populasi besar akan memiliki bobot ekonomi yang lebih besar, walaupun mayoritas penduduknya bekerja di sektor yang produktivitasnya relatif rendah.
Pergeseran Kekuasaan Ekonomi dan Peta yang Berubah
Di pertengahan abad ke-19, dominasi ekonomi mulai bergeser ke Imperium Inggris. Inggris menjadi negara pertama yang melakukan industrialisasi dalam skala besar dengan mesin, batu bara, tenaga uap, sistem pabrik, serta jaringan perdagangan kolonial.
Imperium Inggris mencapai puncak pangsa sebesar 23,8% pada 1845. Memasuki abad ke-20, pusat ekonomi bergeser lagi ke Amerika Serikat, yang menguasai 29,7% pada 1944 ketika banyak pusat industri Eropa dan Asia melemah akibat perang.
Opium dan Batasannya: Tidak Tunggal, Tapi Mengakselerasi
Perang Opium sering dikaitkan dengan kemerosotan Dinasti Qing, tetapi penurunan China tidak muncul dari satu penyebab saja. Penurunan telah dimulai sebelum Perang Opium I pada 1839–1842.
Dalam urutan data, pangsa China sudah turun dari 28,6% pada 1820 menjadi sekitar 25% menjelang pecahnya perang tersebut. Masalah inti yang muncul adalah ketertinggalan industrialisasi.
Sementara Inggris, Amerika Serikat, dan Eropa meningkatkan produksi dengan mesin, sebagian besar ekonomi China masih bertumpu pada pertanian serta kerajinan padat karya. Pertumbuhan produksi dunia berjalan jauh lebih cepat, sehingga pangsa China makin menyusut.
Penurunan pangsa juga tidak selalu berarti output China berhenti tumbuh. Pada sejumlah periode, produksi China masih bertambah, tetapi kenaikannya berlangsung lebih lambat dibanding negara-negara industri.
Perdagangan opium memperburuk kondisi tersebut. Inggris menjual opium dari India untuk membayar teh, sutra, dan porselen China, sehingga arus perak keluar dan penerimaan pemerintah tertekan.
Setelah kalah, China dipaksa membuka pelabuhan, membayar indemnitas, menyerahkan Hong Kong, serta memberikan hak khusus kepada pihak asing. Dalam kerangka ini, Perang Opium menjadi akselerator bagi kelemahan yang sudah ada.
Berita Terkait
Beban perang tidak hanya berupa hilangnya wilayah. Pembayaran ganti rugi menyerap kemampuan fiskal yang seharusnya dapat digunakan untuk pertahanan, infrastruktur, pendidikan, atau modernisasi industri.
Walau pembukaan pelabuhan memperluas perdagangan dan membawa teknologi ke beberapa kota pesisir, keuntungan tersebut tidak cukup menutup lemahnya kapasitas pemerintahan pusat dan besarnya kerusakan di berbagai daerah.
Gelombang Konflik: Pemberontakan, Invasi, dan Fragmentasi
Tidak lama setelah Perang Opium, China menghadapi Pemberontakan Taiping pada 1850–1864. Konflik itu menghancurkan sejumlah wilayah pertanian dan perdagangan yang paling makmur, merusak jalur transportasi, dan menelan jutaan korban.
Kemudian, kekalahan dari Jepang pada 1894–1895 membuat Qing kehilangan wilayah, membuka konsesi baru, serta membayar indemnitas lewat pinjaman luar negeri. China juga gagal mengejar modernisasi industri dan militer dibanding Jepang.
Dinasti Qing akhirnya runtuh pada 1911. Namun pembentukan republik tidak langsung menghadirkan stabilitas, karena China terpecah di bawah kekuasaan panglima perang.
Pada 1931, Jepang menguasai Manchuria, lalu melancarkan invasi berskala besar pada 1937. Setelah Jepang menyerah pada 1945, perang saudara antara Kuomintang dan Partai Komunis kembali pecah.
Gabungan perang, kerusakan infrastruktur, fragmentasi negara, dan hiperinflasi membuat pangsa China jatuh hingga hanya 5,2% pada 1950.
Great Leap Forward dan Cultural Revolution Mengguncang 1958–1976
Berdirinya Republik Rakyat China pada 1949 menyatukan kembali negara, dan pangsa sempat naik menjadi 6,9% pada 1953. Akan tetapi, program Great Leap Forward pada 1958–1962 memicu guncangan baru.
Tenaga pertanian dialihkan ke proyek industri yang tidak produktif. Kolektivisasi, kesalahan kebijakan pertanian, kegagalan panen, dan laporan produksi yang tidak akurat memicu kelaparan besar.
Dalam periode tersebut, pangsa China turun dari 6,3% pada 1958 menjadi 4,1% pada 1961. Setelah itu, Cultural Revolution pada 1966–1976 kembali mengganggu pendidikan, produksi, penelitian, dan pembentukan tenaga terampil.
Ketika 1976 tiba, pangsa China masih sekitar 5,1%.
Reformasi 1978: Menguatkan Insentif, Mengubah Struktur, dan Mengerek Ekspor
Kebangkitan mulai mengambil bentuk saat Deng Xiaoping menjalankan reformasi dan keterbukaan pada 1978. Petani memperoleh insentif untuk meningkatkan produksi, sementara perusahaan diberi ruang merespons pasar.
Kawasan ekonomi khusus dibangun, dan investasi asing mulai masuk. China juga memanfaatkan tenaga kerja besar, tingkat tabungan yang tinggi, pembangunan infrastruktur, transfer teknologi, serta ekspor manufaktur.
Pangsa ekonomi China meningkat dari 5,6% pada 1978 menjadi 9,9% pada 2000. Reformasi juga dijalankan bertahap, bukan perubahan mendadak.
Pemerintah mempertahankan kendali pada sektor strategis, tetapi membuka ruang bagi usaha swasta, modal asing, dan mekanisme harga. Model ini mendorong perpindahan jutaan pekerja dari pertanian menuju industri dan jasa dengan produktivitas yang lebih tinggi.
Jalan raya, pelabuhan, pembangkit listrik, dan kawasan industri kemudian menghubungkan pabrik-pabrik China dengan pasar dunia. Setelah bergabung dengan WTO pada 2001, China semakin terintegrasi dalam perdagangan global.
Perusahaan asing membangun basis produksi dan rantai pasok di negara tersebut, sementara China berkembang menjadi pusat manufaktur dunia. Pada 2014, pangsa China mencapai 16,6% dan melewati Amerika Serikat yang berada di level 16%.
Proyeksi 2025 menunjukkan China 21,8% dan Amerika Serikat 14,7%, menegaskan bahwa kebangkitan yang terjadi bukan sekadar angka sementara, melainkan perubahan posisi yang lebih mantap.
Belum Kembali ke Rekor Lama, Tapi Format Kebangkitannya Berbeda
Meskipun kini memimpin melalui PPP, pangsa China pada 2025 masih 6,8 poin persentase di bawah posisi 1820. Kebangkitannya juga tidak identik dengan periode awal.
Pada 1820, besarnya ekonomi lebih banyak berasal dari populasi dan sektor pertanian. Kini, China berperan sebagai kekuatan industri, eksportir, pembangun infrastruktur, dan produsen teknologi.
PPP mengukur produksi setelah menyesuaikan perbedaan harga, sehingga bermanfaat untuk membandingkan volume ekonomi domestik. Namun, ukuran ini bukan satu-satunya indikator kekuatan finansial; berdasarkan PDB nominal, Amerika Serikat masih lebih besar.
Kesimpulannya, kemerosotan China tidak semata-mata disebabkan oleh opium. Penurunannya merupakan rangkaian kombinasi: ketertinggalan industrialisasi, lemahnya pemerintahan Qing, intervensi asing, pemberontakan, invasi Jepang, perang saudara, serta kesalahan kebijakan domestik.
Sementara itu, kebangkitan China terjadi lewat reformasi pasar, stabilitas negara, industrialisasi, pembangunan infrastruktur, investasi, ekspor, dan integrasi ekonomi global. Pola tersebut tampaknya terus tercermin dalam arah pemerintahan saat ini, dengan skema yang dinilai lebih berkelanjutan dan tren yang terus mendominasi.












