jurnalistik.co.id – George Mason, pria berusia 74 tahun, dapat tetap tinggal di Swedia untuk sementara waktu setelah upaya hukum yang diajukan keluarga untuk menunda deportasinya sedang dipertimbangkan.
Menurut otoritas Swedia, Mason yang memiliki demensia vaskular dan vascular parkinsonism semula diminta meninggalkan negara itu sebelum tengah malam pada 20 Agustus, setelah permohonan izin tinggal permanennya ditolak.
Anaknya, Michelle Torossian, mengatakan keluarga telah mendapat penjelasan mengenai adanya perintah sementara yang dimaksudkan untuk menghentikan proses deportasi, namun keputusan penetapannya akan diambil oleh otoritas Swedia dalam rentang waktu dua minggu hingga enam bulan.
Torossian juga menyebut ia diberi informasi oleh British Embassy di Stockholm bahwa keputusan deportasi awal tidak akan diberlakukan selama perintah injungsi tersebut masih dipertimbangkan.
BBC melaporkan telah menghubungi Swedish Migration Agency, yang menyatakan tidak dapat memberikan komentar untuk kasus individu.
Posisi keluarga: masih “di tengah jalan”
Torossian menilai hasil akhirnya “up in the air” dan menyebut situasi yang mereka hadapi “frustrating”.
Keluarga Mason dalam pernyataan yang dikutip menyatakan, “We're in a much safer position than we were last week, but we're not at the finish line yet”.
Ia menambahkan, “They can at any point in the next six months say he has got to go”.
Dengan demikian, meski penundaan memberi ruang napas, keluarga tetap menghadapi ketidakpastian hingga keputusan berikutnya keluar.
Di Swedia, Mason telah hidup lebih dari 20 tahun dan saat ini berada di fasilitas perawatan khusus di negara tersebut.
Torossian menjelaskan bahwa riwayat medis Mason yang lebih mutakhir telah disampaikan kepada pihak berwenang sebagai bagian dari tantangan hukum yang diajukan.
Menurut dokumen yang dirujuk dalam laporan, dokter pernah memberi masukan bahwa proses pemindahan Mason ke Inggris berpotensi menghadirkan “danger to his life”.
Keluarga juga berencana, pada tahap berikutnya, membawa kasus Mason ke European Court of Human Rights untuk mencoba menantang keputusan deportasi.
Berita Terkait
Selain itu, seorang juru bicara Swedish Migrations Agency sebelumnya menyatakan bahwa mereka dapat mengonfirmasi penerimaan berkas terkait adanya hambatan penegakan yang kini akan diproses oleh agensi.
Latar belakang status tinggal setelah Inggris keluar dari Uni Eropa
Laporan tersebut juga mengaitkan perkara ini dengan perubahan status kewarganegaraan setelah Inggris keluar dari Uni Eropa pada 31 Januari 2020.
Sejak momen itu, warga Inggris berhenti menjadi warga negara Uni Eropa sehingga mereka tidak lagi dapat tinggal di Swedia dengan status hak tinggal.
Selama periode transisi, warga Inggris masih dapat mengajukan status tempat tinggal berdasarkan perjanjian penarikan (withdrawal agreement) antara Inggris dan Uni Eropa, yang berakhir pada 31 Desember 2021.
Torossian menjelaskan bahwa karena kondisi kesehatan Mason, seorang “god man” (wali yang ditunjuk secara hukum) diberi surat kuasa untuk mengurus urusan ayahnya.
Dokumen dari Swedish Migration Agency yang disebut dalam laporan menyatakan bahwa pengajuan izin tinggal permanen Mason dilakukan pada 21 Desember 2021.
Permohonan itu ditolak dengan alasan dokumen yang menunjukkan Mason memenuhi dasar untuk memperoleh izin tinggal tidak diserahkan.
Langkah berikutnya adalah pengajuan permohonan tambahan yang didasarkan pada kedekatan Mason dengan putranya, Carl Mason, yang memiliki residency di Swedia.
Namun, permohonan tambahan tersebut juga ditolak.
Upaya banding lanjutan kemudian diajukan ke Migration Court of Appeal pada bulan Juni dan Juli tahun ini, tetapi hasilnya juga tidak diterima.
Dalam penilaian medis yang dirujuk, pemindahan Mason dari lingkungan perawatannya dinilai “not medically justifiable” dan disebut akan menimbulkan “significant risks” bagi kesehatannya.
Meski begitu, dokumen pengadilan menyebut kondisi Mason tidak termasuk “life-threatening” dan ia tetap dapat mengakses layanan perawatan di Inggris.
Dengan rangkaian pertimbangan tersebut, penundaan yang kini terjadi membuat Mason tetap berada dalam perawatan di Swedia sambil menunggu keputusan lanjutan yang bisa menentukan apakah deportasi benar-benar akan diteruskan.
Sampai keputusan berikutnya ditetapkan, keluarga Mason tetap menegaskan bahwa situasi mereka membaik dibanding minggu sebelumnya, tetapi belum mencapai tahap akhir yang memastikan keselamatan dan masa depan hukum bagi George Mason.












