Bisnis & Ekonomi

Harga Beras Terus Naik, Apakah Saham HOKI dan NASI Ikut Panen Cuan?

×

Harga Beras Terus Naik, Apakah Saham HOKI dan NASI Ikut Panen Cuan?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Beras Mahal, Emitennya Panen Cuan? - Market

jurnalistik.co.id – Harga beras yang terus merangkak naik kembali menjadi sorotan hingga hari ini, Jumat (4/9/2026). Di saat biaya konsumsi rumah tangga terasa lebih berat, pasar juga memperhatikan dampaknya ke emiten produsen.

Melansir pergerakan harga komoditas, beras tercatat mengalami kenaikan berkelanjutan. Kenaikan ini terutama terlihat pada beras medium di beberapa wilayah.

Di Papua dan Kalimantan Tengah, harga beras medium disebut tembus Rp19.900/kg. Angka tersebut menjadi penanda bahwa tekanan harga tidak berhenti pada satu titik.

Dalam konteks yang sama, investor kemudian menoleh ke perusahaan yang terkait langsung dengan rantai pasok beras. Sebab, ketika harga komoditas bergerak naik, peluang perbaikan kinerja bisnis juga ikut diperhatikan.

Bagi pelaku pasar modal, momen seperti ini biasanya tercermin pada pergerakan harga saham emiten terkait. Pada perdagangan hari ini, saham PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI) menguat.

Saham HOKI bergerak naik 1,79% dan menyentuh harga Rp57 per saham. Pergerakan tersebut juga membawa saham sempat mendekati level tertinggi hariannya.

Dalam sesi yang sama, HOKI sempat berada di area Rp58 per saham. Kenaikan harian ini menjadi kelanjutan dari momentum yang lebih luas dalam periode lebih panjang.

Selama dua bulan perdagangan, saham HOKI tercatat melesat nyaris 10% point–to–point. Performa ini terlihat dari pergerakan harga yang konsisten, bukan lonjakan sesaat.

Selain dari sisi harga, pasar juga menilai fundamental yang terkait dengan penjualan beras. Perusahaan yang memegang merek HOKI disebut mengalami peningkatan penjualan.

Sepanjang semester I-2026, HOKI mencatat peningkatan penjualan beras sebesar 34% year–on–year. Pertumbuhan tersebut menguatkan narasi bahwa kenaikan harga komoditas dapat berdampak pada bisnis produsen.

Dengan kinerja itu, total penjualan neto HOKI disebut mencapai Rp762 miliar. Angka pendapatan ini menjadi rujukan penting untuk melihat seberapa besar kontribusi bisnis selama paruh pertama tahun.

Nama merek yang disebut dalam konteks produk perusahaan juga memperjelas fokus bisnisnya. Di antaranya Topi Koki Super Slyp, BPS Setra Ramos, serta Beras Super Belida.

Menariknya, pasar tidak hanya menempatkan perhatian pada satu emiten. Saham produsen beras lain, PT Wahana Inti Makmur Tbk (NASI), turut menunjukkan penguatan pada perdagangan hari ini.

Saham NASI menguat 1,33% dan berada di posisi Rp152 per saham. Kenaikan harian ini sekaligus menandakan respons pasar terhadap dinamika komoditas.

Pada perusahaan NASI, merek produk yang disebut meliputi Dua Tani, Taeyangssal, dan Beras Baroma (Basmati Aromatik). Rentang merek tersebut menggambarkan variasi produk yang ditawarkan perusahaan.

Perhatian investor pada NASI muncul di tengah kondisi harga beras yang terus bergerak naik. Ketika permintaan dan harga komoditas bergerak seiring, emiten di sektor ini biasanya ikut menjadi target.

Dengan data pergerakan saham dan pertumbuhan penjualan yang sudah terbaca, pasar tampaknya sedang menilai keberlanjutan momentum. Untuk HOKI, kontribusi semester I-2026 tercatat menjadi bagian dari pertimbangan utama.

Di sisi lain, penguatan NASI pada perdagangan hari ini memperlihatkan bahwa sentimen kenaikan beras tidak hanya berhenti pada satu pemain. Pergerakan harga di BEI dapat menjadi cerminan dari ekspektasi pasar atas prospek bisnis.

Secara keseluruhan, pertemuan antara harga komoditas dan performa emiten menjadi benang merah yang dibaca investor. Untuk investor, fokus berikutnya biasanya tertuju pada apakah tren harga beras dapat berlanjut dan tetap menopang kinerja perusahaan.

Dengan penguatan yang terjadi hari ini pada HOKI dan NASI, pasar tampak menjaga perhatian pada sektor produsen beras. Namun, pergerakan saham tetap perlu dilihat sebagai hasil dinamika harian yang sensitif terhadap informasi terbaru.

Jika pola kenaikan harga beras terus terjaga, peluang berlanjutnya sentimen positif terhadap emiten terkait menjadi terbuka. Meski demikian, arah pasar pada sesi-sesi berikutnya tetap akan ditentukan oleh perkembangan data kinerja dan respons pelaku pasar.