Bisnis & Ekonomi

Rupiah Menguat 0,13% ke Rp17.637/US$ Dipacu Komentar Dovish Waller & Minyak Turun 0,5%

×

Rupiah Menguat 0,13% ke Rp17.637/US$ Dipacu Komentar Dovish Waller & Minyak Turun 0,5%

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Hari Ini: The Fed Jadi Gas, Harga Minyak Jadi Rem - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah menutup perdagangan pekan ini dengan penguatan 0,13% ke level Rp17.637/US$, sejalan dengan kecenderungan mayoritas mata uang Asia yang bergerak di zona hijau pada Jumat (4/9/2026).

Di kawasan, dolar Taiwan menjadi yang menguat paling tajam, diikuti won Korea Selatan, baht Thailand, rupiah, yuan offshore, yuan China, serta dolar Singapura.

Pergerakan tersebut berlawanan dengan beberapa mata uang yang mengalami koreksi, termasuk yen Jepang yang kembali terkoreksi, disusul peso Filipina dan ringgit Malaysia.

Penguatan rupiah dan sebagian besar mata uang kawasan ditopang oleh turunnya harga minyak mentah yang terkoreksi 0,5% menjadi sekitar US$95/barel.

Selain faktor komoditas, sentimen juga ikut terbantu oleh meredanya tekanan pada dolar AS setelah muncul komentar bernuansa dovish dari Anggota Dewan Gubernur The Fed Christopher Waller.

Komentar Waller kembali menghidupkan ekspektasi bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk menahan suku bunga, terutama apabila data inflasi AS tetap jinak dan kondisi ketenagakerjaan menunjukkan tanda melemah.

Di sepanjang dinamika pekan ini, dolar AS tercatat melemah 0,7%, sehingga sentimen yang sebelumnya menekan mata uang kawasan berangsur mereda.

Dengan meredanya tekanan dolar AS, ruang gerak rupiah ikut terbuka, dan rupiah mampu menguat pada sisi terkuatnya dari kisaran Rp17.600-17.700/US$.

Perubahan arah juga terlihat pada komposisi pergerakan mata uang Asia secara keseluruhan, di mana penguatan tidak hanya terkonsentrasi pada satu negara, melainkan menyebar pada beberapa mata uang utama di kawasan.

Di sisi lain, koreksi yen Jepang serta melemahnya peso Filipina dan ringgit Malaysia menunjukkan bahwa sentimen tidak sepenuhnya seragam, meskipun mayoritas bergerak positif.

Melihat rangkaian pendorong tersebut, pasar valuta tampak merespons kombinasi penurunan harga minyak dan sinyal kebijakan moneter yang lebih akomodatif dari The Fed melalui komentar Christopher Waller.

Pola ini pada akhirnya tercermin pada penutupan perdagangan rupiah di Rp17.637/US$, dengan penguatan 0,13% yang menjadi penanda bahwa tekanan terhadap mata uang domestik mengalami penurunan pada sesi akhir pekan.

Di tengah rotasi aliran dana yang terlihat dari beragamnya mata uang Asia, penguatan yang terjadi cenderung merata di beberapa pelaku pasar utama, tidak hanya berhenti pada satu pasangan mata uang. Dolar Taiwan memimpin kenaikan, sementara won Korea Selatan, baht Thailand, serta yuan offshore dan yuan China ikut bergerak mengarah yang sama.

Sentimen kebijakan moneter menjadi salah satu pengikat utama ketika komentar Christopher Waller bernada lebih dovish. Pasar kemudian membaca bahwa The Fed masih memiliki fleksibilitas untuk mempertahankan suku bunga, terutama bila inflasi AS tetap jinak dan indikator ketenagakerjaan menunjukkan tanda melemah. Dengan kerangka itu, tekanan terhadap dolar AS yang sempat dominan pada awal hingga pertengahan pekan berangsur berkurang.

Di sisi lain, pelemahan harga minyak mentah yang terkoreksi 0,5% ke kisaran sekitar US$95 per barel membantu menopang pergerakan di kawasan. Kombinasi penurunan komoditas dan meredanya ketidakpastian dari nada komunikasi The Fed memperkuat keyakinan pasar bahwa sesi akhir pekan masih memberi ruang pemulihan bagi rupiah dan mata uang lain yang sebelumnya tertahan.

Walau sebagian besar mata uang bergerak positif, perbedaan respons tetap muncul pada mata uang yang justru terkoreksi, seperti yen Jepang, peso Filipina, dan ringgit Malaysia. Fenomena ini menegaskan bahwa sentimen tidak sepenuhnya seragam, namun pergerakan secara keseluruhan tetap mengarah pada penurunan tekanan terhadap dolar. Pada akhirnya, kondisi tersebut tercermin pada kemampuan rupiah menguat kembali menuju sisi terkuatnya di rentang Rp17.600–Rp17.700/US$ sebelum ditutup pada Rp17.637/US$.