Bisnis & Ekonomi

Harga Minyak Dunia Turun 8% dalam Sepekan: Iran–AS Mereda, Selat Hormuz Justru Memicu Gelombang

×

Harga Minyak Dunia Turun 8% dalam Sepekan: Iran–AS Mereda, Selat Hormuz Justru Memicu Gelombang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Minyak Dunia Anjlok 8 Persen Selama Sepekan, Ini Sebabnya

jurnalistik.co.id – Harga minyak dunia melemah tajam sepanjang pekan ini. Penurunan sekitar 8% dipicu meredanya ekspektasi pasar terkait konflik Iran dan Amerika Serikat (AS), meski ketidakpastian tetap membuat pergerakan harga tidak stabil.

Di tengah suasana yang sempat lebih tenang, pelaku pasar kembali menilai peluang terjadinya penyelesaian konflik. Bila skenario itu benar-benar berjalan, akses ke Selat Hormuz berpotensi kembali terbuka.

Namun, dinamika tersebut tidak berlangsung lurus hingga akhir pekan. Di penghujung periode perdagangan, harga minyak justru berbalik menunjukkan gejolak karena pasar menimbang ulang kemungkinan kesepakatan yang dapat mengakhiri konflik sekaligus membuka kembali Selat Hormuz.

Pada penutupan perdagangan Jumat (7/8/2026) waktu setempat, minyak mentah Brent naik 1,06 dollar AS atau 1,3% menjadi 83,55 dollar AS per barrel. Meski begitu, secara mingguan Brent tetap mencatat penurunan lebih dari 8%.

Pola serupa terlihat pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS. WTI ditutup menguat 89 sen atau 1,15% menjadi 78,18 dollar AS per barrel, tetapi secara mingguan masih turun lebih dari 7%.

Sepanjang pekan, penurunan harga terjadi karena pasar menangkap sinyal bahwa penyelesaian konflik Iran–AS bisa semakin dekat. Harapan itu mengubah sentimen, sehingga tekanan jual ikut meningkat dan harga bergerak lebih rendah.

Tetapi pada akhir pekan, pergerakan berubah arah seiring munculnya pertanyaan yang belum terjawab. Pasar masih menilai seberapa jauh kepastian kesepakatan untuk mengakhiri konflik, termasuk rencana pembukaan kembali jalur Selat Hormuz.

Ketegangan sempat kembali terasa pada Kamis (6/8/2026). Saat itu harga minyak sempat melonjak lebih dari 3 dollar AS per barrel setelah Iran meninjau rancangan undang-undang yang berpotensi melarang kapal berbendera AS dan Israel melintas di Selat Hormuz.

Rencana tersebut langsung memengaruhi persepsi risiko terhadap kelancaran pasokan dari kawasan strategis tersebut. Selat Hormuz memang menjadi jalur penting bagi perdagangan energi global, sehingga perubahan kebijakan di sana cepat tercermin pada harga.

Dalam konteks perdagangan energi, sekitar seperlima minyak dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati jalur strategis itu sebelum perang dimulai pada akhir Februari 2026. Karena itu, setiap sinyal yang mengarah pada pembatasan pelayaran kerap mendorong volatilitas.

Vandana Hari, pendiri Vanda Insights, menilai sinyal selama pekan ini membuat pasar bergerak dengan fluktuasi yang kuat. Ia mengatakan pasar sedang mencoba memahami langkah apa yang masih perlu terjadi agar kesepakatan bisa benar-benar terwujud.

“Pasar sedang mencoba menilai apa yang perlu terjadi agar kesepakatan tersebut benar-benar tercapai,” kata Hari.

Di sisi lain, Andrew Lipow dari Lipow Oil Associates menyoroti satu persoalan yang masih menjadi perhatian pasar. Menurutnya, pasar mempertanyakan apakah kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan AS tetap dapat melintas melalui Selat Hormuz berdasarkan kesepakatan yang tengah dibahas Iran dan Oman.

Ia menekankan bahwa kejelasan soal izin pelayaran menjadi kunci dalam menentukan apakah risiko akan benar-benar mereda. Lipow menyebut beberapa pertanyaan yang masih menggantung, mulai dari apakah kapal berbendera AS dapat melintas hingga nasib kapal yang menuju pelabuhan atau aktivitas yang melibatkan AS.

“Pasar sedang mencoba menilai apakah kesepakatan Iran-Oman akan memungkinkan kapal berbendera AS untuk melintasi Selat Hormuz. Apakah kapal milik AS akan diizinkan melintas? Apakah kapal yang menuju pelaburan AS akan diizinkan melintas?” kata Lipow.

Iran dan Oman disebut telah menyepakati rute yang digunakan kapal-kapal untuk melintasi selat di antara kedua negara tersebut. Namun, informasi mengenai apakah AS akan menyetujui ketentuan yang dibahas masih belum jelas, sehingga pasar belum bisa sepenuhnya menurunkan tingkat risiko.

Dengan kondisi itu, harga minyak pun cenderung menampilkan pergerakan dua arah. Di satu sisi, harapan mereda konflik memberi ruang bagi pelemahan harga. Di sisi lain, pertanyaan terkait kelayakan pelayaran di Selat Hormuz kembali memunculkan premi risiko yang memengaruhi pergerakan harian.

Hasil akhirnya, pekan ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap setiap sinyal politik dan regulasi. Ketika ekspektasi kesepakatan menguat, harga cenderung turun. Tetapi ketika kepastian menurun atau ada pembatasan yang dipertimbangkan, harga bisa kembali melonjak dalam waktu singkat.

Ke depan, pelaku pasar tampaknya akan terus memantau perkembangan rundingan terkait Iran–Oman serta respons AS atas ketentuan pelayaran. Dari sana, arah harga minyak berpotensi kembali ditentukan oleh seberapa cepat pasar mendapatkan kepastian yang benar-benar bisa dipercaya.