jurnalistik.co.id – Carlos Alcaraz menutup rangkaian US Open dengan cara yang berbeda dari kebanyakan petenis lain. Meski harus mengakhiri pertahanannya setelah duel alot, ia tetap berjalan keluar arena dengan senyum lebar—sebuah ekspresi yang ia kaitkan dengan perasaan yang sempat ia rindukan setelah berbulan-bulan tersendat cedera.
Alcaraz menelan kekalahan dari Ben Shelton dalam laga yang berlangsung 4 jam 28 menit. Setelah pertandingan, ia terekam melangkah melewati terowongan Arthur Ashe dengan senang hati, seolah keberhasilan terbesar justru ada pada proses yang ia jalani di lapangan.
Ia mengungkapkan bahwa babak perempat final terasa “seperti hadiah” baginya. “The quarter-final was great – it was a gift for me,” katanya, sambil menambahkan bahwa ia memang mengalami rasa sakit, tetapi tetap bisa menikmati pertandingan hingga akhirnya tersenyum saat keluar lapangan.
Menurut Alcaraz, kebahagiaan itu muncul karena ia merasakan kembali intensitas yang selama ini hilang. Ia harus menjalani kompetisi pertamanya dalam lebih dari lima bulan setelah cedera pergelangan tangan membuatnya merasakan nyeri setiap hari.
Akibat cedera itu, ia tidak mempertahankan gelar di French Open dan tidak tampil di Wimbledon. Ia bahkan mengaku tidak tahu apakah akan bermain di New York sampai kurang lebih seminggu sebelum turnamen dimulai.
Tidak hanya soal cedera, jadwal yang berlarut-larut di US Open juga menjadi perhatian. Setelah melihat pertandingan lain berakhir sampai pukul 3.34am (dengan lima set penuh pertarungan), Alcaraz menilai kondisi tersebut terlalu jauh, dan ia menyebut perlunya perubahan agar akomodasi penonton lebih baik.
Ia mengatakan ingin ada penyesuaian dengan batas waktu selesai maksimum pukul 11 malam atau waktu lain yang lebih ideal. “I think it’s too much. The last match people stayed but if that match was played earlier, the court could have been packed,” ujarnya, menekankan dampaknya pada kepadatan penonton di stadion.
US Open juga menyajikan beberapa penutup larut seperti yang ia singgung. Alexander Zverev disebut menyelesaikan tiga dari lima pertandingan awalnya melewati pukul 1 pagi, sedangkan Venus Williams menyelesaikan pertandingan putaran pertama pada pukul 2 pagi.
Berita Terkait
Di luar turnamen besar, musim ini pun diwarnai masalah kebugaran yang membuat sejumlah pemain melewatkan porsi penting. Jack Draper dari Inggris harus menghadapi cedera lengan yang panjang hingga akhirnya mengakhiri musim lebih cepat saat fokus pemulihan menjadi prioritas.
Persaingan Alcaraz dengan Jannik Sinner turut berubah karena cedera lutut yang membuat Sinner absen dari US Open. Alcaraz menyampaikan bahwa ia juga berencana tidak selalu memaksakan jadwal, dan akan melewatkan beberapa turnamen demi menjaga kesehatan secara mental dan fisik.
Langkah berikutnya bagi Alcaraz kini mengarah ke Laver Cup 2026. Ia akan tampil bersama Team Europe di The O2, London, pada rentang 25 hingga 27 September, dalam format pertandingan beregu yang mempertemukan Eropa melawan tim Amerika Serikat.
Tim Eropa dipimpin oleh Yannick Noah, sementara tim Amerika Serikat diawasi oleh Andre Agassi. Alcaraz menggambarkan dinamika beregu itu sebagai pengalaman yang unik: “When you have your team-mates, the best in the world, by your side, it’s a weird feeling but it’s beautiful.” Ia menambahkan bahwa mereka bermain seperti “hidup mereka bergantung pada” setiap poin, dan karena itu Laver Cup menarik untuk ditonton.
Menariknya, hubungan rivalitas Alcaraz dengan Sinner tetap menjadi salah satu cerita terbesar dalam dua musim terakhir. Keduanya membagi delapan gelar Grand Slam pada periode 2024 hingga 2025, membentuk pertarungan antar generasi yang semakin terasa sejak keduanya saling menekan di level puncak.
Mereka hanya bertemu sekali tahun ini karena berbagai cedera. Sinner keluar sebagai pemenang pada pertemuan tunggal mereka di final Monte Carlo Masters, sekaligus menjadi nomor satu dunia menurut informasi yang disebut dalam laporan tersebut.
Alcaraz mengaku tidak banyak berkomunikasi dengan Sinner, tetapi sesekali mengirim pesan ketika melihatnya sedang menang di berbagai turnamen, terutama di awal musim. “I miss him, I miss seeing him around, playing against him. He pushes me to be a better player. People will be waiting for those matches, so I think it’s going to be better,” katanya, menggarisbawahi bahwa momen pertemuan berikutnya berpotensi menghadirkan tensi yang lebih tinggi.
Bagi Alcaraz, Laver Cup menjadi panggung untuk mengembalikan ritme setelah periode panjang pemulihan. Sementara menatap laga berikutnya, ia juga membawa satu kebutuhan penting: memastikan kondisinya cukup stabil agar bisa tetap bersaing dengan intensitas yang ia rasakan sebagai “perasaan” yang sempat ia rindukan.












