jurnalistik.co.id – Pada perdagangan Senin (24/8/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat. Hingga pukul 9.10, indeks mencatat kenaikan 18,31 poin atau setara dengan penguatan 0,28% menuju level 6.544.
Pergerakan pada menit-menit awal memperlihatkan arah positif sejak pembukaan sesi. Angka penguatan tersebut menjadi gambaran awal dinamika pelaku pasar pada awal pekan.
Aktivitas dan komposisi saham di awal sesi
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah sepuluh menit berlangsung, volume perdagangan tercatat 7,53 miliar saham. Nilai transaksi mencapai Rp2,63 triliun, dengan frekuensi perdagangan sebanyak 387.417 kali.
Dari sisi pergerakan harga, sebanyak 286 saham menguat. Sementara itu, 242 saham melemah dan 203 saham tidak bergerak pada fase awal perdagangan hari ini.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa mayoritas pergerakan masih cenderung mendukung kenaikan indeks. Pada saat yang sama, adanya saham yang melemah juga menggambarkan aktivitas transaksi yang berlangsung berimbang di tengah penguatan IHSG.
Dukungan dari arus modal dan indikator ekonomi
Untuk perdagangan Senin ini, BRI Danareksa Sekuritas menyebut penguatan IHSG turut ditopang oleh net inflow investor asing sebesar Rp2,23 triliun. Selain itu, rupiah juga menguat menuju level Rp17.685/US$.
BRI Danareksa Sekuritas juga menyoroti pertumbuhan kredit yang mencapai 13% year-on-year pada Juli. Menurut penilaian riset tersebut, kondisi ini ikut menjaga momentum pasar di awal sesi.
Berita Terkait
Di sisi lain, BI Rate yang dipertahankan di 5,75% disebut berperan dalam menjaga stabilitas pasar. Kombinasi beberapa indikator tersebut menjadi konteks yang mendukung penguatan indeks pada awal perdagangan.
Proyeksi pergerakan: tetap bergerak dengan rentang
Riset BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak mixed to positive. Dalam rilis risetnya, disebutkan pula bahwa IHSG memiliki support pada rentang 6.455–6.400 dan resistance pada 6.568–6.600.
“Kami memproyeksikan IHSG bergerak mixed to positive dengan support di 6.455–6.400 dan resistance di 6.568–6.600,” mengutip riset BRI Danareksa Sekuritas.
Dengan adanya proyeksi rentang support dan resistance, arah pergerakan indeks pada sesi berikutnya berpotensi diuji melalui level-level tersebut. Sementara itu, data frekuensi transaksi, volume, serta komposisi saham yang menguat, melemah, maupun tidak bergerak tetap menjadi rujukan untuk membaca dinamika pasar sejak pukul awal perdagangan.
Pada akhirnya, penguatan IHSG yang tercatat hingga pukul 9.10 menjadi penanda awal sesi yang positif. Namun, patokan support di 6.455–6.400 dan resistance di 6.568–6.600 akan menjadi rujukan penting bagi pergerakan setelah fase pembukaan.
Penguatan IHSG yang muncul sejak awal perdagangan juga terlihat dari konsistensi arah pergerakannya pada fase paling awal, ketika pelaku pasar biasanya mulai menilai sentimen yang sedang berkembang. Kenaikan indeks hingga level 6.544 pada pukul 9.10 menjadi indikator bahwa minat beli masih dominan pada pembukaan sesi.
Aktivitas transaksi pada awal sesi menunjukkan adanya aktivitas yang cukup padat. Dalam sepuluh menit pertama, volume mencapai 7,53 miliar saham dengan nilai transaksi Rp2,63 triliun dan frekuensi perdagangan 387.417 kali. Kombinasi indikator likuiditas tersebut menguatkan gambaran bahwa perdagangan berjalan aktif, sementara komposisi 286 saham menguat, 242 melemah, dan 203 tidak bergerak memperlihatkan keseimbangan pergerakan di tengah penguatan indeks.
Dari sisi penggerak sentimen, net inflow investor asing yang mencapai Rp2,23 triliun serta menguatnya rupiah ke level Rp17.685/US$ menjadi bagian dari penopang yang disebut dalam riset. Di saat yang sama, pertumbuhan kredit sebesar 13% year-on-year pada Juli dan keputusan BI Rate yang dipertahankan di 5,75% ikut memberi latar stabilitas bagi ekspektasi pelaku pasar pada pembukaan pekan.
Untuk langkah berikutnya, proyeksi yang menempatkan IHSG pada skema mixed to positive melibatkan batas support 6.455–6.400 dan resistance 6.568–6.600. Rentang tersebut berfungsi sebagai acuan pembacaan arah pergerakan: penguatan berpotensi diuji ketika indeks mendekati area resistance, sementara pergerakan yang melemah akan lebih cepat mendapat perhatian bila indeks mendekati batas bawah support. Dengan demikian, level-level tersebut menjadi rujukan praktis dalam membaca kelanjutan dinamika setelah fase pembukaan.












