Teknologi

Counterpoint: Pengiriman Smartphone Global Diproyeksi Terus Tertekan hingga 2027

×

Counterpoint: Pengiriman Smartphone Global Diproyeksi Terus Tertekan hingga 2027

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Prospek Suram Industri Smartphone Berlangsung Hingga 2027 - Teknologi

jurnalistik.co.id – Industri smartphone global kini diproyeksikan menghadapi tekanan berkelanjutan hingga 2027. Proyeksi ini muncul setelah data pengiriman (shipment) ponsel dunia ditinjau kembali oleh Counterpoint Research.

Dalam rilis yang dikutip pada Senin (24/8/2026), Counterpoint Research menyebut laporan tersebut dipublikasikan pada 21 Agustus 2026. Intinya, kinerja pengiriman diperkirakan tidak langsung pulih pada tahun berikutnya.

Untuk 2026, shipment smartphone global diperkirakan turun 14,3%. Penurunan ini menandakan pasar masih kesulitan menembus kondisi permintaan yang lemah.

Lalu pada 2027, pengiriman diproyeksikan kembali turun 1,4%. Setelah itu, industri baru menunjukkan arah pemulihan yang lebih kuat pada 2028.

Menurut Counterpoint Research, tekanan yang menekan pasar tidak semata-mata berasal dari sisi permintaan. Faktor biaya produksi dan akses perangkat di tingkat konsumen ikut memperkuat pelemahan.

Salah satu pendorong utamanya adalah kenaikan biaya komponen. Dampaknya terasa ketika produsen harus menanggung harga komponen yang lebih tinggi dalam proses produksi perangkat.

Selain itu, ketersediaan perangkat di segmen harga terjangkau disebut ikut terbatas. Kondisi ini membuat konsumen yang biasanya menjadi mesin pertumbuhan di kelas ekonomis menghadapi lebih sedikit pilihan.

Di sisi lain, daya beli konsumen yang melemah juga disebut menjadi penekan pasar. Kombinasi antara harga yang cenderung meningkat dan kemampuan belanja yang turun membuat siklus pembelian tidak secepat periode-periode sebelumnya.

Counterpoint Research juga menggarisbawahi masalah di rantai pasok. Memori untuk perangkat mobile disebut menjadi kendala terbesar, sehingga aliran komponen yang dibutuhkan untuk produksi tidak selalu berjalan mulus.

Tekanan tersebut diperparah oleh kenaikan harga chipset. Kenaikan ini tidak hanya menyasar model tertentu, melainkan memberi dampak pada berbagai kelas smartphone, mulai dari produk premium hingga segmen menengah, termasuk perangkat lama yang masih diproduksi atau dipasarkan ulang.

Dalam skenario ini, Counterpoint memperkirakan dampak terbesar akan dirasakan oleh smartphone berharga rendah. Pada segmen tersebut, biaya komponen mengambil porsi yang lebih besar dari total biaya produksi.

Akibatnya, ruang bagi produsen untuk menyerap kenaikan biaya menjadi semakin sempit. Dengan struktur biaya seperti itu, penyesuaian harga menjadi lebih sulit dilakukan tanpa mengganggu daya beli konsumen.

Keadaan ini kemudian membentuk lingkaran tantangan yang memengaruhi volume pengiriman di sepanjang 2026 dan berlanjut ke 2027. Bahkan ketika produsen berupaya menjaga ketersediaan produk, keterbatasan komponen dan perubahan biaya dapat membuat strategi distribusi menjadi lebih terbatas.

Counterpoint Research menilai pasar masih perlu waktu untuk benar-benar pulih. Proyeksi yang melihat penurunan beruntun pada 2026 dan 2027 menunjukkan pemulihan bukan sesuatu yang instan, melainkan bergantung pada meredanya tekanan biaya dan perbaikan ketersediaan komponen.

Dengan demikian, pada 2028, pemulihan yang lebih kuat menjadi titik yang paling ditunggu. Namun sebelum sampai ke fase itu, industri diperkirakan harus melewati fase pengiriman yang tertekan, dipengaruhi oleh kombinasi biaya komponen, kendala rantai pasok, terbatasnya perangkat kelas terjangkau, serta melemahnya daya beli konsumen.

Di dalam proyeksi Counterpoint Research, berbagai tekanan tersebut tidak berdiri sendiri. Kenaikan biaya komponen—yang juga tercermin dari melonjaknya harga chipset—bertemu dengan kendala rantai pasok, khususnya masalah memori perangkat mobile. Ketika aliran komponen tidak selalu berjalan mulus, upaya menjaga ketersediaan produk ikut dibatasi oleh realitas biaya dan suplai.

Konsekuensinya, pasar menghadapi tantangan dari dua arah sekaligus. Pada saat harga cenderung naik, pilihan di segmen harga terjangkau disebut makin terbatas, sehingga konsumen berpotensi menunda atau mengurangi keputusan pembelian. Dengan daya beli yang melemah, siklus pembelian menjadi tidak secepat periode sebelumnya, sementara ruang produsen untuk menyerap kenaikan biaya juga makin sempit.

Counterpoint Research kemudian menegaskan bahwa pola penurunan beruntun pada 2026 dan 2027 menggambarkan pemulihan yang tidak instan. Perbaikan yang ditunggu lebih bergantung pada meredanya tekanan biaya dan membaiknya ketersediaan komponen. Karena itu, fase pengiriman yang tertekan diperkirakan masih berlanjut sebelum industri masuk ke arah pemulihan yang lebih kuat pada 2028.