jurnalistik.co.id – PT Swayasa Prakarsa Tbk, perusahaan manufaktur produk kesehatan berbasis riset milik Universitas Gadjah Mada (UGM), menyiapkan sebagian dana dari penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) untuk membayar kewajiban. Dalam rencana IPO, perusahaan menargetkan penerimaan dana maksimal Rp45,22 miliar.
Dari total target tersebut, Swayasa Prakarsa mengalokasikan Rp12 miliar khusus untuk pembayaran utang. Dengan skema ini, perusahaan menawarkan sebanyak-banyaknya 323 juta saham baru atau sekitar 30,30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Harga penawaran awal ditetapkan pada kisaran Rp130 hingga Rp140 per saham. Melalui penerbitan saham baru tersebut, perusahaan berharap dana yang dihimpun dapat digunakan untuk menutup bagian kebutuhan pendanaan terkait utang.
Alokasi Rp12 miliar untuk pembayaran utang terdiri dari dua komponen utama. Sebesar Rp10 miliar diarahkan untuk melunasi pinjaman kepada Yayasan Universitas Gadjah Mada (YUGM), sementara sisanya Rp2 miliar dipakai untuk membayar sebagian utang kepada PT Gama Multi Usaha Mandiri (GMUM).
GMUM disebut sebagai induk usaha Swayasa Prakarsa. Sementara itu, pinjaman dari YUGM kepada perusahaan diberikan pada 26 Februari 2026 dengan nilai Rp10 miliar.
Pinjaman tersebut dikenakan bunga 3% per tahun dan memiliki jatuh tempo pada 26 Februari 2027. Dana pinjaman itu digunakan untuk pembayaran tanah yang dimiliki Swayasa Prakarsa di Purwomartani, Kalasan, Sleman.
Berita Terkait
Perusahaan menjelaskan bahwa tanah seluas 4.161 meter persegi tersebut direncanakan untuk pembangunan fasilitas perseroan. Dalam laporan keuangan, tanah itu tercatat sebagai bagian dari transaksi pembelian tanah senilai Rp10,4 miliar yang direncanakan untuk pembangunan pabrik perseroan di masa mendatang.
Dengan demikian, rencana penggunaan dana IPO tidak hanya diarahkan pada pendanaan proyek melalui aset yang sudah disiapkan, tetapi juga pada penguatan posisi perusahaan lewat penyelesaian kewajiban. Langkah pembayaran utang yang dirinci per pihak menunjukkan fokus perusahaan pada struktur kebutuhan yang berasal dari pinjaman berjalan.
Komposisi pembayaran yang terbagi antara YUGM dan GMUM juga menggambarkan upaya perusahaan mengelola beban utang secara bertahap sesuai sumber kewajiban yang telah ada. Melalui target dana IPO maksimal Rp45,22 miliar, perusahaan menempatkan Rp12 miliar sebagai porsi yang secara spesifik dialokasikan untuk pembayaran utang, selaras dengan rencana IPO yang menawarkan hingga 323 juta saham pada kisaran harga awal Rp130-Rp140 per saham.
Dalam rincian kewajiban yang akan diselesaikan, perusahaan menempatkan utang kepada YUGM sebagai komponen utama. Pinjaman senilai Rp10 miliar tersebut dicairkan pada 26 Februari 2026, dikenakan bunga 3% per tahun, dan memiliki jatuh tempo pada 26 Februari 2027, sehingga skema pembayaran utang melalui dana IPO diarahkan untuk menutup kebutuhan sesuai waktu penyelesaian.
Pembiayaan melalui penerbitan saham baru juga diposisikan sebagai sumber dana yang sejalan dengan tujuan penyelesaian kewajiban. Dengan target penerimaan maksimal Rp45,22 miliar dan rencana penerbitan hingga 323 juta saham pada kisaran harga awal Rp130 hingga Rp140 per saham, perusahaan dapat mengarahkan sebagian pendanaan langsung ke pembayaran utang tanpa mengubah arah rencana penggunaan dana yang sudah disusun.
Selain aspek utang, perusahaan juga menghubungkan kewajiban dengan penggunaan aset yang telah disiapkan. Pinjaman tersebut sebelumnya dipakai untuk pembayaran tanah di Purwomartani, Kalasan, Sleman seluas 4.161 meter persegi, yang menurut perusahaan akan menjadi dasar pembangunan fasilitas perseroan. Dalam laporan keuangan, tanah itu tercatat terkait transaksi pembelian tanah senilai Rp10,4 miliar yang direncanakan untuk pembangunan pabrik di masa mendatang.
Pemisahan pembayaran utang antara YUGM dan GMUM turut menunjukkan bahwa penyelesaian kewajiban dirancang bertahap sesuai sumber utang yang ada. Setelah mengalokasikan Rp10 miliar kepada YUGM dan Rp2 miliar kepada GMUM, perusahaan mengunci proporsi dana IPO maksimal Rp12 miliar khusus untuk kebutuhan pembayaran utang, sehingga struktur pendanaan mendukung rencana perusahaan dalam menjaga kesinambungan antara penyelesaian kewajiban dan agenda penguatan aset.












