jurnalistik.co.id – Hubungan bisnis antara pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad atau yang dikenal sebagai Haji Isam, dengan produsen bahan baku baterai asal China, CNGR, telah terjalin cukup erat. Dalam pemberitaan Bloomberg Technoz, sejumlah jejak kerja sama keduanya masih tersisa di entitas bisnis yang tidak seluruhnya masuk dalam grup perusahaan terbuka PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK).
Kedekatan kedua pihak berangkat dari rangkaian pengembangan hilirisasi nikel di Tanah Bumbu. Dari proses tersebut, kerja sama kemudian merembet pada investasi yang berkaitan dengan rantai pasok bahan baku baterai berbasis nikel.
Bloomberg Technoz menyebutkan kerja sama Haji Isam dan CNGR mulai terlihat sejak 2022. Pada periode itu, kelompok usaha Jhonlin mengembangkan smelter nikel di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Di proyek smelter tersebut, keterlibatan CNGR muncul melalui sosok Deng Weiming. CNGR dihadirkan sebagai mitra dalam pengembangan yang terkait dengan kebutuhan industri hilir dari komoditas nikel.
Setelah kerja sama di tahap pengolahan awal berjalan, alur kolaborasi berlanjut ke bagian berikutnya dalam rantai produksi baterai. Bloomberg Technoz mencatat kerja sama kemudian berkembang melalui PT Anugerah Barokah Energy Baru (ABEB), sebuah perusahaan patungan yang dibentuk untuk mengembangkan pabrik ternary precursor berbasis nikel.
ABEB disebut menyiapkan bahan baku atau precursor ternary yang ditujukan untuk kebutuhan baterai lithium. Dengan demikian, proyek ini merekat pada tujuan yang lebih spesifik, yaitu memastikan pasokan komponen kunci dalam ekosistem baterai berbasis lithium.
Berita Terkait
Lokasi ABEB berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Setangga, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Pemilihan kawasan ini menjadi bagian dari strategi pengembangan industri yang bertahap, dari pengolahan sumber daya hingga penyediaan komponen bahan baku untuk industri baterai.
Dalam rangkaian proyek tersebut, pabrik ternary precursor ABEB diresmikan operasionalnya pada Januari 2026. Dengan dimulainya operasional pabrik pada periode itu, kerja sama Haji Isam melalui kelompok usahanya dan CNGR menjadi semakin nyata pada fase penyediaan bahan baku.
Melalui penjelasan yang dihimpun Bloomberg Technoz, proyek ABEB mempertemukan kepentingan bisnis yang berasal dari jalur yang sama: pengembangan nikel di Tanah Bumbu, lalu penajaman investasi ke bidang bahan baku baterai. Penelusuran jejak kerja sama juga menunjukkan bahwa CNGR tidak hanya hadir pada tahap awal, tetapi turut terhubung dalam pengembangan lanjutan.
Di sisi lain, pemberitaan tersebut juga menyinggung status konsolidasi aset. CNGR memang disebut berbagi bisnis dengan Haji Isam, namun ABEB belum dikonsolidasikan ke dalam grup bisnis PACK, yakni PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk. Artinya, meskipun hubungan bisnis keduanya beririsan dalam beberapa rantai proyek, tidak semua entitas hasil kolaborasi telah berada di bawah struktur grup yang tercermin pada perusahaan terbuka tersebut.
Konsekuensi dari kondisi ini adalah pemetaan kontribusi masing-masing pihak terhadap grup PACK menjadi tidak selalu sejalan dengan jejak kemitraan yang tercatat di luar grup. Untuk investor dan pemantau industri, keterpisahan ABEB dari konsolidasi PACK dapat menjadi indikator bahwa pembentukan ekosistem hilirisasi dan bahan baku baterai masih berlangsung dalam konfigurasi yang terpisah.
Secara keseluruhan, rangkaian kerja sama Haji Isam dan CNGR yang dimulai pada proyek smelter nikel di Tanah Bumbu pada 2022 kemudian berlanjut pada pembentukan ABEB. Perusahaan patungan ini berfokus pada pengembangan pabrik ternary precursor berbasis nikel, yang diresmikan operasionalnya pada Januari 2026, namun posisinya belum masuk sebagai bagian yang dikonsolidasikan ke grup bisnis PACK.









