jurnalistik.co.id – Di tempat kerja yang padat, banyak orang mengira kuncinya hanya soal CV yang “sempurna”. Namun enam pemimpin bisnis yang diwawancarai BBC News menilai pembeda justru lebih terlihat dari cara berpikir, pertanyaan yang diajukan, serta kesiapan mengambil kesempatan ketika peluang datang. Laporan ini disampaikan oleh Yasmin Rufo sebagai Business reporter dan dipublikasikan “Published 7 hours ago”.
Bagi para bos besar itu, kemampuan bersaing bukan semata-mata terlihat dari daftar keterampilan, melainkan dari sikap saat menghadapi ketidakpastian. Mereka menekankan bahwa proses rekrutmen sering kali memperlihatkan siapa yang benar-benar siap bertumbuh, berkomunikasi, dan beradaptasi dengan tantangan.
Menolak batas yang ditetapkan orang lain
Charlotte Tilbury, figur yang dikenal sebagai bos di industri kecantikan, menyebut salah satu pendorong terbesar kariernya adalah penolakannya terhadap batas yang coba diberikan pihak lain. Ia menegaskan keyakinannya lewat kalimat, “Nothing is impossible in life – it’s only your own limitations you give yourself.”
Tilbury juga mengingatkan bahwa penolakan dari orang-orang skeptis akan selalu ada. Ia menilai penting untuk tidak terseret pada suara yang meragukan gagasan, termasuk ketika banyak orang mengatakan ide-idenya tidak akan berhasil atau bahkan menyebutnya “mad”.
Dalam menghadapi kegagalan, Tilbury menyarankan perubahan cara pandang: bukan menganggap kemunduran sebagai tanda salah, melainkan peluang untuk menata ulang strategi. Ia merangkum pandangannya dengan, “I don’t think about mistakes, I think mistakes are opportunities.” Ia menambahkan bahwa tantangan besar yang pernah dihadapi malah membuatnya semakin kuat sebagai pemimpin bisnis: “challenge is opportunity and it leads you to greater places”.
Sikap lebih menentukan daripada daftar kemampuan
Charlie Bowes-Lyon, co-founder merek deodoran Wild, menyatakan penilaian terhadap kandidat tak berhenti pada komposisi skill. Menurutnya, sikap adalah faktor dominan yang membuat seseorang menonjol.
Ia menegaskan, “For me, it’s 90% attitude and 10% skills, as skills can be taught, attitude can’t.” Ia juga berharap ia lebih cepat menyadari bahwa bahkan orang-orang yang tampak sukses tidak selalu merasa percaya diri seperti yang terlihat. Bowes-Lyon menuturkan, “everyone is faking it until they’re making it”.
Dalam situasi wawancara kerja, ia menekankan satu kebiasaan sederhana namun sering terlewat: menyiapkan pertanyaan di akhir sesi. Ia menyebut, “candidates who say they have no questions rarely get the job”. Salah satu pertanyaan yang direkomendasikan adalah menanyakan seperti apa wujud “success in the job”.
Rasa ingin tahu dan komunikasi yang terukur
Marcia Kilgore, serial entrepreneur di balik sejumlah brand termasuk Beauty Pie dan Soap and Glory, menempatkan rasa ingin tahu sebagai kualitas utama yang dicari saat merekrut. Bagi Kilgore, kandidat yang baik tidak hanya diam menunggu arahan, tetapi aktif mencari cara untuk memberi nilai.
Ia menggambarkan karakter yang ia sukai melalui, “roll their sleeves up, ask lots of questions and think about how they can be useful”. Dalam pandangannya, komunikasi juga menjadi penentu karena kurangnya komunikasi kerap menjadi penyebab sesuatu “pecah” atau tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Ia memberi saran praktis untuk membangun komunikasi yang baik di tempat kerja, yaitu meluangkan jeda sebelum menjawab. Ia menyarankan untuk, “listen to what’s being asked and take a breath or five” sebelum merespons.
Kilgore menambahkan bahwa respon tidak harus langsung keluar, tetapi harus dipikirkan. Ia menegaskan, “Your response doesn’t have to be immediate, but it does have to be considered.”
Berita Terkait
Berani meraih peluang baru dengan kejujuran
Anabel Kindersley, CEO dan co-owner Neal’s Yard Remedies, memandang cara paling efektif untuk mengasah kemampuan adalah dengan terus berkata “ya” pada kesempatan baru. Ia mendorong calon yang ingin berkembang agar tidak menunggu kondisi nyaman.
Ia menyampaikan pandangannya secara tegas, “Do everything and say yes to everything – it might feel uncomfortable but do it anyway.” Ia mengatakan pendekatan itu membentuk perjalanan kariernya yang beragam, mulai dari bekerja sebagai child actress, lalu menjadi penulis, sebelum akhirnya masuk ke dunia bisnis.
Kindersley menekankan bahwa kejujuran punya peran penting. Saat menawarkan pengalaman, kandidat diminta benar-benar selaras dengan apa yang pernah dialami dan percaya pada apa yang bisa ditawarkan.
Ketika memilih orang untuk direkrut, ia menyebut ia mencari keseimbangan kemampuan emosional dan intelektual, dengan menilai “equal EQ as IQ”.
Keluar dari zona nyaman dan membangun ketahanan
Charlie Nunn, group chief executive dari Lloyds Banking Group, menyebut kualitas seperti rasa ingin tahu, ketahanan, serta kemauan yang kian meningkat untuk memikirkan bagaimana AI tools bisa dipakai di masa depan sebagai kemampuan yang ia hargai dalam diri karyawan.
Ia juga menaruh perhatian besar pada kemampuan bekerja dalam tim. Nunn merumuskannya sebagai kebutuhan inti banyak pekerjaan: “at the heart of most jobs is the ability to work together in support of something much bigger”.
Untuk membangun pengalaman, ia menyarankan mengambil peluang yang berada di luar zona nyaman. Nunn mengaku ia dulu merasa takut saat menerima peran di bidang ritel, tetapi ia menemukan bahwa pengalaman itu memberinya nilai yang berharga.
Ia menggambarkan pendekatan untuk risiko melalui kalimat, “If something feels risky, try and do it as you’ll learn more from it and it’ll build breadth around your CV that you didn’t have previously.”
Manfaatkan AI, tapi jangan menyerahkan penilaian pada teknologi
James Reed, chairman dan chief executive dari perusahaan rekrutmen Reed, menilai kesalahan besar yang sering terjadi adalah berfokus pada apa yang akan diberikan majikan, bukan apa yang bisa diberikan pelamar sebagai balasan. Ia menekankan cara pandang tersebut lewat, “The biggest mistake is thinking that the world owes you a living”.
Ia menyarankan kandidat menanyakan pada diri sendiri, “How am I the solution to an employer?” Dengan kalimat itu, Reed ingin proses aplikasi menjadi lebih jelas tentang nilai yang ditawarkan, bukan sekadar daftar harapan.
Reed juga mengingatkan bahwa penggunaan AI yang makin luas dalam rekrutmen membuat pelamar perlu mempertimbangkan bagaimana kemampuan mereka akan dibaca dan dipilih oleh teknologi, bukan hanya oleh manusia. Ia menganjurkan agar pelamar memastikan kesesuaian antara deskripsi pekerjaan dan pengalaman yang dimiliki.
Ia menyatakan, “Try and mirror the job description with your skills and experiences in your application,” agar hubungan antara kebutuhan perekrut dan apa yang bisa ditawarkan kandidat terlihat jelas.
Walau demikian, Reed tidak menempatkan AI sebagai pengganti manusia. Ia menyebut AI sebagai “a wonderful tool”, namun menegaskan bahwa alat itu tidak boleh menggantikan penilaian dan suara pribadi pelamar. Tujuannya adalah memperkuat aplikasi, bukan membuat seseorang bergantung pada teknologi untuk mengerjakan pekerjaan sepenuhnya.












