jurnalistik.co.id – Rupiah memulai perdagangan dengan pelemahan dan ikut bergerak seirama dengan sebagian besar mata uang Asia pada Kamis (17/9/2026). Tekanan muncul ketika dolar AS menguat, mempersempit ruang apresiasi bagi mata uang kawasan.
Pada pembukaan pasar spot, rupiah melemah 0,18% ke level Rp17.724/US$. Pergerakan berikutnya masih menunjukkan kecenderungan melemah, dengan rupiah terpantau turun 0,24% ke Rp17.735/US$ pada 09:10 WIB.
Kondisi tersebut tidak hanya dialami rupiah. Won Korea Selatan melemah paling dalam, lalu disusul baht Thailand, ringgit Malaysia, peso Filipina, yuan China, dolar Taiwan, serta yuan offshore.
Di sisi lain, yen Jepang hanya menguat secara terbatas. Dolar Singapura juga ikut menguat dengan porsi yang relatif lebih kecil dibanding mata uang Asia lainnya yang lebih tertekan.
Tekanan dipicu sikap hawkish The Fed
Perlambatan laju mata uang Asia berkaitan erat dengan sikap hawkish bank sentral AS, Federal Reserve. The Fed mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75–4%.
Kenaikan tersebut berdampak langsung pada dolar AS. Indeks dolar AS yang menguat terhadap enam mata uang utama berada di level 100,27, sehingga mata uang negara-negara di Asia cenderung menghadapi tekanan di pasar valuta.
Dalam situasi seperti ini, investor umumnya menilai selisih imbal hasil yang menguntungkan dolar AS akan tetap menarik untuk sementara waktu. Akibatnya, mata uang Asia menjadi lebih sulit untuk bergerak naik secara konsisten.
Peluang pengetatan lanjutan masih dinantikan pasar
Berita Terkait
Selain level suku bunga yang baru, pelaku pasar juga menaruh perhatian pada seberapa cepat The Fed akan kembali mengetatkan kebijakan. Fokus penilaian diarahkan pada dinamika inflasi yang diperkirakan semakin meluas.
Perhitungan pelaku pasar uang menunjukkan sekitar 50% peluang kenaikan suku bunga acuan pada Oktober. Ekspektasi semacam ini membuat pergerakan mata uang kawasan cenderung lebih berhati-hati, karena arah kebijakan moneter AS menjadi penentu utama arus modal di instrumen berdenominasi dolar.
Dengan demikian, pelemahan rupiah pada awal sesi mencerminkan gabungan antara penguatan dolar AS dan ketidakpastian waktu langkah kebijakan lanjutan. Saat pasar menunggu kejelasan dari data inflasi dan arah sikap The Fed, volatilitas di pasar valuta Asia cenderung meningkat.
Di tengah kondisi tersebut, perbedaan respons antar mata uang tetap tampak. Mayoritas mata uang yang melemah mencatat penurunan yang lebih nyata, sementara yen Jepang menguat terbatas dan dolar Singapura juga bergerak menguat namun tidak dominan.
Secara keseluruhan, pergerakan pada sesi pembuka menunjukkan bahwa rupiah ikut tergerus sentimen hawkish The Fed. Selama ekspektasi pengetatan kebijakan masih bercokol dan dolar AS mempertahankan penguatan terhadap enam mata uang utama di sekitar 100,27, mata uang Asia berpotensi tetap berada di bawah tekanan.
Penguatan dolar AS yang tercermin pada indeks dolar AS turut menjadi katalis utama bagi pelemahan mata uang kawasan. Saat dolar dipandang lebih menjanjikan dari sisi imbal hasil, permintaan atas aset berdenominasi dolar cenderung tetap terjaga, sehingga ruang apresiasi mata uang Asia menjadi terbatas.
Di sisi lain, perubahan suku bunga yang dinaikkan The Fed memberi sinyal bahwa arah kebijakan moneter AS masih condong ketat. Kondisi ini membuat pelaku pasar tidak hanya menilai level suku bunga saat ini, tetapi juga memperhitungkan seberapa cepat sinyal pengetatan tambahan akan berubah, sehingga respons harian di pasar valuta mudah berfluktuasi.
Dengan probabilitas kenaikan suku bunga yang diperkirakan sekitar 50% pada Oktober, pasar cenderung menahan diri sebelum memperoleh kejelasan dari perkembangan inflasi. Ketika kepastian waktu langkah kebijakan masih diperdebatkan, arus modal dapat bergerak lebih selektif dan berdampak berbeda pada tiap mata uang, sesuai sensitivitasnya terhadap dolar.
Untuk rupiah, pelemahan di awal sesi tidak berdiri sendiri, melainkan bergerak sejalan dengan kecenderungan pelemahan mayoritas mata uang Asia lainnya. Selama ekspektasi pengetatan kebijakan AS tetap dominan dan dolar mempertahankan penguatan di kisaran indeks 100,27, tekanan pada mata uang kawasan berpotensi masih terasa pada sesi-sesi berikutnya.












