Bisnis & Ekonomi

DOOH Menyiapkan Rights Issue Besar, Potensi Dilusi Hingga 95%

×

DOOH Menyiapkan Rights Issue Besar, Potensi Dilusi Hingga 95%

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – PT Era Media Sejahtera Tbk (DOOH) tengah menyiapkan aksi korporasi melalui rights issue berukuran besar. Perseroan merancang penerbitan saham baru sebanyak-banyaknya 154,78 miliar saham.

Aksi tersebut berpotensi mengubah komposisi kepemilikan pemegang saham yang sudah ada. Jika hak tidak dimanfaatkan, kepemilikan pemegang saham lama dapat terdilusi hingga 95,24%.

Rencana ini mengemuka berdasarkan keterbukaan informasi perseroan pada Jumat (2/10/2026). Di dokumen tersebut, DOOH menyebutkan jumlah saham yang akan diterbitkan dalam skema rights issue secara maksimal.

DOOH menargetkan penerbitan saham baru dengan nilai nominal Rp10 per saham. Dengan acuan tersebut, perseroan menetapkan batas maksimum jumlah saham yang bisa diterbitkan.

Dalam struktur pelaksanaannya, saham baru yang direncanakan memiliki porsi yang sangat besar dibandingkan basis modal setelah aksi. Perseroan menyatakan jumlah saham yang diterbitkan setara dengan sebanyak-banyaknya 95,24% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah pelaksanaan rights issue.

Penetapan proporsi tersebut menjadi dasar utama mengapa potensi dilusi kepemilikan disebut sangat tinggi. Dilusi muncul ketika penerbitan saham baru menambah jumlah saham beredar tanpa dibarengi peningkatan kepemilikan yang proporsional dari seluruh pemegang saham lama.

Secara konsep, rights issue memberi kesempatan kepada pemegang saham yang memiliki hak untuk membeli saham baru. Melalui mekanisme ini, pemegang saham dapat mempertahankan porsi kepemilikan mereka dibandingkan kondisi sebelum aksi dilakukan.

Namun, bagi pemegang saham yang tidak menggunakan haknya untuk membeli saham baru dalam rights issue, persentase kepemilikan mereka akan berpotensi menurun. Perseroan menyebut penurunan tersebut dapat mencapai 95,24%.

Dengan kata lain, dampak utama aksi korporasi DOOH berada pada perubahan persentase kepemilikan. Ukuran yang diproyeksikan perseroan menunjukkan dilusi yang dapat terjadi bila partisipasi pemegang saham lama tidak terjadi sesuai porsi yang diberikan melalui hak.

Pada sisi lain, penetapan nilai nominal per saham membantu memperjelas parameter teknis penerbitan. Nilai nominal Rp10 per saham menjadi acuan dalam perhitungan jumlah saham baru yang direncanakan.

Perseroan juga menyajikan keterkaitan antara jumlah saham baru dan komposisi modal setelah pelaksanaan aksi. Pernyataan bahwa saham baru setara hingga 95,24% dari modal ditempatkan dan disetor penuh mempertegas skala rights issue yang disiapkan DOOH.

Karena itu, perhatian investor pada aksi DOOH tidak hanya tertuju pada jumlah saham yang akan terbit. Investor juga perlu mempertimbangkan konsekuensi kepemilikan, terutama bagi pihak yang memilih untuk tidak mengambil haknya.

Adapun, poin penting yang disampaikan perseroan adalah adanya potensi dilusi maksimal hingga 95,24%. Angka tersebut muncul dua kali dalam rincian yang sama: sebagai batas dilusi kepemilikan dan juga sebagai porsi dari modal ditempatkan serta disetor penuh setelah aksi.

Dengan demikian, rights issue yang dirancang DOOH dapat menjadi faktor yang memengaruhi struktur kepemilikan di perusahaan. Bagi pemegang saham lama, keputusan menggunakan hak atau tidak akan menentukan seberapa besar penurunan persentase kepemilikan yang mungkin terjadi.

Rencana DOOH ini menempatkan aksi korporasi pada kategori berskala besar, setidaknya dari sisi jumlah saham baru yang akan diterbitkan dan estimasi dilusi yang dinyatakan perseroan. Terkait hal tersebut, pelaku pasar umumnya akan menantikan kelanjutan informasi terkait pelaksanaan aksi setelah pengumuman keterbukaan pada 2 Oktober 2026.

Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan pada Jumat (2/10/2026), DOOH juga menegaskan bahwa angka-angka yang dipakai bersifat maksimum. Artinya, rencana penerbitan saham dan besaran potensi dilusi disusun berdasarkan skenario terbesarnya, sesuai batas yang tercantum dalam dokumen.

Pada praktiknya, pemegang saham yang menggunakan hak pembelian akan memiliki ruang untuk menjaga proporsi kepemilikan agar tidak terdampak terlalu jauh. Sebaliknya, pihak yang tidak ikut berpartisipasi berpotensi melihat porsi kepemilikan mereka bergeser, karena tambahan saham baru memperbesar basis saham yang beredar.

Dengan nominal Rp10 per saham yang dijadikan rujukan teknis, investor dapat menilai parameter utama penerbitan sebelum melihat tahap berikutnya. Bagi pemegang saham lama, pertimbangan keputusan memanfaatkan atau tidak memanfaatkan hak menjadi penentu langsung terhadap seberapa besar penurunan persentase kepemilikan yang mungkin terjadi.