Bisnis & Ekonomi

Mulai Kerja Baru: Tips Agar Transisi Lancar di Hari-Hari Pertama

×

Mulai Kerja Baru: Tips Agar Transisi Lancar di Hari-Hari Pertama

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: New job? Here's how we survived the first few days

jurnalistik.co.id – Mengawali pekerjaan baru kerap terasa menegangkan, apalagi ketika semua sistem, kebiasaan, dan cara kerja masih asing. Namun, pengalaman empat orang yang baru mulai bekerja menunjukkan satu benang merah: transisi bisa lebih lancar bila sejak hari-hari pertama komunikasi, pembelajaran, dan relasi dibangun dengan sadar.

Keempat karyawan ini datang dari latar yang berbeda, tetapi menghadapi tantangan yang mirip: adaptasi terhadap ritme baru, tuntutan peran, serta kebutuhan untuk memahami ekspektasi tim. Dari cara mereka menyiapkan langkah awal hingga bagaimana mereka meminta dukungan saat menemui kebuntuan, semuanya berangkat dari prinsip yang sederhana: jangan menunggu sampai terlambat.

Komunikasi saat mulai merasa tersangkut

Sarisha Ganesan, 22, menjalani peran gradien pertamanya di bidang pemasaran. Ia menyelesaikan studi di Loughborough University pada Juni, lalu memulai posisi graduate tersebut pada bulan lalu. Menariknya, pekerjaannya bersifat sepenuhnya jarak jauh, sehingga persiapan hari pertama dilakukan jauh-jauh hari.

Untuk meminimalkan rasa canggung saat masuk rapat, Sarisha mengirim email kepada rekan kerja sebelum hari kerja dimulai. Ia menjelaskan bahwa ia bisa langsung mengenal suasana pertemuan tanpa harus menunggu adaptasi terjadi secara bertahap. Sarisha mengungkap, “I got to meet everyone virtually in the morning meeting, we went around and did mini introductions,”.

Setelah beberapa sesi berjalan, ia menyadari lingkungan kerjanya lebih kolaboratif daripada yang semula ia bayangkan. Ia juga menyebut adanya banyak pertemuan sepanjang hari serta pemeriksaan melalui panggilan secara berkala. Dalam pengamatannya, perubahan ini menuntut cara menata waktu dan perhatian yang berbeda dari kebiasaan saat kuliah.

Ketika membahas kunci menghadapi beberapa minggu pertama, Sarisha menekankan pentingnya memberi tahu manajer dan tim sejak awal jika ada tugas yang membuat bingung atau jika beban terasa berlebihan. Ia menyarankan agar seluruh pihak tidak perlu menunggu sampai seseorang tertinggal.

Ia menegaskan, “Let everyone know where you are with tasks to avoid them having to chase you up. “They don’t expect you to know everything so make sure to communicate with them if things become unfamiliar or if you feel like you have too much on your plate and need a hand,”.

Minta ritme evaluasi agar tujuan tetap jelas

Oliver Walker, 23, memulai peran graduate hanya berselang satu minggu setelah lulus dari University of Liverpool pada Mei. Ia mulai bekerja di sebuah agensi pemasaran untuk mengerjakan kampanye media sosial. Meski persiapannya tidak banyak, ia berusaha agar langkah pertama tidak dilakukan dalam kondisi benar-benar gelap.

Oliver mengakui ia masuk ke pekerjaan baru dengan keterbatasan waktu. Ia mengatakan, “I didn’t have much time to prepare and went into it very unknown. There was very little time to do research on the responsibilities that came with my role,”. Dalam situasi seperti itu, ia memilih cara yang lebih pragmatis: mencari pemahaman tentang organisasi sebelum terlalu jauh terlibat.

Ia menyebut melakukan semacam “company stalking” agar tidak merasa benar-benar tidak tahu apa pun tentang tempat ia bekerja. Pendekatannya membantu ia memahami konteks organisasi, sekaligus mengurangi risiko salah langkah karena asumsi yang tidak sesuai.

Tip utama Oliver adalah memfokuskan diri pada proses belajar dan pengembangan kemampuan di peran tersebut. Pada hari pertamanya, ia mendiskusikan dengan manajernya agar ada check-in setiap enam bulan untuk memastikan ia mencapai target yang diharapkan.

Ia juga menekankan orientasi pada kontribusi nyata dalam perusahaan. Oliver menyatakan, “For me, being a valuable member of my company is important. “I’ve been able to interact with incredibly helpful people in my company because I was asking to attend company events and saying yes when the opportunities appeared,”.

Berani meminta bantuan lebih cepat, lebih sehat

Chinaza Eke, 20, baru saja menyelesaikan magang musim panas selama delapan minggu di sektor pemerintahan. Ia bekerja dengan layanan publik sebagai peserta magang, dan sebagai mahasiswa tingkat tiga di University of Warwick, ia diberi lima tugas utama selama program tersebut. Pada prosesnya, ia juga harus beradaptasi dengan sistem perangkat lunak dan platform baru yang sebelumnya belum dikenalnya.

Di awal, Chinaza sempat ragu untuk bertanya. Ia menjelaskan bahwa meminta bantuan terasa seperti mengakui kekurangan kemampuan. Chinaza mengatakan, “I didn’t want to ask for help because it felt like I’d be admitting I didn’t have the skills to be there,”.

Namun, setelah beberapa hari berlalu, ia menyadari bahwa mencari arahan justru merupakan bagian dari ekspektasi peran. Ia juga menyadari bahwa berpura-pura paham dapat merugikan dalam jangka panjang.

Chinaza menambahkan, “Having my line manager encourage me to slow down was an adjustment from the intense environment of university,”. Dari sini tampak bahwa dukungan tidak selalu berbentuk jawaban instan, tetapi juga kebiasaan baru dalam mengatur tempo.

Untuk mereka yang baru mulai, Chinaza menyarankan agar bertanya saat dibutuhkan, sedini mungkin. Ia menegaskan bahwa dengan mengakui kebutuhan untuk belajar, seseorang juga membuka peluang membangun hubungan yang berharga. Chinaza menyebutkan, “You can make so many valuable connections by admitting you need help. There is nothing wrong with being unable to do it straight away,”.

Bangun relasi di luar tim terdekat

Elijah Amoako, 26, mengawali pekerjaan baru setelah berpindah tempat kerja. Ia kini bertugas mengelola relasi industri, sehingga tahap persiapan hari pertama baginya tidak berhenti pada mempelajari tugas, tetapi juga memahami pihak-pihak yang akan ditemui dan cara organisasi berjalan.

Sebelum hari pertama, Elijah melakukan riset untuk memahami tim yang akan ia masuki. Ia menekankan pentingnya datang dengan sikap ingin tahu dan pikiran terbuka, bukan merasa harus menguasai semuanya sejak detik pertama. Elijah berkata, “I think it’s important to arrive curious and open-minded, rather than feeling like you need to know everything from day one,”.

Karena ia berasal dari perusahaan yang berbeda, Elijah memilih memberi waktu untuk mengamati bagaimana pekerjaan dilakukan di tempat baru, tanpa mengasumsikan praktik yang sama. Ia memahami bahwa kebiasaan tim lain bisa berbeda, sehingga observasi menjadi langkah penting sebelum mencoba mengambil keputusan.

Dalam pandangannya, relasi tidak cukup dibatasi pada orang-orang di tim langsung. Ia menyarankan untuk membangun hubungan lebih luas agar peluang yang muncul juga lebih beragam. Elijah menekankan bahwa reputasi seseorang mulai dibangun sejak hari pertama, melalui sikap yang bisa dipercaya, rasa ingin tahu, dan kemampuan bekerja sama. Ia menyatakan, “Your reputation starts being built from day one, through how reliable, curious and collaborative you are. “Building relationships and understanding how an organisation operates is equally important,”.

Rapikan dasar-dasar sebelum hari pertama

Saran dari Lizzie Crowley, penasihat kebijakan senior di Chartered Institute of Personnel and Development, mempertegas bagian yang sering dilupakan: sebelum melangkah lebih jauh, pastikan banyak hal dasar sudah siap. Ia menyampaikan bahwa perlu “get many of the basics in place” menjelang hari pertama.

Jika dirangkum, transisi yang lebih mulus bukan datang dari keberanian yang meledak-ledak, melainkan dari kebiasaan kecil yang konsisten: menanyakan hal yang belum dipahami, menyampaikan kondisi ketika tugas terasa berat, meminta ritme evaluasi, dan memperluas relasi untuk memahami cara organisasi bekerja.

Dengan pendekatan seperti itu, hari-hari pertama tidak lagi terasa seperti ujian yang harus dilewati sendirian, melainkan fase adaptasi yang bisa dibantu, dipelajari, dan ditata bersama tim.