jurnalistik.co.id – Nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 tercatat sebesar US$26,2 miliar. Angka ini tumbuh 6,05% dibanding periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).
Performa tersebut berada di atas proyeksi konsensus yang dihimpun Bloomberg hingga Senin (31/8/2026). Dalam surveinya, sejumlah ekonom dan analis memperkirakan ekspor Indonesia hanya akan tumbuh 3,2% secara tahunan.
Namun, hasil rata-rata survei pada periode tersebut justru berada di kisaran 2,7%. Dengan demikian, realisasi pada Juli 2026 menunjukkan akselerasi yang melampaui ekspektasi yang sempat dihimpun sebelumnya.
Dari sisi perbandingan internal, kinerja Juli juga tercatat lebih rendah dibanding capaian Juni 2026. Pada Juni, nilai ekspor dilaporkan tumbuh 8,84% (yoy), sehingga perlambatan pertumbuhan tampak dari angka-angka yang berurutan.
Nonmigas mengangkat pertumbuhan
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa kenaikan nilai ekspor secara tahunan pada Juli 2026 terutama dipengaruhi oleh ekspor nonmigas. Menurutnya, dorongan tersebut datang dari kenaikan nilai ekspor pada sejumlah komoditas.
“Kenaikan nilai ekspor Juli 2026 secara tahunan terutama didorong oleh kenaikan nilai ekspor nonmigas, yaitu pada beberapa komoditas. Ini terutama komoditas bahan bakar mineral yang naik 34,86%, dengan andil 3,41% terhadap kenaikan total ekspor,” ujar Ateng, Selasa (1/9/2026).
Pada rincian kontribusi, nilai ekspor migas tercatat sebesar US$790 juta. Angka tersebut turun 14,58%, sehingga migas tidak menjadi penopang utama kenaikan total nilai ekspor Juli.
Sementara itu, nilai ekspor nonmigas justru mencatat pertumbuhan. Nilainya meningkat 6,84% dan mencapai US$25,45 miliar, yang berarti bagian terbesar dari nilai ekspor total pada bulan tersebut berasal dari kelompok nonmigas.
Berita Terkait
Perbedaan arah pergerakan migas dan nonmigas ini memperjelas mengapa total ekspor tetap bertumbuh meski migas mengalami penurunan. Dengan kata lain, kenaikan pada komoditas-komoditas nonmigas menjadi penyangga utama agar nilai ekspor Juli tetap naik.
Dalam penjelasan Ateng, salah satu komponen yang paling menonjol adalah komoditas bahan bakar mineral. Komoditas tersebut disebut mengalami kenaikan hingga 34,86%, dengan andil sebesar 3,41% terhadap kenaikan total ekspor.
Perbandingan dengan proyeksi dan bulan sebelumnya
Jika dibandingkan proyeksi konsensus yang dihimpun Bloomberg, realisasi Juli berada pada posisi yang lebih kuat dari perkiraan yang berkisar 3,2% dan rata-rata 2,7% (yoy). Gambaran ini mengindikasikan bahwa dinamika di pasar ekspor tidak sepenuhnya sejalan dengan ekspektasi saat survei dilakukan.
Di saat yang sama, ketika dilihat terhadap Juni 2026, pertumbuhan Juli memang lebih rendah. Namun, meski melambat dari 8,84% menjadi 6,05% (yoy), nilai ekspor tetap menunjukkan tren naik karena nonmigas tumbuh positif dan migas terkoreksi.
Secara keseluruhan, struktur capaian Juli memperlihatkan bahwa sumber penguatan ekspor lebih banyak bersumber dari komponen nonmigas, bukan migas. Rinciannya juga menegaskan peran bahan bakar mineral melalui kenaikan 34,86% serta andil 3,41% pada total kenaikan ekspor.
Dengan latar tersebut, perhatian terhadap komoditas nonmigas—terutama yang berkaitan dengan bahan bakar mineral—menjadi relevan untuk memahami arah pertumbuhan ekspor pada periode berikutnya. Realisasi Juli 2026 memperlihatkan bahwa kontribusi komoditas tertentu dapat mengubah keseluruhan kinerja, sekaligus membedakannya dari proyeksi serta capaian bulan sebelumnya.
Struktur kenaikan Juli juga menunjukkan pergeseran penopang ekspor: ketika migas mengalami penurunan 14,58% hingga berada di kisaran US$790 juta, pergerakan nonmigas justru menguat 6,84% menjadi US$25,45 miliar. Kondisi ini membuat ekspor total tetap naik, karena dorongan terbesar datang dari kelompok nonmigas yang berkontribusi lebih dominan pada nilai ekspor bulan tersebut.
Di sisi lain, perbedaan antara hasil survei konsensus dan realisasi memberi sinyal bahwa proyeksi tidak sepenuhnya menangkap dinamika yang terjadi selama periode yang diamati. Realisasi Juli yang tumbuh di atas kisaran perkiraan, sekaligus melambat dibanding Juni, tetap menggambarkan adanya akselerasi pada bagian tertentu—khususnya bahan bakar mineral yang naik 34,86%—sehingga arah kinerja ekspor ikut berubah mengikuti komposisi komoditasnya.












