jurnalistik.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia kembali mencatat surplus pada Juli 2026 sebesar US$120 juta. Performa ini datang setelah dua bulan sebelumnya masih berada di zona defisit.
Dalam rilis yang disampaikan BPS, capaian Juli 2026 dinilai hampir sejalan dengan proyeksi konsensus ekonom dan analis yang memperkirakan neraca perdagangan akan bergerak menuju impas. Sebelumnya, tren melemah lebih dulu terlihat pada Mei dan Juni 2026.
Pada Mei 2026, neraca perdagangan barang Indonesia mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar. Kondisi berlanjut di Juni 2026 dengan defisit yang tercatat sebesar US$450 juta.
Meski demikian, catatan BPS menunjukkan bahwa Indonesia sempat mempertahankan surplus dalam periode panjang. Neraca dagang tercatat surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, dengan surplus terakhir sebesar US$89,1 juta pada April 2026.
Nonmigas menjadi penopang utama
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan bahwa surplus neraca perdagangan Juli 2026 terutama ditopang komoditas nonmigas. Menurut BPS, nilai surplus nonmigas mencapai US$3,10 miliar.
Kontributor terbesar surplus nonmigas berasal dari beberapa kelompok komoditas utama. BPS menyebut lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja sebagai komoditas yang menyumbang surplus.
Berita Terkait
Pada saat yang sama, neraca perdagangan migas justru berada dalam tekanan. Ateng menyatakan, “Pada saat yang sama, neraca perdagangan migas defisit US$2,98 miliar dengan komoditas penyumbang defisit adalah hasil minyak dan minyak mentah,” kata Ateng dalam konferensi pers BPS, Selasa (1/9/2026).
Uraian BPS tersebut menunjukkan bahwa perbaikan di neraca perdagangan barang secara keseluruhan lebih banyak ditentukan oleh arah pergerakan nonmigas. Sementara itu, kelompok migas masih mencatat defisit, dengan penyumbang utama berasal dari hasil minyak dan minyak mentah.
Dengan komposisi nonmigas yang surplus serta migas yang defisit, posisi neraca perdagangan pada Juli 2026 tetap berakhir positif. Angka surplus US$120 juta tersebut melanjutkan pola yang pernah terjadi sebelumnya dalam rentang surplus panjang sejak pertengahan 2020.
Secara ringkas, BPS menempatkan Juli 2026 sebagai periode pemulihan setelah defisit pada dua bulan terakhir. Rangkaian data Mei dan Juni yang menunjukkan penurunan, lalu diikuti capaian surplus pada Juli, menjadi konteks penting dalam membaca pergerakan neraca perdagangan barang Indonesia.
Menurut keterangan BPS, dinamika Juli 2026 dapat dipahami sebagai pergeseran arah setelah dua bulan sebelumnya menunjukkan pelemahan neraca perdagangan barang. Saat defisit Mei dan Juni sempat menekan kinerja, capaian surplus pada Juli memberi sinyal bahwa aliran perdagangan mulai kembali menyeimbangkan diri menuju kondisi yang lebih mendekati titik impas.
Perincian yang disampaikan BPS juga menegaskan bahwa perbaikan tidak datang merata dari seluruh kelompok komoditas. Nonmigas justru tampil dominan dengan surplus yang cukup besar, sehingga mampu menahan dampak dari komponen migas yang masih mencatat defisit. Dengan kata lain, angka surplus Juli tetap positif karena komposisi lebih banyak ditopang oleh sektor nonmigas.
Di sisi lain, BPS menyebut migas berada dalam tekanan, dengan defisit mencapai US$2,98 miliar. Kontributor utama defisit berasal dari hasil minyak dan minyak mentah. Temuan ini memberi gambaran bahwa pemulihan yang terjadi lebih berkaitan dengan perubahan kinerja kelompok nonmigas, sementara sektor migas belum menunjukkan pergeseran yang sama pada periode tersebut.
BPS juga menggambarkan bahwa pola surplus yang terbentuk bukan kejadian sekali saja, melainkan beriringan dengan rentang panjang sejak pertengahan 2020. Keterangan mengenai surplus berturut-turut selama 72 bulan, termasuk surplus terakhir pada April 2026 sebesar US$89,1 juta, memperkuat konteks bahwa Juli 2026 merupakan bagian dari kelanjutan tren yang sebelumnya sudah terbangun, meskipun sempat diselingi defisit pada Mei dan Juni.












