Bisnis & Ekonomi

Rupiah Diprediksi Tetap Stabil saat Dolar AS Stabil dan Harga Minyak Terpangkas

×

Rupiah Diprediksi Tetap Stabil saat Dolar AS Stabil dan Harga Minyak Terpangkas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Diramal Stabil Saat Dolar AS & Harga Minyak Terpangkas - Market

jurnalistik.co.id – Pergerakan rupiah pada perdagangan Rabu (26/8/2026) diperkirakan masih mampu menjaga kecenderungan stabil. Proyeksi ini sejalan dengan dolar AS yang relatif terjaga serta koreksi harga minyak mentah yang terjadi dalam tiga hari beruntun.

Di pasar spot, rupiah dinilai memperoleh ruang untuk bertahan di zona yang lebih teratur setelah harga minyak mengalami penurunan berlanjut. Koreksi tersebut tercermin dari pergerakan dua acuan utama minyak dunia pada waktu yang sama.

Harga minyak Brent kembali terpangkas sebesar 2% menjadi US$86,81 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga turun 1,78% ke level US$80,89 per barel pada pukul 07:20 WIB.

Di sisi lain, dinamika yang relevan juga terlihat pada pasar Non-Deliverable Forwards (NDF). Pada posisi Rp17.743/US$, pergerakan NDF tercatat berubah 0,04%, memberi sinyal bahwa ekspektasi pelaku pasar terhadap kurs masih relatif terkendali.

Ketika memasuki perdagangan, mata uang sejumlah negara Asia juga bergerak dengan arah yang bervariasi. Ringgit Malaysia menguat 0,12%, diikuti won Korea Selatan yang hanya sedikit naik 0,01%.

Namun tidak semua mata uang bergerak searah. Yen Jepang justru mempertahankan pelemahan sebesar 0,04%, sementara dolar Hong Kong bergerak 0,01%.

Dolar AS Stabil di Tengah Perubahan Ekspektasi Imbal Hasil

Di tingkat dolar, indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama tercatat bergerak stabil di 98,91. Kondisi ini muncul setelah adanya perkembangan kebijakan dari otoritas AS yang sempat memengaruhi yield obligasi.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengumumkan penggandaan buyback untuk obligasi berjangka 10–30 tahun. Meski yield tenor panjang sempat turun cukup tajam, pergerakan dolar kemudian kembali mereda dan menjaga stabilitas indeks pada angka 98,91.

Penurunan yield yang paling menonjol terjadi pada tenor 30 tahun. Yield 30 tahun tercatat turun 10 basis poin (bps) ke sekitar 5,18%, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007.

Dengan yield tenor panjang yang bergerak turun dan indeks dolar yang tetap berada dalam kisaran stabil, tekanan terhadap mata uang berisiko cenderung tidak membesar. Dalam konteks Indonesia, kombinasi faktor tersebut dipandang mendukung rupiah agar tetap dapat bergerak dengan kecenderungan yang lebih seimbang.

Perkiraan stabilitas rupiah juga dibangun dari kesinambungan koreksi minyak mentah. Penurunan harga Brent dan WTI dalam tiga hari beruntun menjadi latar penting yang ikut menyeimbangkan sentimen pasar valas.

Secara keseluruhan, pada Rabu (26/8/2026) rupiah diproyeksikan masih memiliki tenaga untuk mempertahankan pergerakan stabil. Di saat yang sama, pasar memantau perkembangan dolar AS yang relatif mantap serta respons terhadap sinyal kebijakan pembelian kembali obligasi di AS yang sempat menggeser imbal hasil tenor panjang.

Pergerakan Non-Deliverable Forwards yang hanya berubah tipis pada kisaran Rp17.743/US$ juga memperkuat gambaran bahwa pasar tidak sedang memasang ekspektasi ekstrem. Dengan sinyal tersebut, pelaku pasar cenderung menjaga posisi secara lebih hati-hati, sehingga ruang rupiah bergerak tetap terarah.

Kendati perdagangan memasuki sesi, sentimen utama tampak tetap ditopang oleh pola yang sama: dolar AS berada dalam kondisi relatif mantap, sementara koreksi harga minyak mentah berlanjut dari hari ke hari. Kombinasi dua arus ini membantu meredam potensi lonjakan sentimen, sehingga volatilitas kurs dinilai tidak menjadi dominan.

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang yang saling mengimbangi turut menggambarkan dinamika yang belum mengarah pada satu arah tunggal. Ringgit Malaysia menguat 0,12% dan won Korea Selatan naik 0,01%, sedangkan yen Jepang melemah 0,04% dan dolar Hong Kong bergerak 0,01%, menghasilkan gambaran bahwa reaksi pasar lebih berupa penyesuaian bertahap.

Pada bagian dolar, stabilitas indeks yang tetap berada di 98,91 dipandang berhubungan dengan respons pasar terhadap kebijakan buyback. Setelah pengumuman Scott Bessent mengenai penggandaan buyback untuk obligasi 10–30 tahun memicu penurunan imbal hasil tenor panjang, arah berikutnya adalah meredanya tekanan pada dolar, termasuk ketika yield tenor 30 tahun turun sekitar 10 bps ke level 5,18%.