Bisnis & Ekonomi

Rupiah Melemah 0,57% ke Rp17.901/US$ Dipicu Fed Hawkish

×

Rupiah Melemah 0,57% ke Rp17.901/US$ Dipicu Fed Hawkish

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Melemah Bersama Mata Uang Asia - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah melemah 0,57% hingga menutup perdagangan Kamis (24/9/2026) di level Rp17.901 per US$. Pergerakan nilai tukar kali ini terjadi di tengah tekanan dari faktor eksternal yang dinilai makin menguat.

Dalam kondisi pasar yang cenderung risk-off, pelemahan rupiah sejalan dengan melemahnya aktivitas di instrumen lain. Sentimen tersebut terutama datang dari ekspektasi kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve.

Usai The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 3,75–4%, pasar menilai masih ada peluang pengetatan lanjutan dalam waktu dekat. Kontrak pandangan mengarah pada kemungkinan setidaknya satu kali kenaikan lagi sebelum akhir tahun ini.

Tekanan hawkish dari The Fed diyakini ikut mendorong penguatan dolar AS, sehingga mata uang negara berkembang menjadi lebih rentan terhadap arus modal. Pada saat yang sama, harga minyak mentah juga masih bergerak tinggi.

Harga minyak mentah tercatat naik 0,63% menjadi US$103,73 per barel. Kenaikan tersebut diperkirakan berpotensi menekan inflasi, sehingga menguatkan alasan The Fed untuk mempertahankan nada kebijakan yang lebih ketat.

Di pasar saham, IHSG ikut terkoreksi. Indeks Harga Saham Gabungan melemah hingga 6.299 atau turun 1,14% pada 14:57 WIB.

IHSG dibuka pada 6.364,98, sempat bergerak terbatas menguat ke 6.368,57. Namun setelah itu indeks berbalik turun dan menyentuh level terendah intraday di 6.287,46.

Sementara itu, kondisi pasar obligasi relatif lebih stabil dibanding saham. Yield untuk tenor 1 tahun turun 4,5 bps menjadi 6,7%, sedangkan tenor 10 tahun juga turun 1,6 bps ke 7,09%.

Meskipun cenderung tenang pada beberapa bagian kurva, obligasi pemerintah tidak sepenuhnya kebal dari tekanan. Pada tenor menengah, yield justru tercatat mengalami kenaikan.

Yield tenor 5 tahun naik 9 bps, dan tenor 4 tahun meningkat 9 bps. Pada saat yang sama, level yield untuk tenor 4 tahun berada di kisaran 6,96% hingga 6,97%.

Secara keseluruhan, rangkaian data tersebut menunjukkan pasar sedang menimbang ulang arah kebijakan AS, sekaligus mempertimbangkan dampak lanjutan dari komoditas yang tetap tinggi. Dalam lingkungan seperti ini, rupiah berpotensi tetap bergerak mengikuti ritme sentimen global dan pergerakan dolar.

Dengan The Fed yang sudah menaikkan suku bunga ke 3,75–4% serta proyeksi kenaikan lanjutan hingga akhir tahun, pelaku pasar tampak menempatkan ekspektasi yang lebih ketat. Kombinasi itu, ditambah kenaikan minyak ke US$103,73 per barel, menjadi faktor yang menjaga tekanan terhadap aset berisiko dan mata uang domestik.

Pergerakan rupiah yang menurun dalam sesi tersebut juga mencerminkan perubahan preferensi investor yang cenderung mengutamakan aset berisiko lebih rendah. Ketika dolar AS menguat, biaya lindung nilai dan kebutuhan valuta asing bagi pelaku pasar umumnya ikut meningkat, sehingga ruang penyangga bagi mata uang domestik ikut menyempit.

Aktivitas saham yang melemah memperkuat gambaran risk-off yang sama. Setelah indeks sempat bergerak terbatas di wilayah awal pembukaan, tren justru berbalik karena minat beli tidak mampu bertahan pada level yang lebih tinggi. Koreksi yang berujung pada penurunan hingga titik terendah intraday menunjukkan respons pasar yang cepat terhadap sinyal suku bunga dan penguatan dolar.

Di sisi pendapatan tetap, pola pergerakan yield memperlihatkan bahwa sentimen tidak bergerak seragam di seluruh tenor. Penurunan pada tenor 1 tahun dan 10 tahun menggambarkan ada bagian kurva yang relatif lebih terbatas tekanannya, namun kenaikan pada tenor 4–5 tahun menandakan ekspektasi pasar terhadap imbal hasil menengah tetap berubah, sejalan dengan proyeksi kebijakan yang lebih ketat.

Dengan minyak mentah yang tetap berada di atas level tinggi dan ikut menjaga kekhawatiran terhadap inflasi, pelaku pasar cenderung menilai prospek kebijakan AS masih menjadi penentu utama. Dalam kondisi seperti ini, rupiah berpotensi terus mengikuti kombinasi antara dinamika dolar, arah imbal hasil, serta harga komoditas yang belum menunjukkan pelemahan berarti.