jurnalistik.co.id – Bank Indonesia menegaskan sikap kebijakan moneter dengan mempertahankan suku bunga dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (23/9/2026). Keputusan ini membuat level suku bunga tetap, meski pembahasan pasar biasanya menunggu sinyal apakah BI akan melanjutkan pengetatan atau mulai mengubah arah kebijakan.
Dari sudut pandang ekonom, opsi BI untuk mempertahankan suku bunga hingga akhir tahun dinilai masih punya ruang. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kondisi yang membolehkan BI bertahan pada level saat ini masih dapat terpenuhi selama indikator utama tetap terkendali.
“Ke depan, ruang untuk mempertahankan suku bunga masih terbuka selama tekanan inflasi tetap terkendali dan stabilitas pasar keuangan terjaga,” kata Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet kepada Bloomberg Technoz, Kamis (24/9/2026).
Manilet memandang keputusan menahan suku bunga bukan berarti BI berhenti mengawasi dinamika kebijakan. Menurutnya, BI sebelumnya sudah melakukan pengetatan yang cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Ia menyebut BI menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin dari 4,75% menjadi 5,75%.
Dalam kerangka transmisi kebijakan moneter, perubahan suku bunga tidak langsung bekerja seketika. Proses ini membutuhkan waktu agar dampaknya merembet ke berbagai sektor, termasuk kredit, konsumsi, dan investasi. Karena itu, ketika BI memilih mempertahankan suku bunga pada level sekarang, ada waktu yang lebih luas untuk mengevaluasi efektivitas langkah yang sudah ditempuh.
Manilet menekankan bahwa pengambilan langkah lanjutan akan menjadi lebih terukur bila BI terlebih dahulu menilai hasil dari kebijakan pengetatan sebelumnya. Dengan begitu, sikap “menahan” bisa dipahami sebagai fase observasi sekaligus penilaian ulang atas efektivitas kebijakan moneter yang telah berjalan.
Inflasi dinilai tetap jadi penentu utama
Sisi inflasi juga dipandang relatif terkendali. Walaupun tekanan harga sempat bergerak naik dalam beberapa bulan terakhir, Manilet menyoroti bahwa kenaikan tersebut terutama dipicu oleh kelompok harga pangan yang cenderung berfluktuasi.
Pola tersebut membuat perhatian kebijakan tidak sekadar tertuju pada besaran inflasi saat ini, tetapi juga pada karakter penyebab kenaikan harga. Jika pendorongnya berasal dari komponen pangan yang mudah bergerak, maka kestabilan inflasi dapat dipertahankan selama volatilitas tersebut tidak meluas menjadi gangguan yang lebih luas.
Berita Terkait
Dalam pandangan Manilet, kondisi tersebut memberi ruang bagi BI untuk tetap menjaga suku bunga, sepanjang tekanan inflasi berada dalam koridor yang dapat dikendalikan. Dengan kata lain, keputusan menahan suku bunga dipautkan pada kemampuan menjaga inflasi tetap terkendali.
Selain inflasi, stabilitas pasar keuangan disebut juga sebagai syarat penting. Manilet menempatkan kestabilan pasar keuangan sebagai komponen yang perlu tetap terjaga agar BI bisa mempertahankan kebijakan tanpa harus segera mengubah orientasi tingkat suku bunga.
Penilaian ini sejalan dengan cara kebijakan moneter biasanya dihubungkan dengan kondisi makroekonomi. Ketika stabilitas sistem keuangan relatif terjaga dan tekanan inflasi tidak melebar, otoritas dapat memilih strategi yang lebih selektif, termasuk menunggu sinyal transmisi kebijakan bekerja.
Menunggu efek kebijakan menahan perubahan tambahan
Dari sisi transmisi, Manilet menekankan bahwa transmisi kebijakan moneter membutuhkan waktu untuk memengaruhi kredit, konsumsi, dan investasi. Oleh sebab itu, menahan suku bunga pada level sekarang dimaknai memberi jeda yang diperlukan agar efek pengetatan sebelumnya bisa terlihat pada aktivitas ekonomi.
Jeda kebijakan ini juga membuka kesempatan bagi BI untuk menilai apakah perubahan suku bunga yang sudah diterapkan berkontribusi pada pengendalian inflasi. Jika pengaruh tersebut sesuai arah yang diharapkan, BI memiliki alasan kuat untuk tidak buru-buru melakukan langkah tambahan.
Namun, penilaian tersebut tetap bertumpu pada dua kriteria yang disebut Manilet: tekanan inflasi harus terkendali, sementara stabilitas pasar keuangan harus terus dijaga. Selama kedua kondisi itu dapat dipenuhi, ruang mempertahankan suku bunga dinilai masih terbuka.
Dengan demikian, keputusan BI pada RDG Rabu (23/9/2026) dipahami bukan sebagai langkah akhir, melainkan bagian dari proses kebijakan yang menunggu momentum transmisi. Dalam kerangka ini, sikap menahan suku bunga menjadi cara untuk memberi waktu pada kebijakan yang telah ditempuh agar bekerja pada sektor riil.
Pada akhirnya, sinyal kebijakan BI hingga akhir tahun akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi—terutama karena kenaikan inflasi dalam beberapa bulan terakhir dinilai banyak dipengaruhi harga pangan yang berfluktuasi—serta pada kondisi stabilitas pasar keuangan. Jika dinamika tersebut tetap sejalan dengan ekspektasi pengendalian, maka argumentasi untuk mempertahankan suku bunga pada level sekarang akan semakin kuat.












