jurnalistik.co.id – Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai konflik yang berlangsung di Timur Tengah saat ini masih menjadi ancaman utama bagi perekonomian global, sekaligus berpotensi merembet ke ekonomi Indonesia.
Suahasil menyampaikan pandangannya dalam Antara Business Forum di Jakarta pada Rabu, 23 September 2026, dengan menekankan bahwa situasi tersebut tidak berhenti pada isu politik semata.
“Saat ini menurut saya konflik Timur Tengah masih menjadi risiko yang paling utama. Menggerakkan hampir semua elemen di dunia, militer, sektor keuangan, perdagangan. Ini menjadi eskalasi politik yang meningkatkan ketidakpastian,” kata Suahasil.
Dalam pernyataan itu, fokus perhatian diarahkan pada bagaimana eskalasi politik dapat memperbesar ketidakpastian di berbagai bidang. Ia juga menggarisbawahi keterkaitan antara dinamika keamanan, kondisi sektor keuangan, serta aktivitas perdagangan.
Menurut Suahasil, pemerintah perlu mencermati perkembangan kebijakan moneter global, termasuk arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed).
Ia menilai perubahan pada proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia tidak boleh dipandang sebagai informasi lanjutan, karena koreksi terhadap proyeksi tersebut dapat memengaruhi perekonomian Indonesia.
“Proyeksi pertumbuhan partner utama dunia juga menjadi sesuatu yang kita lihat secara detil dari hari ke hari. Karena ini menentukan sekali hubungan dagang, menentukan sekali ekspor kita, menentukan sekali permintaan dari pasar-pasar ekspor,” tegasnya.
Ia menempatkan proyeksi pertumbuhan negara-negara mitra utama sebagai variabel yang perlu dipantau secara berkelanjutan. Bagi Suahasil, ketelitian dalam membaca proyeksi tersebut akan berdampak pada gambaran perdagangan dan kegiatan ekspor.
Lebih jauh, ia melihat bahwa permintaan di pasar tujuan ekspor ikut ditentukan oleh arah pertumbuhan mitra-mitra utama dunia. Karena itu, setiap penyesuaian proyeksi pertumbuhan global memiliki konsekuensi terhadap perhitungan ekonomi yang lebih luas.
Suahasil juga mengaitkan kondisi global dengan tingkat ketidakpastian yang dibentuk oleh eskalasi politik. Ia menilai konflik Timur Tengah bergerak melibatkan banyak elemen, mulai dari sektor keuangan hingga perdagangan, sehingga dampaknya dapat terasa secara lebih luas.
Berita Terkait
Ketidakpastian global dan perhatian terhadap kebijakan moneter
Di bagian ini, ia menegaskan pentingnya perhatian pada kebijakan moneter internasional. Arah suku bunga The Fed, menurutnya, merupakan faktor yang perlu dicermati karena menjadi bagian dari dinamika global yang dapat memengaruhi kondisi domestik.
Suahasil menempatkan kebijakan moneter global sebagai salah satu konteks yang harus dipahami secara aktif, bukan hanya menunggu perkembangan mereda. Perubahan kebijakan di pusat keuangan global dapat mengubah ekspektasi pasar dan pada akhirnya berpengaruh pada berbagai aspek perekonomian.
Ia kemudian menghubungkan perhatian tersebut dengan perubahan proyeksi pertumbuhan dunia. Koreksi proyeksi, baik dalam arah maupun besaran, dinilai perlu direspons lewat pembacaan yang cermat.
Dengan menekankan detail pemantauan, Suahasil seolah menggambarkan bahwa arah kebijakan dan pertumbuhan global harus diterjemahkan menjadi pertimbangan ekonomi yang relevan bagi Indonesia.
Peran proyeksi pertumbuhan bagi perdagangan dan ekspor
Suahasil menekankan bahwa proyeksi pertumbuhan partner utama sangat menentukan hubungan dagang Indonesia. Ia menyebut bahwa hubungan dagang tersebut tidak lepas dari aktivitas ekspor dan dinamika permintaan di pasar luar negeri.
Ia menilai, ketika proyeksi pertumbuhan global mengalami koreksi, maka implikasinya akan sampai pada ekspor. Pada saat yang sama, permintaan dari pasar-pasar ekspor juga akan ikut berubah sesuai perkembangan pertumbuhan negara mitra.
Dalam pandangannya, karena proyeksi pertumbuhan menjadi penentu permintaan, pemerintah perlu memantau perkembangan itu setiap hari. Pernyataan Suahasil menegaskan bahwa ketepatan pembacaan terhadap proyeksi pertumbuhan menjadi bagian dari manajemen risiko ekonomi.
Secara keseluruhan, Suahasil menyampaikan pesan bahwa konflik Timur Tengah tetap menjadi risiko utama, sementara pemerintah juga harus memperhatikan kebijakan moneter global dan koreksi proyeksi pertumbuhan agar dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dapat diantisipasi.












