Bisnis & Ekonomi

Sentimen Global Menguatkan Rupiah, Pertumbuhan Ekonomi Jadi Penggerak – Market

×

Sentimen Global Menguatkan Rupiah, Pertumbuhan Ekonomi Jadi Penggerak – Market

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Sentimen Global Topang Rupiah, Pertumbuhan Ekonomi Jadi Katalis - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah diperkirakan bergerak dengan kecenderungan menguat, meski berpotensi masih mengalami konsolidasi. Pergerakan ini muncul setelah harga minyak mentah turun cukup dalam dan mengubah sentimen pasar global.

Harga minyak mentah tercatat anjlok 8,67% menjadi US$94,62 per barel. Penurunan tersebut dikaitkan dengan ekspektasi bahwa perang di Timur Tengah berpotensi berakhir, setelah Partai Demokrat memenangkan pemilihan paruh waktu (midterm election) di Amerika Serikat.

Di saat yang sama, indeks dolar AS melemah ke 101,56. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga turun 9 basis poin (bps) menjadi 4,87%, sehingga kondisi keuangan global ikut melonggarkan tekanan terhadap mata uang kawasan.

Respons pasar terlihat dari menguatnya beberapa mata uang regional. Baht Thailand naik 0,26%, diikuti yen Jepang, yuan offshore, dolar Singapura, serta dolar Hong Kong yang juga bergerak menguat.

Sebaliknya, tidak semua mata uang di kawasan bergerak searah. Won Korea Selatan tercatat melemah, begitu pula ringgit Malaysia, sejalan dengan dinamika yang tidak merata di pasar valuta.

Untuk rupiah, pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) kembali stabil pada kisaran Rp18.130 per US$ pada pukul 07:50 WIB. Posisi ini terjadi setelah rupiah sempat melemah ke Rp18.160 per US$ pada pagi sebelumnya.

Penguatan mata uang Asia juga mendapat dukungan dari aktivitas beli di pasar obligasi. Yield Jepang turun 1,9 bps menjadi 5,9%, sedangkan obligasi Malaysia berada pada level yang stabil di 3,8% dan yield Korea Selatan berada di 3,94%.

Pada surat utang negara, yield SUN tenor 10 tahun juga mencatat penurunan hingga 7,67%. Perubahan pada imbal hasil tersebut menjadi salah satu faktor yang ikut membentuk sentimen pasar keuangan regional.

Di sisi domestik, pasar tetap menimbang prospek ekonomi Indonesia meskipun situasi politik dinilai makin rumit. Perhatian juga muncul setelah mencuat dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto, namun proyeksi pertumbuhan ekonomi masih dinilai solid.

Pertumbuhan ekonomi, meski diperkirakan melambat, tetap berada di kisaran 5,2% pada kuartal III-2026. Dengan latar sentimen global yang cenderung mendukung dan proyeksi pertumbuhan domestik yang masih terjaga, pasar kemudian menempatkan rupiah dalam skenario konsolidasi dengan bias penguatan.

Perubahan pada aset global itu kemudian tercermin pada ekspektasi pelaku pasar terhadap biaya pendanaan. Saat imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun, minat terhadap aset berisiko dan mata uang berdenominasi kawasan biasanya ikut terangkat, meski pergerakan tetap fluktuatif.

Dari sisi komoditas, turunnya harga minyak mentah yang cukup tajam ikut menekan persepsi risiko inflasi dan memperbaiki mood transaksi. Kondisi ini membuat ruang gerak rupiah lebih terbuka untuk merespons arus dana yang lebih longgar dibanding sebelumnya.

Penguatan selektif juga terlihat lewat reaksi pasar terhadap pergerakan dolar AS yang melemah. Ketika indeks dolar berada pada level yang lebih rendah, daya tarik mata uang negara tujuan menjadi relatif lebih kompetitif bagi investor, sehingga beberapa mata uang kawasan bergerak lebih kuat meski tidak seragam.

Di pasar valuta, NDF menjadi salah satu barometer yang menunjukkan penyeimbangan posisi. Setelah sempat berada di sekitar Rp18.160 per US$, konsolidasi kembali terlihat dari patokan NDF yang kembali bertahan pada kisaran Rp18.130 per US$ pada pukul 07:50 WIB.

Selain faktor valas, dukungan datang dari aktivitas di instrumen pendapatan tetap. Yield obligasi Jepang yang turun, disertai pergerakan yang lebih stabil di Malaysia serta level imbal hasil Korea Selatan yang tidak banyak bergeser, menambah dorongan bagi arus beli di pasar obligasi regional.

Untuk domestik, pasar tetap menautkan kinerja ekonomi dengan dinamika politik yang tengah menjadi sorotan. Meski ada pembahasan mengenai dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto, proyeksi pertumbuhan masih diperkirakan bertahan di kisaran 5,2% pada kuartal III-2026, sehingga bias rupiah cenderung mengarah pada penguatan dalam fase konsolidasi.