Bisnis & Ekonomi

Trik Saya Mengalahkan Kecanduan Belanja Larut Malam

×

Trik Saya Mengalahkan Kecanduan Belanja Larut Malam

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: How I beat my late-night shopping addiction

jurnalistik.co.id – Belanja saat larut malam sering dimulai dari momen yang sederhana: layar ponsel terbuka, lalu muncul dorongan kuat untuk membeli sesuatu—agar setelahnya, keesokan hari, timbul penyesalan. Namun, ketika dorongan itu berubah menjadi pola, “sekali dua kali” bisa bergeser menjadi kecanduan.

Seorang perempuan muda bernama Ella Hewitt, warga Liverpool, mengaku pernah mengalami kondisi seperti itu. Pada 2021, ia menghabiskan hingga ÂŁ700 per bulan untuk fast fashion yang tidak selalu mampu ia bayar, bahkan pada beberapa kesempatan ia mengatakan barang-barang tersebut tidak pernah sempat dipakai.

Ella, yang saat itu bekerja sebagai asisten HR di sebuah sekolah, menjelaskan bahwa ia tumbuh tanpa banyak uang. Karena itu, ketika mendapatkan pekerjaan, ia merasa perlu membelanjakan penghasilannya segera. Ia mengatakan, “I didn’t grow up with much money, so when I got a job I would spend my wages as soon as they hit my account”.

Menurut Ella, dorongan itu diperkuat oleh respons otak yang muncul setelah transaksi. Ia menyebut “dopamine hit” yang membuatnya terus berbelanja, sementara media sosial ikut memberi dorongan agar perilaku tersebut terasa wajar. Ia juga mengaitkan kebiasaannya dengan cara algoritma menampilkan tren dan iklan di lini masa.

Dalam banyak kasus, pembelian terjadi ketika ia merasa lelah atau bosan. Ella mengatakan ia kerap membeli lewat TikTok atau Instagram saat kondisi emosionalnya sedang tidak stabil, dipancing oleh “latest trends” yang terus muncul di feed. Ia menggambarkan situasi itu bukan sebagai keputusan yang matang, melainkan dorongan yang datang begitu saja.

Dampaknya terasa bukan hanya pada saldo, tetapi juga pada ruang gerak hidupnya. Karena pengeluaran yang membengkak, Ella mengaku tidak sanggup pindah dari rumah keluarga. Ketika ia menilai jumlah belanja yang sudah terjadi terasa mengkhawatirkan, ia mulai mencoba strategi untuk mengalihkan impuls sebelum uang benar-benar keluar.

Salah satu langkah yang ia lakukan adalah menunda keputusan. Ia memasukkan barang yang terasa ingin dibeli ke daftar wish list dan memberi jeda waktu 30 hari. Jika setelah masa tunggu tersebut ia masih menginginkannya, ia baru membeli. Ella menjelaskan, “If I still wanted it, I would buy it, but more often than not I’d find the urge had gone”.

Selain penundaan, ia juga membangun aturan kontrol yang lebih “mengganti” kebiasaan belanja dengan simulasi. Ia membuat anggaran imajiner sebesar £1.000 setiap hari untuk “pembelian” imajiner. Menurutnya, aktivitas itu memberi sensasi “scratched the itch” tanpa harus menanggung biaya nyata.

Ia juga menerapkan janji untuk hanya membeli jika ia sanggup melakukan keputusan tersebut secara konsisten. Ia menyatakan bahwa ia bersumpah hanya akan membeli barang ketika ia bisa “buy it three times”. Dengan logika itu, keputusan belanja tidak lagi menjadi reaksi sesaat, melainkan sesuatu yang harus bertahan melewati waktu dan dorongan awal.

Hasilnya, Ella menyebut ia berhasil memangkas pengeluaran sekitar 60%. Ia juga menegaskan bahwa ia tidak sempurna; ada momen ketika ia tetap membeli karena benar-benar menginginkannya. Meski begitu, ia merasa kontrolnya jauh lebih kuat dibanding sebelumnya.

Kini, Ella bekerja sebagai influencer fesyen yang mengutamakan aspek etis, sekaligus berencana meluncurkan merek pakaiannya sendiri. Perubahan ini, menurut kisahnya, berangkat dari upaya menata kembali cara impuls belanja muncul dan bagaimana ia menanggapinya.

Institusi yang menangani pemulihan kecanduan juga menyoroti bahwa kasus seperti ini tidak jarang. Ukat Group, yang mengelola pusat perawatan kecanduan di berbagai wilayah, menyebut pihaknya melihat lebih banyak orang mengalami kecanduan belanja. Mereka juga menyatakan 90% dari kasus tersebut adalah perempuan.

Ukat Group menjelaskan beberapa tanda yang bisa mengarah pada masalah, antara lain suasana hati yang terasa membaik segera setelah pembelian dilakukan, lalu muncul rasa bersalah atau malu setelahnya. Mereka juga menyoroti kemungkinan seseorang berbohong kepada orang terdekat mengenai kebiasaan belanjanya, serta hidup di rumah dengan tumpukan barang yang tidak dibutuhkan atau tidak pernah dipakai.

Tanda, pemicu, dan langkah praktis

Dalam upaya menahan pengeluaran impulsif, sejumlah pendekatan yang disarankan berfokus pada memperlambat keputusan dan mengurangi “jalan cepat” menuju transaksi. Salah satu saran adalah memberi jeda minimal 48 jam atau lebih sebelum melakukan pembelian, karena dorongan sering kali mereda seiring waktu.

Saran lain termasuk menghapus nomor kartu kredit yang tersimpan dan menghilangkan aplikasi belanja dari ponsel. Sebelum berkunjung ke toko atau membuka situs, dianjurkan menyusun daftar belanja terlebih dahulu dan tetap mengikuti daftar tersebut agar pilihan tidak melebar ke kebutuhan yang sebenarnya tidak direncanakan.

Ada pula anjuran untuk menetapkan batas kecil bagi “hadiah tanpa rasa bersalah”, atau membuat anggaran imajiner yang tujuannya menampung hasrat membeli tanpa mengganggu kondisi finansial. Upaya mengurangi paparan juga ikut disorot, seperti berhenti berlangganan newsletter dan notifikasi dari ritel, serta tidak lagi mengikuti influencer yang memancing keinginan belanja.

Untuk menjaga kendali, pendekatan yang berkaitan dengan kebiasaan penggunaan produk juga dianjurkan: menghabiskan barang yang sudah ada sebelum membeli baru, dan lebih memilih menata aksesori alih-alih membeli outfit baru. Intinya, “siklus baru” tidak dipacu oleh kebutuhan palsu yang muncul dari dorongan sesaat.

Selain itu, penting mengenali pemicu. Jika seseorang cenderung berbelanja ketika merasa kesepian, bosan, atau stres, pilihan yang disarankan adalah mencoba aktivitas lain seperti berolahraga atau berbicara dengan teman sebagai alternatif dari impuls tersebut.

Bagi yang membutuhkan bantuan, informasi layanan yang disebutkan antara lain Citizens Advice, Stepchange, Christians Against Poverty, serta National Debtline—lembaga-lembaga yang dapat memberi arahan saat seseorang menghadapi masalah keuangan.

Cerita lain datang dari Dish Patel, 23 tahun, yang berasal dari London. Ia menggambarkan masa kuliah sebagai periode ketika pengeluaran mengalir ke pakaian, makanan, riasan, dan perawatan kulit. Ia mengaku sampai “maxed out” dengan overdraft sebesar £2.500 dan merasa “always broke”.

Dish menilai ia mungkin sedang menutup kekurangan yang ia rasakan saat kecil, namun perasaan senang itu tidak bertahan lama. Ia mengatakan, “The feeling you get when you open your new parcels is always amazing until the dopamine hit dies down and the cycle repeats”. Ia juga menyebut “dopamine hit” yang meredup membuat putaran belanja kembali terjadi.

Dalam menjalani kebiasaannya, Dish kini bekerja sebagai financial planner. Ia menceritakan bahwa ia dulu akan membeli “pretty much anything that was trending”. Namun, kebiasaannya paling kuat justru berasal dari kebiasaan menggulir aplikasi belanja sebagai cara mengisi waktu.

Untuk memutus impuls itu, ia menghapus aplikasi belanja seperti Asos dan Pretty Little Thing dari ponselnya. Ia juga menonaktifkan ApplePay agar transaksi tidak bisa dilakukan sekali klik. Bahkan, Dish mengatakan ia mulai meninggalkan kartu bank di rumah ketika berangkat kerja.

Ia mencontohkan caranya membuat pola belanja sulit dilakukan secara spontan. Ia menyatakan, “I would bring a packed lunch in and I would buy my train ticket on Trainline the night before… This basically put me in a habit of not spending a single thing and pre-planning my day to ensure I don’t spend anything”.

Dish juga menerapkan aturan kompensasi. Setiap kali ingin membeli sesuatu, ia harus memasukkan jumlah yang sama ke tabungan atau investasi. Ia menyimpulkan bahwa pendekatan itu berhasil karena ia tidak ingin membayar dua kali—sekali untuk barang yang dibeli, dan sekali lagi melalui konsekuensi mengalihkan dana ke tabungan atau investasi.

Di sisi lain, ada gambaran bahwa tren belanja impulsif memang menonjol pada kelompok tertentu. Riset tahun lalu dari Vanquis menyebut belanja impulsif lebih tinggi pada pembeli Gen Z dibanding kelompok usia lain, dengan posisi berikutnya dipegang oleh milenial. Sejumlah ahli juga mengaitkan peningkatan ini dengan paparan media sosial, iklan yang ditargetkan, budaya influencer, serta proses checkout yang terasa “mulus” dengan one-click checkout.

Money and Mental Health, sebuah lembaga amal, juga menilai desain situs belanja daring ikut memudahkan pengeluaran dengan “minimising the friction around spending money”. Mereka menyoroti adanya “pop-ups” yang memberi tekanan untuk membeli, serta tersedianya metode pembayaran alternatif seperti Buy Now Pay Later.

Dalam konteks itu, upaya mengendalikan belanja tidak hanya soal kemauan, tetapi juga soal bagaimana jeda dipasang, akses ke transaksi dipersulit, dan pemicu diubah menjadi kebiasaan lain yang lebih sehat. Kisah Ella dan Dish menunjukkan bahwa kendali sering muncul saat impuls diberi ruang untuk mereda—bukan saat dorongan dibiarkan menguasai keputusan.