Entertainment

Jacob Elordi jelaskan mengapa The Dog Stars membuatnya bertanya “What am I missing?” dalam hidup

×

Jacob Elordi jelaskan mengapa The Dog Stars membuatnya bertanya “What am I missing?” dalam hidup

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Jacob Elordi on why The Dog Stars had him asking 'What am I missing?' in life

jurnalistik.co.id – Jacob Elordi memaknai The Dog Stars sebagai cermin yang membuat penonton menoleh ke dalam hidupnya sendiri—hingga muncul pertanyaan “What am I missing?”.

Film thriller pascaapokaliptik terbaru arahan Sir Ridley Scott mengangkat gambaran dunia yang tergerus pandemi, kerusakan lingkungan, dan masyarakat yang tersisa dalam kondisi anarki. Cerita ini berangkat dari novel Peter Heller tahun 2012 dengan judul yang sama, dan dibangun dengan nuansa yang terasa dekat dengan ketakutan kolektif masa kini.

Di dalam The Dog Stars, masa depan dibentangkan pada era 2030-an, ketika hanya orang-orang yang kebal terhadap flu mematikan yang masih bertahan. Dengan seting seperti itu, film langsung memunculkan asosiasi terhadap pengalaman pandemi melalui pengambilan gambar udara kota-kota yang ditinggalkan serta kebiasaan tokoh Hig yang terus mencari sumber daya seperti makanan dan obat.

Elordi berperan sebagai Hig, mantan mekanik yang kemudian menjadi pilot. Ia menghabiskan hari-harinya menerbangkan pesawat di atas Colorado ditemani anjingnya, Jasper, sambil memburu kemungkinan hidup yang lebih baik di lanskap yang sudah tidak bersahabat.

Baginya, film ini tidak berhenti pada kisah kelangsungan hidup. Elordi menjelaskan bahwa karya Scott menggambarkan “the human condition”. Di “the apocalypse”, para tokohnya tetap “still looking for something else and hoping for something else”, seolah mencari makna yang terselip di balik kehancuran.

Pengalaman produksi pun ikut menambah lapisan refleksi. Elordi menceritakan, “there were a few moments I remember looking around [on set] and thinking it’s strange to be doing this make-believe, when the reality is just behind us and just in front of us”. Pernyataan itu menekankan bagaimana bayangan masa depan yang diceritakan terasa berhubungan dengan realitas yang selama ini terjadi dan mungkin akan datang kembali.

Ia menyebut masa depan distopia seperti yang dipotret film sebagai sesuatu yang “frightening to think about”, namun juga “it’s something we have to examine and remember, because we are on the cusp of these realities”.

“What am I missing?” sebagai pertanyaan yang diam-diam kita bawa

Di tengah ketegangan cerita, Elordi menyoroti pergulatan batin Hig: mencoba tetap merasa cukup meski hidup sudah berubah total. Ia mengaku memiliki resonansi dengan pertarungan tokoh tersebut untuk menerima hidup tanpa terus-menerus mempertanyakan apa yang masih kurang.

Elordi menggambarkan kondisi itu dengan nada yang terdengar sangat personal: “Everything is sweet for us – we’re able to walk around on the street, go to the shops, go to the park, have dinner with each other and we still go to bed and think ‘What else is there?’, ‘What am I missing?’, ‘What’s wrong?’ and nothing is”. Intinya, bahkan ketika keadaan tampak baik, manusia tetap bisa tergerak oleh rasa ingin tahu tentang kekurangan yang tidak selalu bisa dijelaskan.

Garis pikiran yang sama juga ia temukan pada rekannya, Guy Pearce. Pearce memerankan Pops, seorang penyintas yang bertemu Hig setelah pesawatnya mendarat darurat dekat rumah Hig. Dalam pandangannya, film menyingkap realitas yang sering tidak disadari oleh orang-orang yang masih hidup dengan keberuntungan normal.

Pearce menilai cara film menonjolkan “this world we take for granted” terasa “pertinent”. Ia menambahkan, “You can go to the supermarket and get food and wake up with your family – a lot of people even to this day don’t live like that, so I am absolutely aware of [my] privilege”.

Latar yang seperti luka—dan harapan yang tumbuh kembali

Getaran anarkis yang dibangun film juga terlihat lewat lingkungan. Adegan-adegan bumi yang menghanguskan memperlihatkan kemiripan dengan gambaran yang banyak disaksikan publik di wilayah yang terdampak kebakaran hutan.

Pearce mengatakan pengaruh itu bersifat pribadi karena ia tumbuh di Australia dan pernah merasakan langsung musim kebakaran. Ia menyebut, “I’ve been in Australia when there’s been serious bushfires,”, lalu memperluasnya dengan pengamatan yang lebih luas: “All round the world now there’s just more and more effects of climate change so it’s pretty terrifying that a lot of those things are not far away,”. Ia juga menyampaikan bahwa negara bagian tempat tinggalnya, Victoria, mengalami kerusakan pada tahun ini.

Elordi, yang berasal dari Brisbane, justru membawa sudut pandang yang sedikit lebih optimistis dalam konteks film. Ia menyinggung kemungkinan pemulihan alam lewat konsep regrowth dan membingkainya sebagai bagian dari harapan yang tidak boleh dilewatkan.

Elordi mengatakan, “Something interesting and not to be missed is the idea of regrowth – that in this abyss, four or five years after the worst day ever for human beings, the trees are full, the grass is thick and the flowers are growing out of the decay”. Ia menyebut hal itu sebagai “a note of hope” sekaligus “idea of redemption”.

Menurutnya, hubungan dengan kehidupan nyata juga jelas ketika kebakaran menghancurkan garis pantai; “when a wildfire destroys an entire coast, inevitably the nature and the earth rebuilds and regrows”.

Respons kritik: antara bertahan dan berdaya

Sejumlah ulasan awal menunjukkan tanggapan yang beragam. Benjamin Lee dari The Guardian, dalam ulasan bintang tiga, menyebut film itu “limp and lethargic” dan mengatakan ia hanya sebentar memikat penonton dalam upaya membuat kita bertanya apa yang sebenarnya diharapkan film ini akan berakhir seperti apa.

Di sisi lain, David Rooney di The Hollywood Reporter menulis bahwa meski film terasa “muted but never dull”, tontonan tersebut juga disebut “an appealingly mellow watch”.

Namun, kritik lain tetap tajam. Helen O’Hara dari Empire, yang memberi nilai dua bintang, menilai film ini “tries to examine the difference between surviving and thriving” tetapi “doesn’t seem entirely convinced of its own answers”.

Tim Robey di The Telegraph juga memberi nilai tiga bintang dan menyoroti bagian aksi: “action interludes are more nonsensical than scary” serta menghadirkan “momentary dumb fun when Scott’s campfire apocalypse needs waking up”.

Sumber inspirasi Sir Ridley Scott: Covid dan krisis global

Sir Ridley Scott menyebut bahwa film ini terinspirasi oleh Covid, tetapi ia juga menghubungkannya dengan konteks novel aslinya yang ditulis setelah krisis keuangan global 2008. Ia menjelaskan, “If you put those two together you’ve got a great combination of chaos,” lalu menambahkan, “If you have chaos, you get panic and anarchy and away you go”.

Ia juga mengatakan ada banyak hal tentang masa kecil yang ia pertimbangkan ketika membangun dunia yang terinfeksi virus dalam film. Scott menyatakan, “I was a war baby so I can remember incendiary bombs dropping on me and we’d have to shelter under the stairs. So the Second World War to me was apocalyptic”.

Elordi mengaku ia “afraid of large movies and things packed with action set pieces”. Meski demikian, ia merasa terpegang oleh keyakinan bahwa Sir Ridley adalah sosok yang tepat untuk tipe film seperti itu. Ia menyebut Scott sebagai “the master of these kinds of films”.

Elordi juga menutup dengan rasa hormat yang jelas atas kesempatan bekerja bersama sutradara perintis: “I would have done any movie he sent through for me to make, it’s a privilege to get to work with a pioneer of our industry in my lifetime – it’s kind of unfathomable,”.

The Dog Stars akan tayang di bioskop Inggris pada 28 Agustus.