Entertainment

Dolly Parton: ikon budaya yang mempersatukan warga Amerika

×

Dolly Parton: ikon budaya yang mempersatukan warga Amerika

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: How Dolly Parton became the one thing most Americans could agree on

jurnalistik.co.id – Dolly Parton dikenal sebagai sosok yang jarang memantik perpecahan di Amerika—sebuah ikon budaya yang bisa diterima lintas generasi, ras, hingga pilihan politik. Ia disebut “yang satu-satunya” yang mampu mempertemukan pandangan berseberangan, meski kariernya melintasi banyak dekade dan beragam genre.

Parton memang dikenal sebagai musisi country, sekaligus dermawan, aktris, pencerita, dan pebisnis. Namun ia justru “tidak pernah” menjadi politisi—bukan karena tidak ada yang mencoba mengajaknya masuk ke ranah kekuasaan. Pada 1999, saat tampil di talk show Prime Time Country!, seorang penonton muda bertanya apakah Parton akan maju ke jabatan. Ia menjawab dengan kecerdasan khasnya: “I think of myself more as a diplomat. That’s the kind of people who tell you to go to hell in such a way you look forward to the trip.”

Dorongan Parton untuk menjauh dari politik partisan banyak dikaitkan dengan keinginannya menjaga jarak agar basis penggemarnya tidak tersinggung. Ia pernah menyatakan, “I’ve got as many Republican fans as Democrats and I don’t want to make any of them mad at me, so I don’t play politics,” dalam sebuah wawancara dengan Fox News. Dalam praktiknya, sikap itu juga tercermin dari sederet penolakan penghargaan.

Ia menolak Presidential Medal of Freedom dari dua presiden yang berbeda. Ia juga dua kali menolak tawaran Donald Trump dengan alasan penjadwalan dan alasan kesehatan. Ketika beberapa tahun kemudian Joe Biden menawarkan penghargaan yang sama, Parton kembali menolaknya—agar keputusan itu tidak terbaca sebagai pilihan afiliasi tertentu.

Keberterimaan Parton, menurut Sarah Phillips, sulit disamai di tengah masyarakat Amerika yang terpolarisasi. Phillips—pengajar “Anthropology of Dolly Parton” di Indiana University—menilai Parton “straddles political divides… the so-called culture wars,” dan ia mengaku tetap kesulitan membicarakan Parton dalam bentuk lampau setelah kabar meninggalnya. Phillips juga menyebut polanya bukan sekadar “daya tarik selebritas”, melainkan cara Parton merawat identitasnya di ruang publik.

Statistik persetujuan juga menunjukkan tingkat penerimaan lintas kubu. Survei YouGov menyebut net approval rating Parton mencapai 65%. Angka itu dibandingkan dengan Barack Obama (14%), Taylor Swift (3%), Donald Trump (-19%), dan Joe Biden (-18%). Dalam konteks ini, Parton tampak menempati posisi yang jarang dimiliki figur budaya lain.

Meski menjauh dari politik elektoral, Parton tidak pernah sepenuhnya “apolitis”. Ia tetap berbicara mengenai isu-isu seperti hak-hak perempuan, kesetaraan LGBTQ, dan Black Lives Matter. Phillips menyebut komitmen tersebut sebagai bagian dari “amazing sense of self” yang membuat daya tarik Parton nyaris menyentuh semua kelompok. Ia mengatakan Parton menjadi teladan bagi perempuan: “carving your own path, looking out for yourself, making sure that you retain the rights to your intellectual property, looking out for your own financial and creative independence.” Ia menambahkan, “And if that’s not feminism, I don’t know what is.”

Ketertarikan publik pada pandangan Parton mulai menguat sejak lama ketika ia menegaskan dirinya bukan sekadar penyanyi country “biasa”. Pada 1977, Parton menjadi sensasi crossover pop; alih-alih membuat basisnya menjauh, ia justru memperluas jangkauan audiens. Pada 1980, ia membuat debut film lewat 9 to 5, sebuah satire gelap tentang hak perempuan di tempat kerja yang dibantu Jane Fonda.

Fonda, dalam catatan artikel ini, mendapat penolakan di banyak bagian negara karena aktivismenya yang menentang Perang Vietnam. Namun Parton tidak memutus hubungan atau menjauh demi menyenangkan penggemar yang lebih konservatif. Ia berkata, “I respect anybody’s beliefs and the fact that they’re willing to stand up for whatever it is. But I’m also the kind of person that if I don’t like where you got it, I can tell you where to put it.” Setelah mengetahui kabar kematian Parton, Fonda juga mengunggah pesan di media sosial: “She is woven into all our lives and hearts forever.”

Dalam banyak wawancara, Parton memperlihatkan bahwa ia mengatur cara bicara tanpa terseret ke medan yang memaksanya berpihak. Ketika jurnalis televisi Barbara Walters menguji penampilan Parton dalam segmen 1977—bahkan menanyakan apakah penyanyi itu sekadar lelucon—Phillips menilai Parton menghadapi pertanyaan itu dengan “match” yang setara. Parton pernah menegaskan, “Everybody thinks that the joke’s on me, but in fact, the joke is on the public. I know very well what I’m doing, and I can change my image any time I want to.”

Bertahun-tahun para jurnalis berusaha membuat Parton keluar dari naskah yang ia pilih sendiri. Akan tetapi, ketika topik mengarah ke wilayah politik, ia biasanya berputar dengan humor dan merendahkan diri. Saat konferensi pers pada 2016, ia melontarkan candaan kepada wartawan: “I’ve been thinking about running myself… we could use a few more boobs in the race”, sambil menyinggung tubuhnya. Meski demikian, ia tidak pernah benar-benar maju untuk jabatan.

Karena itu, kabar Parton dibaca seperti penutup perjalanan seorang “ikon” yang dipahami banyak pihak. Artikel ini juga menyinggung bagaimana ayah Parton semasa hidup menyukai bumper sticker bertuliskan “Dolly for President.” Namun jalan yang ditempuh Parton justru dituangkan lewat filantropi. Di antaranya adalah Imagination Library yang mengirim buku gratis untuk anak-anak di seluruh dunia, serta keterlibatannya membantu pendanaan vaksin Moderna Covid-19.

Bagian filantropi itu, menurut artikel, berakar pada pengalaman hidup yang sangat dekat dengan kemiskinan. Parton tumbuh dalam kondisi serba kekurangan dan dibesarkan dalam sebuah log cabin berukuran satu kamar bersama 11 saudara. Ketika kariernya meledak, ia mempekerjakan banyak anggota keluarganya dalam usaha bisnis dan kemudian membagi keberhasilan itu ke komunitas Tennessee. Pada 1986, ia membeli saham kepemilikan sebuah taman hiburan di pegunungan tempat ia tumbuh—lalu mengubah namanya menjadi Dollywood, yang hingga kini disebut sebagai pemberi kerja terbesar tunggal di wilayah tersebut.

Dalam artikel ini, disebut pula kesan seorang tokoh lokal: James Rogers, presiden American Eagle Foundation yang kemudian bekerja sama dengan Dollywood untuk sanctuary elang botak. Rogers menggambarkan Parton sebagai orang yang sangat baik dan perhatian langsung. Ia menceritakan momen puluhan tahun lalu saat Parton datang untuk tampil, lalu melihatnya bersama istrinya dan putrinya Heather yang berusia sekitar 10 tahun. Parton “detoured the whole entourage to come around over there to where we were and then she knelt down to talk to Heather for a minute”.

Phillips menambahkan bahwa Parton mendukung semua orang, selaras dengan nilai yang ia yakini sejak tumbuh di Pegunungan Carolina Utara “across the holler” dari Appalachia Tennessee Parton. Dalam pembelajaran tentang Parton, ia juga menggunakan istilah “Dollitics”—sebuah frase yang diciptakan oleh keponakan Parton untuk menggambarkan caranya menyikapi topik-topik rumit. Phillips merangkum pendekatan itu dengan kalimat: “She wants all boats to rise.”

Ketertautan Parton pada nilai dasar Amerika juga disorot. Phillips menuturkan Parton melambangkan “independence” dan “freedom to do what you want.” Ia menyebut bahwa gagasan American Dream versi klasik—“If you’re talented, if you work really, really, really hard, you can achieve your dreams”—terwujud dalam diri Parton. Tak heran, banyak pihak yang memberi penghormatan menilai ia unik: tidak mudah digantikan, dan tidak memiliki versi lain yang sama di luar budaya asalnya.

Phillips menutup dengan pengamatan lintas negara. Ia mengatakan, “This summer, I was in France, and I was in Poland, and I ask people, who’s the Polish Dolly Parton? Who’s the French Dolly Parton?” Ia lalu menjawab, “And nobody has an answer, because there isn’t one.”