jurnalistik.co.id – Seniman Jepang Yayoi Kusama meninggal dunia pada usia 97 tahun. Sepanjang kariernya, ia dikenal menghadirkan dunia-dunia imersif yang mampu menarik perhatian jutaan orang di berbagai negara.
Dalam karya-karyanya, Kusama memadukan warna cerah, bentuk, pola, serta pantulan untuk membentuk pengalaman visual yang terasa “menelan” penonton. Pola-pola tersebut tidak sekadar menghiasi ruang, melainkan membangun suasana yang membuat pengunjung seperti masuk ke dalam semesta ciptaannya sendiri.
Ia muncul sebagai bagian dari gerakan pop art, dan termasuk jajaran seniman yang karyanya akhirnya dikenal luas oleh audiens massa. Eksibisi Kusama, dari Tokyo hingga New York dan London, berhasil menarik kerumunan sejak awal karya-karyanya tampil di panggung publik.
Di antara ciri paling kuat dari identitas artistiknya, bintik-bintik polkadot menjadi elemen yang hampir selalu muncul. Bintik tersebut tidak berhenti pada kanvas atau dekorasi, tetapi meluas hingga mengisi seluruh galeri serta hadir dalam bentuk patung berukuran besar.
Untuk memperkuat efek visual, Kusama juga menggunakan cermin dan lampu. Melalui permainan pantulan, ia menciptakan kesan bentuk dan pola seolah terus melaju menuju “tak berujung” seperti hilang ke dalam kepastian jarak yang tak selesai.
Gaya tersebut kemudian melahirkan ruang-ruang reflektif yang dikenal luas sebagai Infinity Mirror Rooms. Salah satu foto yang menyertainya menunjukkan Kusama berada di dalam ruangan semacam itu di Paris pada tahun 2001, sementara pada tahun 2000 ia juga terlihat bersama seniman Jepang Yoko Ono di Sydney.
Dalam pengaruh yang merambah lintas ruang dan generasi, karya Kusama juga menarik perhatian tokoh publik. Aktris Julia Fox tercatat termasuk di antara mereka yang hadir pada pembukaan pameran Kusama di Melbourne, Australia, pada tahun 2024.
Asal-usul imajinasi Kusama juga kerap dikaitkan dengan pengalamannya pada masa kanak-kanak. Ia pernah mengatakan bahwa sejak kecil ia melihat halusinasi berupa bintik dan cahaya, lalu menggunakan penglihatan tersebut dalam karyanya yang berkembang sejak dekade 1960-an.
Berita Terkait
Kusama kemudian meraih terobosan yang signifikan dalam skala global setelah mewakili Jepang pada Venice Biennale pada tahun 1990-an. Setelah tahap itu, namanya semakin dikenal secara internasional dan pamerannya mendapat perhatian besar di berbagai kota.
Pameran-pamerannya juga tercatat hadir di sejumlah institusi penting. Ia pernah menggelar karya di Museum of Modern Art (MoMA) di New York, Tate Modern di London, serta National Museum of Modern Art di Tokyo.
Di salah satu ruang, keterlibatan pengunjung menjadi bagian dari pengalaman. Pada tahun 2017 di Hirshhorn Museum, Smithsonian Institute, Washington DC, pengunjung sendiri menerapkan lebih dari 800.000 stiker polkadot ke ruang putih (termasuk ke wajah mereka sendiri), menciptakan bentuk “tanda” kolektif yang ikut menjadi karya.
Rentang popularitas karya Kusama juga terlihat dari pengulangan pameran di tempat yang sama dengan periode berbeda. Retrospektifnya di Tate Modern pada 2012 kemudian diikuti oleh pemasangan Infinity Mirror Rooms di venue tersebut mulai 2021, dan pemasangan itu diperpanjang beberapa kali karena banyaknya audiens.
Pada tahun 2023, karya figur raksasanya dipasang untuk menjulang di depan toko andalan Louis Vuitton di Champs-Élysées, Paris. Kehadiran sosok-sosok besar, bersama bentuk dan hewan-hewan dalam komposisinya, melengkapi ruang urban dengan daya tarik yang langsung memancing perhatian publik.
Visual Kusama juga muncul di kota lain lewat penempatan berskala besar. Saat Aviva Studios di Manchester dibuka pada 2023, figur raksasa, bentuk-bentuk khas, serta elemen hewan memenuhi ruang pameran di sana.
Di Australia, bintik-bintik Kusama juga mendapat respons yang kuat. Dua tahun sebelum Aviva Studios, karya-karyanya disebut berhasil menjadi daya tarik di Melbourne, memperlihatkan bahwa penggemar dan penonton di kota tersebut ikut antusias terhadap ciri khasnya.
Di luar panggung pameran, kehidupan Kusama juga tercatat memiliki perjalanan panjang yang khas. Ia secara sukarela tinggal di rumah sakit jiwa selama beberapa dekade, lalu pada awal bulan ini ia meninggal di sebuah rumah sakit di Tokyo.








