Bisnis & Ekonomi

Harga Bahan Baku Naik, Pedagang Semarang Kesulitan Bayar Cicilan hingga Tak Bisa Mancing

12
×

Harga Bahan Baku Naik, Pedagang Semarang Kesulitan Bayar Cicilan hingga Tak Bisa Mancing

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Harga Serba Naik, Pedagang di Semarang: Berat Bayar Cicilan, Tak Bisa Mancing Buat Hiburan

jurnalistik.co.id – Di kawasan kampus UIN Walisongo Semarang, Harianto masih melayani pembeli seperti biasa pada Jumat (22/5/2026). Namun di balik aktivitas yang terlihat rutin itu, ia sedang menghadapi tekanan biaya usaha yang makin berat karena harga bahan baku dan perlengkapan jualan terus naik.

Harianto adalah salah satu pedagang makanan di Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, yang merasakan langsung dampak kenaikan harga tersebut. Ia menyebut, lonjakan harga minyak goreng, kemasan plastik, hingga cup minuman membuat pendapatannya turun drastis dalam beberapa bulan terakhir.

“Kalau biasanya dapat 100, sekarang bersihnya sekitar 40 sampai 50. Padahal harus bayar karyawan dan sewa,” kata Harianto saat ditemui di Ngaliyan, Jumat (22/5/2026).

Menurut dia, kondisi itu bukan hanya menekan usaha, tetapi juga memaksa pelaku UMKM mengencangkan pengeluaran pribadi agar bisnis tetap berjalan. Setiap rupiah yang keluar harus dihitung lebih hati-hati, termasuk saat menyisihkan uang untuk kebutuhan yang sifatnya rutin.

“Untuk nyisihin uang buat angsuran aja itu sudah berat,” ujarnya.

Beban itu terasa semakin nyata karena omzet yang menurun tidak selalu sejalan dengan kewajiban yang harus tetap dibayar. Bagi pedagang kecil, cicilan utang, sewa, dan upah karyawan tetap datang pada waktunya, sementara pemasukan harian justru menyusut. Situasi ini membuat ruang gerak mereka menjadi jauh lebih sempit.

Harianto juga mengaku kini tak lagi memiliki uang lebih untuk kebutuhan hiburan sederhana. Hal-hal yang sebelumnya masih bisa dilakukan selepas berjualan, seperti berlibur atau sekadar membeli rokok, kini ikut terpangkas karena dana yang ada diprioritaskan untuk kebutuhan usaha dan kewajiban lain.

“Biasanya habis jualan weekend masih bisa jalan-jalan murah atau mancing buat hiburan. Sekarang enggak bisa, uangnya enggak ada,” lanjut dia.

Kenaikan harga, kata Harianto, terjadi hampir di semua kebutuhan usaha sejak sekitar dua bulan terakhir. Kenaikan itu tidak datang satu item saja, melainkan menekan beberapa komponen sekaligus. Akibatnya, biaya produksi harian menjadi lebih mahal dibanding sebelumnya.

Ia mencontohkan harga plastik yang sebelumnya berkisar Rp 15.000 hingga Rp 17.000 per pack kini melonjak menjadi Rp 32.000. Sementara itu, harga cup minuman ukuran 16 sentimeter yang sebelumnya Rp 8.000 kini mencapai Rp 14.000 per pack.

Tak hanya itu, harga minyak goreng juga naik tajam dari sekitar Rp 12.500 menjadi Rp 21.000 per liter. Menurut Harianto, angka itu sudah menjadi harga yang paling murah yang bisa ia temui saat ini.

“Ini paling murah loh,” katanya.

Kondisi tersebut membuat pedagang kecil menghadapi dilema yang tidak mudah. Di satu sisi, mereka harus menanggung biaya bahan baku dan perlengkapan yang terus naik. Di sisi lain, harga jual tidak bisa dengan mudah dinaikkan karena konsumen utama mereka memiliki daya beli yang terbatas.

Harianto mengatakan, pelaku usaha kecil sulit menaikkan harga jual begitu saja karena mayoritas konsumennya merupakan mahasiswa. Segmen itu membuat pedagang harus berhitung ulang sebelum menyesuaikan harga, sebab perubahan kecil saja bisa memengaruhi jumlah pembeli yang datang.

“Kita kan enggak semudah itu menaikkan harga. Segmen-nya mahasiswa,” ucap dia.

Dalam situasi seperti ini, pedagang bukan hanya dituntut menjaga kualitas dagangan, tetapi juga menjaga agar usaha tetap bertahan. Setiap keputusan menjadi serba terbatas karena kenaikan harga di hulu tidak selalu bisa dialihkan ke harga jual di hilir. Akhirnya, yang paling terasa adalah berkurangnya margin dan menyusutnya pendapatan bersih.

Bagi Harianto, kondisi itu sudah cukup untuk membuat aktivitas yang dulu dianggap ringan kini terasa berat. Pengeluaran kecil yang sebelumnya masih mungkin diambil dari sisa hasil jualan, kini harus ditiadakan. Bahkan hiburan sederhana seperti mancing pada akhir pekan pun ikut hilang dari daftar rutinitas karena tidak ada uang lebih yang bisa dipakai.

Di tengah tekanan tersebut, Harianto tetap berupaya menjalankan usaha seperti biasa. Namun cerita yang ia sampaikan menunjukkan bahwa kenaikan harga bahan baku tidak berhenti di angka-angka di lapak. Dampaknya merembet ke seluruh sisi kehidupan pedagang, dari omzet harian, pembayaran karyawan, sewa, cicilan utang, sampai kebutuhan pribadi yang paling sederhana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *