Hukum & Kriminal

BNPT Ungkap Grooming Anak untuk Rekrutmen Terorisme di Game Online

×

BNPT Ungkap Grooming Anak untuk Rekrutmen Terorisme di Game Online

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bukan Sekadar Main Game, BNPT Bongkar Modus Grooming Anak untuk Rekrutmen Terorisme

jurnalistik.co.id – Ancaman ekstremisme, menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), tidak selalu datang dari ruang-ruang yang tertutup. Dalam penilaiannya, dunia digital—termasuk game online—dapat dimanfaatkan sebagai jalur untuk mendekati dan merekrut anak-anak.

Komjen Pol (Purn.) Eddy Hartono menyampaikan hal tersebut saat berkunjung dan meninjau pelatihan yang dilaksanakan di Ponpes Al Muttaqin Jepara pada Rabu, 12 Agustus 2026. Ia menekankan bahwa persoalan ini menuntut pencegahan sejak dini.

“Anak-anak yang di bawah umur yang akan melakukan kegiatan—kalau enggak dicegah, itu akan melakukan kegiatan terorisme,” ujar Eddy Hartono di sela kegiatan.

Dalam pemaparan BNPT, selama dua tahun terakhir sekitar 250 anak di bawah umur disebut terpapar ekstremisme. Eddy menilai angka itu menunjukkan perlunya langkah pencegahan sekaligus mitigasi yang lebih terarah.

Eddy menjelaskan, paparan terhadap anak tidak selalu dimulai dengan konten propaganda yang terang-terangan. Menurutnya, pendekatan bisa berawal dari aktivitas yang terlihat biasa, seperti bermain game dan melakukan percakapan dengan sesama pemain.

Salah satu platform yang mendapat perhatian adalah Roblox. Eddy mengatakan BNPT bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah melakukan koordinasi dengan pihak platform terkait fitur komunikasi, termasuk voice chat.

Ia menyatakan bahwa fitur komunikasi di dalam game dapat digunakan untuk melakukan grooming. Dalam penjelasannya, grooming dipahami sebagai proses membangun kedekatan dan kepercayaan dengan seseorang yang lebih dulu ditetapkan sebagai target.

“Grooming itu mengumpulkan supaya nanti bisa disusupi oleh simpatisan jaringan terorisme untuk melakukan rekrutmen,” jelas Eddy Hartono.

Ragam awal pendekatan, lanjut Eddy, sering kali dimulai dari kesamaan minat di dalam permainan. Ketika hubungan sudah terbentuk, target kemudian diarahkan untuk meninggalkan platform tersebut.

Setelah perpindahan dilakukan, proses berikutnya terjadi di ruang komunikasi lain. Eddy menyebut contohnya seperti WhatsApp, Telegram, email, atau grup komunikasi lain yang memungkinkan interaksi lebih intens.

Di tahap ini, anak yang pada mulanya hanya berpartisipasi dalam permainan kemudian berhadapan dengan proses yang lebih serius. Eddy menilai pola tersebut dapat berlanjut pada normalisasi perilaku hingga doktrinisasi.

Dengan demikian, persoalan yang semula tampak sebagai aktivitas hiburan dapat berubah menjadi rangkaian pendekatan yang memudahkan masuknya pengaruh ekstrem. Eddy mengingatkan bahwa pencegahan perlu dilakukan sebelum proses grooming berjalan lebih jauh.

Paparan Eddy Hartono di Jepara juga memberi penegasan bahwa penanganan ekstremisme tidak cukup hanya berfokus pada tindakan yang kasat mata. Upaya yang melibatkan pemahaman pola digital dan koordinasi lintas pihak menjadi penting untuk meredam risiko terhadap kelompok rentan, terutama anak-anak.

BNPT memandang bahwa penetrasi pengaruh ekstremisme dapat berkembang melalui proses yang bertahap. Tidak semua interaksi yang terjadi di ruang digital langsung mengarah pada ajakan teror, namun bisa bermula dari aktivitas yang tampak netral dan terus diarahkan pelan-pelan sampai masuk ke tahap yang lebih sensitif.

Dalam konteks itu, komunikasi di dalam gim menjadi perhatian karena memberi ruang bagi pembentukan kedekatan. Eddy menegaskan bahwa pihak terkait, termasuk Komdigi, melakukan koordinasi dengan penyedia layanan agar fitur komunikasi—termasuk voice chat—dipahami risikonya dan dapat diawasi lebih baik dari sisi pencegahan.

Eddy juga menyoroti bahwa pola hubungan yang terbentuk antarpemain kerap dimanfaatkan untuk memperkuat kepercayaan. Setelah kedekatan terbangun, target kemudian diarahkan untuk beralih ke kanal lain yang memungkinkan percakapan lebih intens, sehingga kontrol pencegahan menjadi lebih sulit bila dilakukan terlambat.

Ia menambahkan, setelah perpindahan ke aplikasi percakapan seperti WhatsApp, Telegram, atau email, eskalasi dapat terjadi dalam bentuk normalisasi perilaku. Dengan pola yang sama, anak yang semula hanya terlibat dalam permainan bisa menghadapi proses yang makin serius hingga mengarah pada doktrinasi.