Hukum & Kriminal

Christian Purslow Peringatkan Sengketa Manchester City vs Premier League Bisa ‘Spiral Out of Control’

×

Christian Purslow Peringatkan Sengketa Manchester City vs Premier League Bisa ‘Spiral Out of Control’

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Manchester City charges: Legal fight could spiral out of control, says former executive

jurnalistik.co.id – Christian Purslow, mantan eksekutif klub besar Inggris, memperingatkan bahwa perkara Manchester City vs Premier League berpotensi berkembang menjadi “spiral out of control”. Ia menilai rangkaian dampaknya bisa berujung pada situasi yang “appalling for the game”.

Purslow menyoroti fakta bahwa City dinyatakan bersalah atas sebagian besar dari 115 dakwaan yang diajukan Premier League. Menurut laporan BBC Sport, tuduhan tersebut mencakup beragam pelanggaran aturan yang berpusat pada klaim City diduga menggelembungkan pemasukan sponsor dari perusahaan yang memiliki hubungan, serta melakukan pembayaran “off the books” untuk mengakali ketentuan keuangan sepak bola.

Dalam konteks ini, Purslow menekankan bahwa proses hukum dan konsekuensinya tidak hanya berhenti pada satu putusan. Ia melihat kemungkinan munculnya serangkaian reaksi lanjutan yang memicu ketidakpastian jangka panjang, terutama bagi kompetisi yang selama ini berjalan dengan struktur dan perhitungan yang ketat.

Premier League, menurut BBC Sport, disebut tengah menyiapkan nasihat hukum terkait kompensasi atas 115 dakwaan tersebut. Sementara itu, City diberitakan akan mengajukan banding, dan hingga kini belum ada pengumuman resmi mengenai jenis sanksi yang akan diberikan.

Namun, dampak yang mungkin muncul disebut beragam, mulai dari pengurangan poin, kemungkinan dikeluarkan dari Premier League, hingga denda dalam jumlah besar. Persoalan itu, bagi Purslow, berhubungan langsung dengan bagaimana perbedaan hasil klasemen bisa “menggulung” kerugian kompetitif dari musim ke musim.

Berbicara di program Today BBC Radio 4, Purslow tampil bersama ahli hukum sepak bola Paul Gilroy KC. Gilroy menyebut kasus ini sebagai “seismic moment for world football”, sementara Purslow merangkum kekhawatirannya melalui pertanyaan besar: “It’s a sort of ‘where does this end?’”.

Purslow menjelaskan logikanya dengan menautkan pelanggaran yang diketahui terjadi pada sembilan musim. Ia mengatakan para rival City di setiap musim tersebut, “to differing extents”, turut mengalami dampak yang dapat dihitung dengan cara yang relatif jelas—termasuk nilai posisi klasemen.

Dalam kutipan yang disampaikan Purslow, ia menyebut, “Whether it was a place in the Premier League – every place was worth ÂŁ3m.” Ia juga mencontohkan skenario tim yang finis lebih rendah atau kehilangan kesempatan tampil di kompetisi seperti Liga Champions, termasuk konsekuensi untuk tim yang terdegradasi.

Purslow menambahkan, jika seluruh klaim itu dijumlahkan “over nine years”, dan secara khusus untuk periode di Premier League, maka “the potential here for this to spiral out of control is huge”. Ia lalu menyampaikan harapan agar solusi dapat ditemukan dengan cepat melalui kesepakatan yang menyentuh substansi masalah, bukan memperpanjang ketidakpastian.

Ia berharap “common sense prevails here” dan ada “a comprehensive solution between the authorities and Manchester City that looks at all these issues and tries to draw a line in the sand”. Purslow memperingatkan bahwa “a never-ending waterfall of legal claims and uncertainties for another four or five years would be absolutely appalling for the game”.

Di sisi lain, Gilroy menyebut hingga saat ini terdapat empat klub yang mengajukan klaim perlindungan. Klaim tersebut disebut “reserving the right to claim compensation if City are found guilty”.

Premier League, menurut laporan yang sama, tidak memberikan komentar atas situasi ini dan prosesnya diposisikan masih berjalan. Manchester City sendiri juga disebut tidak menjawab secara langsung apakah mereka dinyatakan bersalah, melainkan menyampaikan bahwa “Premier League process remains ongoing with significant elements to be completed, and subject to strict confidentiality.”

Dalam pernyataannya, City menegaskan bahwa klub telah “diligently respected due process for eight years” dengan dasar keyakinan bahwa Premier League board dan eksekutif akan bertindak sebagai regulator independen, adil, dan berlandaskan prinsip yang bebas dari pengaruh pihak tertentu.

Selain itu, Lisa Nandy—Sekretaris Kebudayaan—mendesak Premier League agar menyelesaikan perkara dengan cepat. Ia mengatakan kepada BBC Radio 5 Live, “I think most football fans will be feeling that this is not a good moment for football as a whole”, dan menambahkan bahwa pendukung City akan merasa “very, very anxious” terhadap langkah berikutnya.

Nandy juga menilai situasi ini “very unsettling for football fans” dan berharap bisa dipulihkan secepat mungkin. Ia menegaskan, proses aturan tidak dapat diterapkan oleh pihak lain, melainkan harus diselesaikan oleh Premier League sendiri: “They have got to do it themselves and are going to have to resolve this as swiftly as possible – not just for the sake of Manchester City but for the sake of football.”

Kendati demikian, dampak putusan dan proyeksi sanksi turut memengaruhi pandangan berbagai tokoh. Mantan ketua City David Bernstein menyatakan perasaannya saat mendengar kabar tersebut melalui Times Radio. Ia menyebut dirinya merasa “absolutely awful” dan mengakui bahwa hukuman apa pun harus “more drastic” daripada sekadar denda.

Bernstein menyampaikan, “To see all this tarnished in this way is very sad,” sambil menyoroti bahwa proses yang sudah berlangsung terlalu lama membuat klub “playing with this cloud over its head”. Ia menekankan pentingnya agar banding tidak berlangsung bertahun-tahun, karena “I think that would be a disaster, not just for this particular case but for English football generally.”

Dalam pernyataan berikutnya, Bernstein menyebut bahwa uang saja tidak cukup: “All I would say is that money is not sufficient, it would have to be something, unfortunately, more drastic than that.”

Reaksi juga datang dari kalangan publik. Penyanyi Noel Gallagher mengatakan ia “shocked” dan peristiwa ini “quite sad” bagi pemain maupun penggemar. Ia menyatakan, “A little surprised when I heard it on the radio,” serta menambahkan bahwa ia terkejut karena klub selama ini “assured us all along that they vehemently denied any of these charges,” sebelum akhirnya “found guilty of all but one.”

Perkara ini juga mencakup periode kepemimpinan yang berbeda di City. Tuduhan tersebut disebut meliputi masa Roberto Mancini dan Manuel Pellegrini, serta dua tahun pertama era Pep Guardiola, yang meninggalkan klub di akhir musim terakhir setelah menjalani 10 tahun sebagai pelatih.

Dalam rentang yang ditutup oleh kasus ini, City disebut meraih delapan trofi: tiga gelar Premier League, tiga Piala EFL, satu Community Shield, dan satu Piala FA. Dengan sejumlah tokoh yang sama-sama menilai proses berjalan terlalu lama, perdebatan berikutnya kini berputar pada arah banding, jenis sanksi, dan kecepatan penyelesaian agar kompetisi tidak terus dibayangi ketidakpastian.