Hukum & Kriminal

“I want my brother back” — Mopreme Shakur menyebut persidangan pembunuhan Tupac tak bawa keadilan (BBC)

×

“I want my brother back” — Mopreme Shakur menyebut persidangan pembunuhan Tupac tak bawa keadilan (BBC)

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 'I want my brother back' - Tupac’s brother tells BBC murder trial won’t bring justice

jurnalistik.co.id – Menjelang pernyataan pembuka pada Senin, Shaimaa Khalil dari BBC duduk berbincang dengan Mopreme Shakur, saudara tiri Tupac Shakur, dalam rangkaian persidangan terkait dugaan pembunuhan Tupac pada 1996.

Dalam wawancara itu, Mopreme membawa sejumlah refleksi personal sekaligus pandangan tentang makna kasus yang kembali disorot di pengadilan. Ia menegaskan bahwa ia ingin “I want my brother back”, dengan nada yang menunjukkan kerinduan yang belum juga padam.

Persidangan ini mengarah pada sosok yang dituduh melakukan pembunuhan terhadap rapper tersebut. Pada materi BBC yang menyertai tayangan, tersangka yang dimaksud disebut sebagai Duane “Keffe D” Davis, sebagaimana konteks pengadilan dalam pemberitaan terkait kasus Tupac.

Di tengah proses hukum yang berjalan, Mopreme menyoroti bagaimana warisan Tupac tetap hidup setelah tiga dekade lebih berlalu. Ia merefleksikan peninggalan sang rapper 30 tahun setelah kematiannya, sekaligus menggambarkan bagaimana pengaruh Tupac terus terasa dalam berbagai lapisan budaya.

Bagi Mopreme, perjalanan waktu tidak menghapus kenangan—ia justru menggunakan momen persidangan ini untuk mengulang kembali bagian-bagian yang membekas dari malam penembakan. Ia menyampaikan pengalamannya, termasuk ingatan tentang bagaimana peristiwa itu terjadi dan bagaimana dampaknya bertahan hingga saat ini.

Ia juga menuturkan seperti apa rasanya tumbuh bersama figur yang kemudian dikenal sebagai salah satu sosok paling berpengaruh dalam hip-hop. Lewat cerita itu, Mopreme tidak hanya berbicara tentang nama besar Tupac, tetapi juga tentang kedekatan yang pernah ada dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam wawancara tersebut, ia menggambarkan bahwa menunggu proses pengadilan bukan sekadar soal prosedur, melainkan bagian dari harapan yang bercampur duka. Pernyataan Mopreme memperlihatkan posisi emosionalnya yang tetap menempel pada inti kehilangan: keinginan untuk memulihkan sosok yang telah pergi.

Di sisi lain, Mopreme juga menyampaikan sikap yang menekan pada aspek moral dari proses hukum. Ia menyatakan bahwa persidangan pembunuhan Tupac tidak akan membawa keadilan seperti yang semestinya diharapkan—sebuah penilaian yang terdengar tegas dan berangkat dari pengalaman serta kehilangan yang ia alami.

Kalimat “I want my brother back” menjadi penanda kuat dalam percakapan itu. Ungkapan tersebut bukan hanya kalimat cinta keluarga, melainkan juga ringkasan dari tujuan terdalam yang, menurut Mopreme, tidak dapat dicapai oleh langkah-langkah peradilan apa pun.

Dengan demikian, persidangan yang berlangsung pada Senin dan memasuki fase pernyataan pembuka tidak hanya menghadapkan masyarakat pada isu pidana, tetapi juga membuka ruang untuk melihat bagaimana sebuah kasus besar dapat memengaruhi orang-orang di lingkaran terdalam almarhum. Mopreme, sebagai saudara tiri, berbicara dari jarak yang tidak pernah sepenuhnya bisa dipulihkan.

Warisan Tupac dan jarak tiga dekade

Dalam percakapan dengan Shaimaa Khalil, Mopreme menekankan warisan Tupac yang bertahan meski kematian telah terjadi puluhan tahun lalu. Ia menyebut 30 tahun sebagai jeda yang panjang, tetapi juga menunjukkan bahwa pengaruh sang rapper tidak pernah benar-benar “selesai” bagi orang-orang terdekat.

Ia menempatkan warisan tersebut sebagai bagian dari ingatan yang tetap bekerja. Karena itu, ketika persidangan kembali berjalan, ia tidak memandangnya sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan sebelum dan sesudah tragedi, melainkan rangkaian yang terus bertumpuk dalam ingatan.

Mengulang malam penembakan

Selain membahas warisan, Mopreme juga menceritakan apa yang ia ingat tentang malam penembakan. Ia membagi pengalaman yang berkaitan dengan peristiwa itu, sebagai upaya untuk menata ulang kenangan yang sulit dihapus.

Di titik ini, wawancara memperlihatkan bahwa bagi Mopreme, proses pengadilan tidak menggantikan perasaan kehilangan. Ia seolah menempatkan persidangan sebagai panggung yang memunculkan kembali masa lalu, tanpa mengubah fakta bahwa Tupac tidak kembali.

Menggambarkan tumbuh bersama sosok berpengaruh

Mopreme juga berbicara tentang kehidupan saat tumbuh bersama Tupac, termasuk seperti apa rasanya berada di dekat salah satu figur paling berpengaruh dalam hip-hop. Cerita semacam itu memberi konteks yang lebih manusiawi, karena mengenang Tupac bukan hanya dari prestasi publik, melainkan juga dari kedekatan yang pernah ada.

Lewat penggambaran tersebut, ia menegaskan bahwa dampak Tupac tidak hanya hadir dalam karya, tetapi juga dalam cara ia dipandang dan diingat oleh orang-orang yang berada di sekelilingnya.

Secara keseluruhan, wawancara Mopreme Shakur menjelang pernyataan pembuka pada Senin memperlihatkan dua hal yang bergerak bersamaan: keinginan untuk “I want my brother back” dan keyakinan bahwa proses hukum tidak otomatis menghadirkan keadilan bagi luka yang sudah terlanjur menganga.

Persidangan dugaan pembunuhan Tupac pada 1996 yang menyoroti Duane “Keffe D” Davis, pada akhirnya, juga menjadi ruang bagi Mopreme untuk mengartikulasikan duka, memandang warisan 30 tahun setelah kematian, dan menuturkan kembali malam penembakan serta pengalaman tumbuh bersama Tupac—dengan pesan yang terasa pribadi, namun tetap menjadi bagian dari catatan panjang kisah Tupac di mata publik.