jurnalistik.co.id – Dua pertunjukan Kanye West di St Petersburg telah dibatalkan secara resmi. Kepastian ini datang setelah beberapa minggu muncul ketidakjelasan menyusul sengketa terkait status penyewaan venue.
West, yang sebelumnya dikenal sebagai Kanye West, dijadwalkan tampil di Gazprom Arena pada 10 dan 11 Oktober. Namun, menjelang konser, pihak stadion sebelumnya menyatakan bahwa lokasi tersebut tidak akan menjadi tempat penyelenggaraan untuk rencana pertunjukan terbesar artis Barat sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 2022.
Dalam unggahan yang dibagikan melalui aplikasi pesan Telegram, penyelenggara acara dari Say Agency mengonfirmasi bahwa konser tidak dapat dilanjutkan. Mereka menyampaikan “sincere regret” atas pembatalan tersebut, serta menyebut bahwa pihaknya akan menerbitkan pernyataan resmi mengenai status proyek.
Say Agency menulis, “The Ye concerts in St Petersburg will not be able to take place on the scheduled dates,” kemudian menambahkan, “We will issue an official statement regarding the status of the project and our plans in the near future.”
Pembatalan ini berhubungan dengan penjelasan Gazprom Arena yang disampaikan pada bulan Agustus. Stadion menyatakan tidak menandatangani perjanjian sewa dengan promotor konser, sehingga pertunjukan tidak bisa berlangsung di situs mereka.
Sebelumnya, Say Agency mengatakan tengah berupaya menyelesaikan persoalan dengan stadion agar acara tetap dapat digelar. Meski demikian, pada akhirnya kesepakatan tidak tercapai, dan informasi mengenai kelanjutan proyek tidak dapat diberikan sesuai rencana awal.
Selain soal perjanjian sewa, Gazprom Arena juga mengakui bahwa mereka menerima keluhan terkait penampilan West. Konteks ini muncul di tengah rangkaian kontroversi yang menyertai perjalanan konser West di berbagai negara.
Dalam beberapa waktu terakhir, West pernah meminta maaf atas komentar-komentar yang dinilai antisemitik serta pro-Nazi di masa lalu. Ia menyatakan telah “lost touch with reality” sebagai dampak dari gangguan bipolar yang ia derita.
Berita Terkait
Reaksi dari pejabat dan persoalan yang menyertai rencana konser
Rencana konser tersebut juga mendapat sorotan dari pihak berwenang Rusia. Maria Zakharova, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, mengkritik rencana pertunjukan itu dan menyebutnya tidak dapat diterima, sekaligus menyoroti “glorification” dari Hitler.
Pada 2025, West juga memulai penjualan kaus bergambar swastika dan merilis lagu berjudul Heil Hitler. Dalam pemberitaan terkait, sejumlah blogger pro-perang di Rusia juga mempertanyakan apakah negara mereka seharusnya menampung artis Amerika, sementara Amerika Serikat memberi dukungan finansial dan bantuan militer untuk Ukraina.
Sampai berita ini dimuat, West belum memberikan komentar publik mengenai pembatalan konser tersebut. Dengan kata lain, kepastian yang keluar berasal dari pernyataan penyelenggara dan posisi yang telah disampaikan pihak stadion sebelumnya.
Di luar Rusia, West juga menjalani rangkaian jadwal tur internasional yang berlanjut setelah konser utama pertamanya di Amerika Serikat dalam lebih dari lima tahun. Konser besar tersebut berlangsung di Los Angeles pada bulan April, dan setelahnya ia tampil di sejumlah negara termasuk Spanyol, Portugal, serta Belanda.
Namun, pembatalan konser West di Rusia bukan satu-satunya kejadian. Musim panas lalu, ia direncanakan menjadi headliner di Wireless Festival di London, tetapi ia dilarang masuk ke Inggris sehingga penyelenggara terpaksa membatalkan keseluruhan acara.
Konser West juga dilaporkan dibatalkan di Polandia, Italia, dan Prancis. Rangkaian pembatalan itu menunjukkan bahwa kontroversi yang menyertai figur West terus memengaruhi keputusan penyelenggara, otoritas, serta ketersediaan lokasi di berbagai negara.
Dengan pembatalan resmi ini, jadwal dua konser West di Gazprom Arena yang semula diproyeksikan pada 10 dan 11 Oktober tidak lagi berjalan. Pihak penyelenggara menyatakan ketidakmungkinan pelaksanaan sesuai tanggal yang sudah direncanakan, sekaligus memberi sinyal bahwa pengumuman resmi akan dikeluarkan untuk merinci status proyek serta langkah yang dipersiapkan setelahnya.
Kasus ini juga memperlihatkan bagaimana faktor kontrak sewa dan tanggapan terhadap kontroversi yang menyertai West sama-sama berpengaruh pada keputusan lokasi dan otoritas. Penolakan yang mengacu pada pernyataan Gazprom Arena pada Agustus kembali menjadi dasar, sementara sorotan dari pejabat Rusia—termasuk kritik Maria Zakharova—muncul di tengah ketegangan yang sebelumnya telah melibatkan berbagai pembatalan konser di beberapa negara, termasuk Inggris, Polandia, Italia, dan Prancis.






