Hukum & Kriminal

Travelodge dinilai gagal lindungi korban pelecehan seks di Maidenhead: ‘at every stage’

×

Travelodge dinilai gagal lindungi korban pelecehan seks di Maidenhead: ‘at every stage’

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – Sebuah peninjauan independen menyimpulkan bahwa Travelodge “fundamentally failed” seorang korban pelecehan seks di Maidenhead pada “at every stage”. Penilaian itu berangkat dari serangan yang terjadi di hotel Travelodge setempat pada Desember 2022.

Dalam laporan tersebut, barrister Paul Greaney KC menyatakan bahwa kebijakan keamanan yang diterapkan rantai hotel saat serangan berlangsung tidak memadai untuk melindungi tamu. Ia menilai kebijakan itu “not fit for the purpose of keeping guests safe”.

Greaney menyebut inti masalahnya ada pada cara keamanan dijalankan, termasuk bagaimana akses ke kamar diberikan pada pelaku. Korban, kata peninjauan itu, diserang oleh seorang pria yang sebelumnya memperoleh kunci untuk masuk ke ruang hotel.

Peninjauan juga menegaskan bahwa hotel tetap belum memberikan tingkat perlindungan yang seharusnya. Meski peristiwa telah terjadi, laporan menyatakan para tamu “still not as safe as they should be”.

Temuan lain yang disebutkan berkaitan dengan insiden intrusi kamar. Peninjauan menyebut adanya laporan penyusupan kamar pada hampir “one in 10” hotel Travelodge selama musim panas ini.

Angka tersebut mengindikasikan bahwa, menurut peninjauan, risiko akses yang tidak semestinya masih muncul secara berulang. Dalam konteks keamanan, situasi seperti itu dianggap menjadi sinyal kegagalan sistem pencegahan di tingkat operasional.

Selain soal intrusi, laporan juga menyoroti aspek perlindungan terhadap kekerasan berbasis gender. Greaney menyatakan bahwa pada saat itu tidak ada kebijakan yang diterapkan untuk menangani kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, sebagaimana disebut dalam peninjauan.

Dengan kata lain, penilaian independen menilai Travelodge tidak memiliki kerangka kebijakan yang secara spesifik mengatur respons terhadap kategori kekerasan tersebut. Ketiadaan kebijakan itu diposisikan sebagai kekurangan struktural yang turut berkontribusi pada lemahnya perlindungan.

Greaney menempatkan kritiknya pada seluruh tahapan penerapan kebijakan, bukan hanya momen setelah kejadian. Itulah sebabnya, rangkuman yang ia sampaikan menggunakan frasa “at every stage”, yang merujuk pada evaluasi menyeluruh atas bagaimana proses keamanan berjalan.

Di sisi lain, laporan menyatakan Travelodge telah memberikan permintaan maaf. Perusahaan disebut telah “apologised ‘unreservedly’” kepada perempuan yang menjadi korban.

Peninjauan juga tidak sepenuhnya menutup apresiasi terhadap langkah setelah kritik muncul. Di dalam laporan itu, peninjauan memberi pengakuan bahwa Travelodge telah melakukan perubahan sejak bulan Maret.

Pernyataan tentang perubahan sejak Maret tersebut tercantum sebagai bagian dari penilaian, meskipun kesimpulan akhirnya tetap tegas terkait kegagalan pada masa ketika serangan terjadi. Dengan demikian, laporan membedakan antara respons perbaikan belakangan dan standar keamanan pada periode serangan Desember 2022.

Greaney KC, melalui penilaian independen itu, menegaskan bahwa standar kebijakan yang ada pada saat serangan tidak memenuhi tujuan keselamatan tamu. Penilaian ini sekaligus menggarisbawahi bahwa kegagalan tidak boleh dianggap sebagai insiden terisolasi, melainkan merupakan masalah penerapan.

Dalam narasi peninjauan, akses kunci ke kamar menjadi salah satu fokus penting. Ketika seorang pria yang kemudian menyerang korban dapat memperoleh kunci, hal tersebut memperlihatkan adanya celah dalam mekanisme kontrol yang seharusnya mencegah akses yang berpotensi membahayakan.

Fakta bahwa peninjauan juga menyebut insiden intrusi kamar yang terjadi pada hampir satu dari sepuluh hotel Travelodge selama musim panas ini memperkuat argumen tentang berulangnya risiko. Artinya, bukan hanya prosedur pada satu titik waktu yang dipermasalahkan, tetapi juga konsistensi penerapan keamanan di berbagai lokasi.

Lebih jauh, keterangan tentang tidak adanya kebijakan untuk kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan menambah dimensi perlindungan yang dinilai belum tersedia. Dalam kerangka perlindungan tamu, keberadaan kebijakan semacam itu dianggap penting untuk membimbing tindakan pencegahan maupun penanganan.

Kesimpulan dan langkah setelahnya

Peninjauan independen itu pada akhirnya merumuskan bahwa Travelodge gagal melindungi korban “at every stage”. Pernyataan Greaney KC juga menempatkan kebijakan keamanan pada periode serangan sebagai “not fit for the purpose of keeping guests safe”.

Meski Travelodge disebut telah “apologised ‘unreservedly’” dan diakui melakukan perubahan sejak Maret, laporan tetap menyimpulkan bahwa pada saat serangan, perlindungan yang diperlukan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Di musim panas ini pun, laporan intrusi kamar masih tercatat “nearly one in 10” hotel, yang menunjukkan tantangan keselamatan yang belum sepenuhnya hilang.

Bagi para tamu, temuan-temuan ini menegaskan bahwa standar keamanan tidak cukup hanya lewat permintaan maaf atau perubahan belakangan. Yang menjadi sorotan peninjauan adalah apakah sistem yang ada, pada waktu kejadian, mampu mencegah masuknya pelaku dan melindungi perempuan dari kekerasan yang berulang.